Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 166


__ADS_3

"Masih memikirkan Kakak tiri kamu.?" Suara berat Aditya membuyarkan lamunan Tiara.


Gadis cantik itu mengangguk kecil, kemudian buru-buru melanjutkan pekerjaannya yang sebenarnya sedang mencuci piring sejak tadi. Tapi karna memikirkan soal ancaman Elena di hari pernikahannya, Tiara jadi melamun.


"Kak Elena memang seperti itu padaku sejak dulu." Lirih Tiara. Sebenarnya dia sudah biasa mendapatkan perlakuan buruk dari Elena, hanya saja masih bingung kenapa Elena harus meluapkan kekesalan padanya kalau memang merasa di bedakan.


Padahal dari segi pendidikan, Elena sangat beruntung karna bisa melanjutkan kuliah meski hasil dari kerja kerasnya sendiri.


Sedangkan Tiara memilih tidak melanjutkan kuliah karna ingin membantu kehidupan keluarganya.


"Kenapa dia sangat berbeda dengan Ibu kandungnya.?" Ujar Aditya heran. Padahal Mama Amira sangat baik dan terlihat tulus. Tapi sikap Elena sangat jauh berbeda darinya.


Belum lagi setelah Aditya membayar seseorang untuk mengawasi Elena sejak kemarin malam. Dia mendapati fakta yang mencengangkan soal Elena.


"Sebenarnya Kak Elena baik. Dia hanya memiliki prasangka buruk saja pada kami, jadi berfikir kalau dia tidak di perhatikan oleh Ayah dan Mama." Tiara memberikan pembelaan untuk Elena. Selain itu, dia memang yakin kalau sebenarnya Elena orang yang baik dan tulus.


"Baik apanya.?" Ucap Aditya yang tampak tidak setuju dengan pendapat Tiara tentang Elena.


"Kalau dia baik, mana mungkin dia jadi su,,," Aditya seketika menutup rapat mulutnya lantaran baru sadar hanya akan membuat kekacauan jika dia meneruskan ucapannya.


"Jadi apa.?" Tiara menatap penasaran. Dia sampai berhenti mencuci piring untuk menunggu jawaban dari Aditya.


"Maksudku jadi orang yang selalu berbuat buruk pada saudaranya sendiri." Aditya berdusta, meski ucapannya itu memang benar adanya. Tapi bukan itu yang sebenarnya akan dia ucapkan tadi.


"Sudahlah, lupakan saja soal Elena." Ujar Aditya untuk mengakhiri pembahasan. Dia lantas merogoh saku celana, mengeluarkan dompet dan mengambil kartu atm dari dalam sana.


"Pegang ini." Aditya menyodorkan kartu atm itu pada Tiara.


"Untuk apa.?" Tanya Tiara tanpa mau menerima kartu atm dari tangan Aditya.


"Aku sudah menjanjikan sepatu bola dan tablet untuk Saka, tapi tidak sempat membelinya." Tutur Aditya. Malam itu sebelum meninggalkan rumah orang tua Tiara, Aditya sempat mengobrol dengan Saka. Rupanya bocah itu sedang membutuhkan sepatu bola dan tablet.


"Nanti kamu saja yang belikan." Katanya seraya meletakkan paksa kartu atm itu di tangan Tiara.


"Apa.?!" Tiara tampak kaget. Dia juga malu pada Aditya. Takut Aditya berfikir macam-macam tentang keluarganya.


"Saka minta semua itu pada Kak Adit.? Tapi kenapa dia tidak bilang apapun padaku." Ujarnya.


"Tidak, bukan Saka yang memintanya. Tapi aku. sendiri yang ingin membelikannya."


"Dia hanya bercerita saja padaku, tidak bermaksud meminta sesuatu padaku." Tutur Aditya menjelaskan.


"Tapi,,,


"Pegang saja. Belikan apa yang Saka butuhkan. Jangan sampai dia kesal padaku karna tidak menepati janji." Potong Aditya cepat.


Tiara terpaksa mengiyakan perintah Aditya. Tapi kemudian dia meminta pada Aditya agar lain kali tidak perlu membelikan sesuatu untuk keluarganya.


