
"Astaga.! Dia benar-benar menyusahkan." Aditya mengumpat kesal.
Dia baru kembali ke rumah Nisa setelah membeli makan siang. Tapi baru turun dari mobil, satpam. di rumah Nisa menghampirinya dan mengatakan kalau Andreas di larikan ke rumah sakit karna pingsan.
Masuk kembali ke dalam mobil dan menutupnya sedikit kasar, Aditya bergegas pergi ke rumah sakit yang di maksud oleh satpam tadi.
Rasa kesal bercampur kasihan menjadi satu. Rasanya dia ingin sekali menyuruh bosnya itu untuk berhenti bersikap bodoh.
Untuk apa sejak kemarin sore hingga siang duduk di depan rumah tapi hasilnya nihil.
Tak membuat Nisa mau keluar untuk menemuinya.
"Cinta memang membuat seseorang kehilangan akal sehat." Gumamnya sambil fokus menyetir.
Dia menggunakan maps untuk menuju lokasi lantaran baru pertama kali pergi ke Batam dan sama sekali tidak tau dengan nama rumah sakit tersebut.
...*****...
"Silahkan isi form dulu,," Seorang petugas tumah sakit menyodorkan form pada Tiara setelah Andreas di larikan ke UGD.
Tiara tentu bingung dan ragu menerima form itu. Bagaimana dia bisa mengisinya sedangkan nama laki-laki itu saja dia tidak tau.
"Maaf Sus, saya tidak mengenalnya. Dia pingsan di depan rumah majikan saya."
"Mungkin sebentar lagi kerabatnya akan datang." Terang Nisa.
Petugas itu tampak memaklumi dan meminta Tiara untuk menyerahkan form itu jika kerabat pasien sudah datang ke rumah sakit.
"Baik suster, terimakasih."
Tiara menghampiri Pak Dito yang duduk di depan ruang UGD. Dia lantas duduk di samping Pak Dito dengan 2 selembar form di tangannya.
"Pak, coba hubungi Kak Aldo. Apa teman orang itu sudah kembali. Dia harus segera kesini untuk mengisi formnya." Kata Tiara seraya menunjukkan kertas di tangannya pada Pak Dito.
...****...
"Di mana aku harus mencari Tuan Andreas." Aditya kebingungan saat masuk ke dalam rumah sakit.
Dia lantas menanyakan pada petugas tentang keberadaan laki-laki yang tidak sadarkan diri saat di bawa ke rumah sakit.
"Sedang di tangani di UGD Pak. Ada di sebelah sana." Jawabnya seraya menunjuk arah dimana ruang UGD berada.
"Terimakasih," Aditya berlari menuju ruang UGD.
Ada 2 orang yang tengah duduk di depan ruangan itu. Seorang laki-laki paruh baya dan wanita muda.
Meski baru satu kali melihat laki-laki paruh baya itu, Aditya masih mengenalinya. Dia kemudian menghampiri mereka.
__ADS_1
"Maaf, apa Tuan Andreas masih di dalam.?" Tanya Aditya dengan suara maskulinnya.
Tiara menatap lekat, diam beberapa saat tanpa mengatakan apapun sampai suara Pak Dito menyadarkannya.
"Akhirnya anda datang juga."
"Bapak itu masih di periksa dokter, tadi perawat meminta Tiara mengisi form tapi kami tidak tau identitasnya." Terang Pak Dito seraya melirik Tiara yang duduk di sebelahnya.
"Tiara,," Bisik Pak Dito. Dia menyenggol lengan Tiara karna tak kunjung memberikan lembaran form pada Aditya. Gadis 20 tahun itu malah terus menatap Aditya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ha,? I,,Iiya ini formnya." Tiara terlihat kikuk, buru-buru tangannya menyodorkan form itu pada Aditya.
"Terimakasih. Maaf sudah merepotkan kalian." Aditya membungkuk sopan. Berterima kasih pada mereka sudah seharusnya dia lakukan karna mereka sudah menolong bosnya.
"Tidak apa, memang sudah tugas kami menjalankan perintah Bu Nisa." Pak Dito beranjak dari duduknya. Dia melirik Tiara sebagai isyarat untuk memintanya ikut berdiri karna harus segera kembali ke rumah. Tugasnya untuk mengantar laki-laki itu sudah selesai.
"Kalau begitu kami pamit dulu. Semoga Bapak itu lekas sehat." Ucap Pak Dito tulus.
"Ah iya terimakasih banyak." Aditya tak sungkan-sungkan mengatakan terimakasih berulang kali.
Pak Dito dan Tiara lantas beranjak dari hadapan Aditya. Namun baru beberapa langkah, panggilan Aditya membuat mereka menghentikan langkah dan berbalik badan.
"Tunggu.!"
Aditya menghampiri keduanya, namun berdiri tepat di depan Tiara. Membuat gadis itu tampak gerogi sekaligus kebingungan.
