
Nisa menatap buket bunga di tangannya. Dia mengambil kartu ucapan yang di sematkan di antara bunga-bunga cantik itu.
Kartu ucapan itu belum berani dia baca saat ada Andreas. Dan sekarang Nisa baru akan membacanya setelah Andreas masuk ke dalam kamar mandi.
Dear Annisa,,,
Aku tidak percaya dengan cinta dan pernikahan.
Tapi kehadiranmu mampu mematahkan ketidak percayaku pada dua hal itu.
Tetaplah di sampingku dan menua bersamaku.
Aku sangat mencintaimu.
Happy 4th month anniversary,,,
Andreas.
Kedua tangan Nisa tampak gemetar. Secarik kartu ucapan itu mampu meluluh lantakkan hatinya yang sebenarnya sangat lemah.
Semua rencana yang telah dia susun dengan sangat rapi seketika hancur begitu saja.
Tak terlintas lagi untuk melanjutkan rencana itu.
Masabodo dengan tujuan balas dendamnya pada Andreas, hatinya tak cukup kuat untuk menepis perasaan yang semakin hari semakin besar.
Dia tidak bisa menutup mata dan hatinya akan perlakuan manis dan ketulusan yang selama ini di tunjukkan oleh Andreas padanya.
Hati wanita mana yang tidak tersentuh jika mendapatkan perhatian besar dari seorang laki-laki.
Tanpa di sadari, buliran bening mulai tumpah membasahi pipi. Ada rasa sesak akibat penyesalan dalam hatinya. Menyesal karna selama ini tidak pernah mencoba untuk memaafkan dan melupakan kesalahan Andreas.
Sedangkan Andreas terlihat berusaha keras untuk mendapatkan cintanya, serta memintanya agar bisa saling menerima dan mencintai.
Namun karna hati Nisa hanya di penuhi dengan amarah serta dendam, Dia selalu mengabaikan semua pengorbanan yang dilakukan oleh Andreas demi mendapatkan cinta darinya.
__ADS_1
Nisa selalu berfikir bahwa laki-laki seperti Andreas tak pantas mendapatkan cinta darinya.
Tapi kini Nisa tak akan peduli lagi dengan kesalahan yang pernah di lakukan oleh Andreas. Dia akan memaafkannya, lalu memulai semuanya dari awal seperti yang sering di inginkan oleh Andreas.
Lupakan soal dendam dan sakit hati, yang terpenting saat ini adalah kenyamanan dan kebahagiaan yang dia rasakan selama hidup bersama Andreas.
Derap langkah milik Andreas membuat Nisa mengangkat wajahnya. Di lihatnya Andreas tengah berjalan ke arahnya.
Kecemasan tampak terlihat di wajah Andreas kala melihat Nisa menangis.
Andreas mempercepat langkahnya. Bersamaan dengan itu, Nisa berdiri dari duduknya dengan kedua tangan yang masih memegang buket dan kartu ucapan.
"Ada apa.?" Tanya Andreas panik. Dia langsung menarik Nisa dalam dekapan, begitu juga dengan Nisa yang langsung menghambur ke pelukan Andreas.
Nisa terus menangis, namun dia berusaha mengontrol tangisnya agar tidak pecah.
Meski dia sudah memutuskan untuk memulai hubungan dari awal, tapi dia tak akan mengatakan pada Andreas bahwa dia memiliki niatan untuk balas dendam padanya.
Nisa akan menutupnya rapat-rapat dan hanya akan menjadi rahasia di antara dia dan Mella.
"Sssttt,,, berhenti menangis, aku tidak suka melihatmu sedih seperti ini." Andreas mengusap lembut punggung Nisa untuk membuatnya lebih tenang.
Kini Nisa memahami 1 hal, bahwa semua perasaan bisa di sembunyikan di hadapan semua orang, tapi tidak dengan menyembunyikan cinta. Sekuat apapun kita berusaha untuk menyembunyikan perasaan cinta itu.
