
Andreas berlutut di depan Mella. Dia sudah memohon bahkan sampai meneteskan air mata dan berulang kali mengatakan menyesali perbuatannya pada Nisa, namun Mella masih bungkam. Dia tetap mengaku tidak mengetahui dimana tempat tinggal Nisa selama berada di batam.
"Aku janji tidak akan menyakitinya lagi. Aku hanya ingin meminta maaf padanya dan bertemu dengan putraku." Suara Andreas tercekat.
Kesalahannya mungkin terlalu fatal, bahkan tak pantas mendapatkan maaf dari Nisa. Tapi setidaknya dia ingin mengakui kesalahannya dan meminta maaf secara langsung pada Nisa.
Terlepas Nisa mau memaafkannya atau tidak, dia tak akan memaksanya. Yang terpenting dia benar-benar tulus ingin meminta maaf.
"Putramu yang mana.?!" Mella berkata ketus.
"Selama 3 tahun kamu meninggalkan Nisa, membiarkan dia bertahan hidup sendiri dalam keadaan hamil dan merawat putranya. Bagaimana bisa dengan mudahnya kamu menyebut dia sebagai putramu.?!" Cibir Mella kesal.
Sudah lama dia ingin meluapkan kekesalan pada Andreas yang telah menorehkan luka di hati sahabatnya itu.
Setelah 3 tahun menghilang tanpa kabar, bahkan berniat untuk menceraikan Nisa. Tiba-tiba Andreas memohon padanya untuk memberikan informasi tempat tinggal Nisa setelah mengatahui tentang keberadaan Kenzie.
Bagaimana mungkin Mella mau memberikan informasi pada Andreas setelah apa yang terjadi selama ini.
"Aku mohon,,,
"Pergilah.!! Percuma saja kamu berlutut, sampai kapanpun kamu tidak akan tau tempat tinggal Nisa.!" Setelah mengusir Andreas, Mella kembali masuk ke dalam apartemen dan mengunci pintunya.
Dia membiarkan Andreas kembali merenungi dan menyesali perbuatannya.
"Tuan, bagaimana kalau kita ke Batam saja." Aditya berbicara lirih. Dia memberikan solusi terakhir pada bosnya. Karna sepertinya Mella tidak akan pernah buka suara soal tempat tinggal Nisa.
Jadi jalan satu-satunya adalah dengan pergi langsung ke Batam meski belum mendapatkan informasi tentang alamat Nisa.
...*****...
Nisa tengah duduk di meja makan. Dia baru saja selesai sarapan saat tiba-tiba ponselnya berbunyi dan nampak Mella mengirimkan vidio padanya.
Kening Nisa berkerut, menatap dengan seksama rekaman cctv di depan pintu apartemen Mella.
Sorot matanya tampak nanar menatap sosok laki-laki yang tengah berbicara dengan Mella.
Bahkan ketika laki-laki itu bersujud di depan Mella, kedua manik mata Nisa tampak berkaca-kaca.
Nisa sudah tau apa yang sedang dilakukan oleh Andreas di apartemen Mella. Karna Mella juga menuliskan pesan di bawah vidio yang dia kirimkan itu.
Pesan yang mengatakan bahwa Andreas memohon padanya agar dia mau memberitahukan tempat tinggalnya.
__ADS_1
Nyatanya meski sudah dibuat sakit hati kedua kalinya oleh Andreas, masih saja terselip perasaan iba dan cinta yang sulit hilang. Tapi semua itu akan dia pendam sendiri, karna memberikan maaf pada Andreas tak akan pernah dia lakukan sekalipun Andreas akan berlutut padanya seperti Andreas berlutut pada Mella.
"Sudah terlambat Andreas, kamu sudah mati bagiku.!" Ucap Nisa penuh penekanan.
Nisa masih ingat bagaimana dia menatap penuh harapan pada Andreas ketika bertemu di bandara.
Namun saat itu juga harapannya di patahkan oleh keputusan Andreas yang memilih untuk menceraikannya.
Nisa membalas pesan itu. Dia meminta Mella untuk tidak memberikan informasi apapun pada Andreas.
Cukup pertemuan di bandara kemarin yang akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Andreas, karna dia enggan berurusan lagi dengannya.
Beranjak dari meja makan, Nisa bergegas menghampiri putranya di taman belakang yang sedang di suapi oleh asisten rumah tangga sekaligus pengasuh Kenzie.
Nisa mengukir senyum melihat putranya yang makan dengan lahap sembari bermain dengan kucing peliharaannya.