"Boleh saya bicara dengannya.?" Aditya meminta ijin pada Pak Dito untuk berbicara dengan Tiara.
"Ada apa.?" Tiara bertanya lirih selepas Pak Dito meninggalkan mereka.
"Sebaiknya kita duduk dulu." Aditya mengajak Tiara untuk duduk kembali di kursi sebelumnya.
Tiara mengekori laki-laki itu di belakang. Sedikit ragu dan takut karna sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki itu.
Tapi herannya Pak Dito malah memberikan ijin, seolah sudah mengenal siapa laki-laki itu.
"Begini, aku ingin meminta bantuanmu." Aditya menatap serius.
Mengingat kehidupan bosnya yang menyedihkan, dia berencana untuk ikut campur masalah pribadi bosnya. Ikut campur yang dia maksud adalah dengan berupaya mempertemukan keluarga kecil Andreas.
"Bantuan.?" Kening Tiara mengkerut. Dia merasa tidak punya apapun dan tak bisa melakukan apapun, tapi laki-laki yang terlihat berpendidikan itu malah ingin meminta bantuan darinya. Memangnya apa yang bisa di bantu dari orang biasa sepertinya.
"Apa kamu tau kalau laki-laki yang kamu bawa ke rumah sakit ini adalah suami Nona Nisa dan ayah dari anaknya.?"
Penuturan Aditya sontak membuat Tiara membuka mulut. Dia sangat terkejut mendengar perkataan Aditya. Antara percaya dan tidak.
Tapi mengingat laki-laki itu yang bersikeras ingin menemui majikannya sampai rela menunggu di luar rumah hingga seharian, rasanya tidak mungkin kalau laki-laki di harapannya ini berkata dusta.
__ADS_1
"Bapak tidak bohong kan.?" Tanya Tiara memastikan.
Aditya membulatkan mata lantaran di panggil Bapak oleh gadis di hadapannya.
"Bapak.? Memangnya tampangku seperti laki-laki yang sudah punya anak.?!" Nada protes Aditya.
"Tapi saya tidak bilang seperti itu." Tiara menjawab cepat. Jawaban yang membuat Aditya menelan ludah lantaran tak bisa membalasnya.
"Kakak, panggilan saya Kak atau Mas.!" Pintanya.
Tak mau memperpanjang urusan, Tiara memilih mengangguk.
"Sudah 3 tahun mereka berpisah, karna sebuah kesalahan pahaman. Tapi sebenarnya mereka masih saling mencintai." Terang Aditya dengan sedikit melebihkan cerita yang sebenarnya dia juga tidak yakin 100 persen. Karna dia tidak tau bagaimana perasaan Nisa pada Andreas saat ini setelah Andreas mengacuhkannya di bandara Jakarta tempo hari.
Saat itu Aditya bisa melihat kehancuran di mata Nisa ketika Andreas sejutu untuk mengurus bercerai dan tampa berkata apapun langsung pergi dari hadapannya.
"Demi putra mereka, apa kamu mau bekerjasama denganku.?" Aditya menatap memohon.
Anggap saja apa yang dia lakukan sebagai bentuk rasa terimakasih pada Andreas karna selama ini Andreas sangat baik padanya dan juga keluarganya.
Tiara tak langsung menjawab, dia masih berfikir keras untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangga majikannya. Karna selama ini dia berfikir majikannya sudah tidak memiliki suami. Dalam artian suaminya itu sudah meninggal dunia.
...******...
"Bagaimana Ara,,? Apa laki-laki itu sudah siuman.?" Tiara langsung di todong pertanyaan oleh Nisa setelah masuk ke dalam rumah.
Asisten yang merangkap sebagai baby sitter itu bukannya langsung menjawab tapi malah menatap intens kedua mata majikannya.
Mencari sesuatu yang di katakan oleh Aditya.
^^^"*Kamu bisa mencari tau sendiri apa majikanmu masih mencintainya atau tidak."^^^
"Aku akan sangat berterimakasih kalau kamu mau membantuku."
"Hubungi aku kalau kamu sudah memutuskannya*."
Aditya menyodorkan kartu nama padanya saat dia pamit pulang.
"Ara.? Kamu baik-baik saja.?" Nisa menepuk Pelan pundak Tiara.
"Hah ii,,iya Bu." Ucapnya gugup.
"Saya kurang tau. Tapi saat kami pulang, Bapak itu masih ada di ruang UGD." Jawabnya.
"Sepertinya sakitnya parah,," Ucap Tiara lagi.
Seketika Nisa terdiam beberapa saat, lalu bergegas pergi menghampiri Kenzie tanpa menanggapi ucapan Tiara lagi.
__ADS_1
"Untuk apa aku peduli.! Laki-laki kejam sepertinya memang pantas merasakan sakit."
Gumam Nisa seraya duduk di sebelah putranya yang dengan bermain.