"Terimakasih untuk bunga dan ucapannya." Kata Nisa sembari melepaskan diri dari pelukan Andreas. Wanita cantik itu mengulas senyum di sela-sela pipinya yang masih basah karna air mata.
"Sayang sekali ucapannya terlalu singkat,," Ujar Nisa dengan candaan. Dia terkekeh kecil.
Andreas sedikit terkejut mendengar pengakuan Nisa. Dia pikir ada masalah besar yang membuat Nisa sampai banjir air mata, tapi rupanya hanya karna membaca ungkapan singkat darinya.
Tapi ucapan singkat yang dia buat cukup memakan waktu. Dia harus berfikir berulang kali saat akan menulisnya.
Karna sejujurnya dia bukan tipe laki-laki romantis yang bisa mengungkapkan perasaan lewat tulisan ataupun ucapan puitis.
"Singkat saja bisa membuat kamu banjir air mata seperti ini," Jawab Andreas sembari mengusap air mata di pipi Nisa.
__ADS_1
"Kamar kita bisa banjir kalau aku menulis ucapan panjang lebar," Ledeknya.
Bibir Nisa mencebik, dia memukul pelan dada bidang Andreas. Ekspresi wajahnya yang kesal bercampur malu membuat Andreas tersenyum gemas.
"Sebaiknya mandi, aku akan mengajakmu ke suatu tempat." Kata Andreas. Dia mengambil buket bunga dan kartu ucapan dari tangan Nisa, lalu meletakkan di atas meja yang ada di sampingnya.
"Mau kemana.? Kita baru saja sampai,," Tanya Nisa. Walaupun sedikit tidak setuju akan pergi lagi, tapi dia tidak menolak saat Andreas menggandeng tangannya menuju kamar mandi.
"Dinner romantis,," Jawab Andreas yang berbisik di telinga Nisa.
Dia membuat bulu kuduk Nisa meremang lantaran hembusan nafasnya terasa membelai di sekitar bagian telinganya.
"Kenapa tidak di rumah saja.? Aku akan memasak makanan kesukaanmu." Tawar Nisa. Dia enggan keluar lantaran suasana hatinya masih sedikit kacau. Suasana yang sepi dan tenang sangat dia butuhkan saat ini.
Tapi sayangnya Andreas menolak, dia bersikeras untuk makan malam di luar.
...*****...
"Untuk apa bawa baju ganti.?" Nisa mengerutkan kening saat melihat Andreas memasukkan baju ke dalam tas.
"Kamu akan tau nanti." Jawab Andreas. Dia malah membuat Nisa semakin penasaran.
"Jangan bilang kita mau menginap di,,,
"Benar sekali." Potong Andreas cepat. Dia menutup tas dan langsung beranjak sembari menggandeng tangan Nisa yang tampak tak bisa memberikan komentar lagi.
Wanita itu hanya mengukir senyum tipis. Rupanya diam-diam Andreas selalu merayakan hari jadi mereka setiap 1 bulan sekali. Sekarang Nisa baru sadar kenapa setiap bulan Andreas selalu mengajaknya menginap di hotel.
Tapi sebelumnya Andreas tidak pernah memberikan buket bunga atupun ucapan padanya, itu sebabnya Nisa tidak berfikir kalau cara menginap di hotel itu sebagai perayaan pernikahan mereka.
Keduanya sudah berada di dalam mobil, Andreas melajukan mobilnya keluar dari area apartemen.
Nisa menoleh, dia menatap lekat wajah Andreas. Kekagumannya pada laki-laki tampan itu semakin tidak terkendali saja. Terlalu banyak kelebihan dalam diri Andreas, yang membuat Andreas begitu sempurna di mata Nisa.
"Aku memang tampan, tapi tidak perlu menatapku seperti itu." Tegur Andreas. Dia mengulum senyum melihat Nisa yang sejak menatapnya.
__ADS_1
"Kepercayaan dirimu tinggi sekali." Balas Nisa. Dia pura-pura santai, tapi sebenarnya sedang menahan malu karna ketahuan menatap wajah Andreas dengan tatapan mengagumi.
Andreas hanya tersenyum, lalu kembali fokus menyetir.