"Anak Momi pintar sekali makannya." Nisa berjongkok di depan Kenzie seraya mengusap wajahnya.
"Meong Momi,, meong,,," Kenzie menyentuh kucing itu dengan jari telunjuknya berulang kali.
"Iya sayang,," Nisa tersenyum gemas. Putranya itu terlihat penyayang pada semua kucing peliharaan di rumah mereka.
Bahkan sekalipun Kenzie masih balita, dia tidak pernah menyakiti kucing-kucing itu.
Cukup fisiknya saya yang mirip dengan laki-laki tak berperasaan itu.
"Ara,, sepertinya hari ini aku pulang terlambat. Kalau Kenzie bosan, ajak saja dia pergi ke taman nanti sore." Nisa berpesan pada wanita muda yang hampir 3 tahun bekerja dengannya.
"Baik Bu,," Jawab Tiara. Gadis berusia 19 tahun yang kerap di panggil Ara oleh Nisa.
"Momi ke kantor dulu ya Zie,," Nisa pamit pada putranya seraya mengulurkan tangan. Kenzie memang sudah mengerti dan selalu mencium tangan Mominya setiap kali Mominya akan berangkat ataupun pulang kerja.
"Ti-hati Momi,,," Kenzie lantas melambaikan tangannya selepas mencium tangan Nisa.
Balita berusia 2 tahun itu cukup pengertian. Kenzie tak pernah menangis ataupun merengek minta ikut saat Nisa akan berangkat ke kantor.
Sepertinya Kenzie sangat memahami keadaan sang Momi. Dia enggan menyusahkan Mominya.
...*****...
Batam,,,
__ADS_1
Andreas baru menginjakkan kakinya di Batam beberapa menit yang lalu. Saat ini dia sedang dalam perjalanan menuju ke hotel.
Dia memutuskan untuk menginap di hotel sampai berhasil menemukan keberadaan istri dan anaknya.
Tanpa informasi apapun yang dia miliki untuk mencari keberadaan Nisa dan putranya, Andreas datang ke Batam dengan harapan yang tinggi.
Harapan untuk bisa bertemu dengan mereka.
Berbekal nama bisnis milik Nisa yang berada di Jakarta, Andreas bermaksud untuk mencari informasi tentang bisnis serupa di kota ini.
Dia yakin akan mendapatkan petunjuk jika berhasil menemukan bisnis milik Nisa.
Karna Nisa tidak mungkin bertahan di Batam tanpa memiliki usaha untuk menghidupi dirinya sendiri dan putra mereka.
"Terimakasih Ditya sudah membantuku,," Untuk pertama kalinya Andreas mengutarakan rasa terimakasih pada asisten pribadinya itu dari lubuk hati yang terdalam.
Aditya sudah menemani dan mendukungnya sejauh ini. Dia mau membantunya untuk mencari keberadaan Nisa dan putranya.
"Sudah kewajiban saya untuk melakukannya." Jawab Aditya sopan. Dia fokus melajukan mobil mewah yang di sewa oleh Andreas selama mereka tinggal di Batam.
Sebagai sesama laki-laki yang pernah jatuh cinta, Aditya tak mungkin diam saja melihat bosnya merana dan tersiksa oleh perasaan cintanya.
Aditya tau betul bagaimana mencintai seseorang yang tak seharusnya kita cintai karna seseorang itu berhubungan dengan luka di masa lalu.
...*****...
Selesai membawa koper miliknya ke dalam kamar hotel, Andreas langsung meminta pada Aditya untuk berkeliling kota Batam. Dia tak mau menyia-nyiakan waktu selama berada disini.
Karna tujuannya datang ke Batam hanya untuk mencari keberadaan Nisa dan Kenzie.
"Sebaiknya kita ke pusat kota," Pinta Andreas setelah masuk ke dalam mobil.
Disana banyak perusahaan dan industri menengah. Dia berharap bisa menemukan bisnis milik Nisa di sana.
"Baik Tuan,,"
Aditya bergegas melajukan mobilnya meninggalkan hotel.
Sementara itu Andreas tak tinggal diam begitu saja. Dia terus mencari informasi lewat internet, berusaha mencari informasi tentang jenis bisnis yang di geluti oleh Nisa.
Dia sudah mengetik nama yang sama dengan nama bisnis Nisa di Jakarta, sayangnya di Batam tidak ada nama yang sama seperti itu.
__ADS_1
Jika takdir masih berpihak padanya, Andreas berharap dia bisa dipertemukan kembali dengan Nisa dan anak laki-laki yang ternyata adalah darah dagingnya sendiri.