"Ara,, tolong gendong Zie sebentar." Nisa tiba-tiba datang dan memberikan Kenzie pada Tiara.

__ADS_1


"Iya Bu." Sahut Tiara.


"Sudah mau berangkat ya Bu.?" Tanyanya seraya menatap Nisa yang sudah rapi. Begitu juga dengan Kenzie.


"Iya, 30 menit lagi harus berangkat ke bandara." Jawab Nisa.


"Saya mau ke kamar sebentar, ada yang belum di masukkan ke koper." Ujarnya kemudian bergegas pergi.


"Kak Adit tidak siap-siap.?" Tanya Tiara. Dia menatap Aditya yang masih santai.


"Barang-barang Ku sudah ada di dalam mobil. Tinggal berangkat saja." Jawabannya.


Tiara mengangguk paham.


"Main onti, main,," Rengek Kenzie. Dia meminta untuk pergi dari area dapur dengan mengarahkan jari telunjuknya ke pintu keluar.


"Oke,, kita main dulu sebelum Zie berangkat." Jawab Tiara.


"Di ruang bermain Zie saja. Biar aku temani." Pintar Aditya. Tiara menurut dan mereka bertiga pergi ke ruangan bermain Kenzie.


...*****...


"Dimana pilnya. Aku masih ingat meletakkannya disini." Nisa tampak membuka satu persatu laci di samping tempat tidur.


Dia baru ingat belum meminum pil itu. Bahkan beberapa tablet pil yang waktu itu sudah dia masukan kedalam koper juga tidak ada.


"Apa aku lupa menaruhnya.?" Gumamnya lagi.


Andreas hanya bisa menelan kasar ludahnya. Seketika merasa takut jika Nisa menyadari bahwa pil itu sengaja dihilangkan.


"Bagaimana ini." Lirih Andreas cemas. Dia memutar otak untuk mencari cara agar perhatian Nisa teralihkan.


Di saat yang bersamaan, Andreas melihat gelas di atas meja. Dia buru-buru mengambil gelas itu dan menjatuhkannya tepat di samping kakinya sendiri


Suara pecahan gelas itu sontak membuat Nisa menatap ke arah Andreas.


"Ya ampun Ndre,, kenapa.?" Tanya Nisa sembari berjalan cepat menghampiri Andreas.


"Aku tidak sengaja menyenggol gelas di atas meja." Jawab Andreas dengan memasang wajah meyakinkan. Dia kemudian berjongkok untuk memunguti pecahan gelas itu. Tapi tanpa di sengaja, pecahan gelas itu melukai jarinya hingga mengeluarkan darah.


"Sudah Ndre biar aku saja. Tangan kamu berdarah." Nisa menyuruh Andreas untuk bangun dengan menarik tangannya.


"Tidak apa, hanya luka kecil." Jawab Andreas tenang. Dia meraih tisu di atas meja dan di pakai untuk mengusap darah di jari tangannya.


"Sepertinya lukanya cukup dalam." Nisa menyentuh tangan Andreas sembari memperhatikan goresan di tangan Andreas.


"Duduk dulu, biar aku ambilkan betadine." Nisa mengambil kotak p3k yang ada di salah satu lemari. Dia kembali menghampiri Andreas, duduk di sampingnya dan mulai mengobati luka di tangan pria itu.


"Lain kali hati-hati." Ujar Nisa menasehati.

__ADS_1


"Kamu itu bukan Kenzie. Masa sampai menyenggol gelas segala." Omelnya.


Bukannya mendengarkan, Andreas justru mengulum senyum menatap lekat wajah Nisa dari jarak yang sangat dekat.


Wajah cantik yang di hiasi kecemasan itu, membuat Andreas merasakan kebahagiaan tersendiri.


Dia jadi tau kalau sebenarnya Nisa masih sangat mencintainya. Terbukti saat ini dia terlihat cemas hanya karna tangan Andreas terluka.


"Maaf sudah membuatmu cemas." Lirih Andreas.


"Ckk,, siapa juga yang cemas." Balas Nisa yang kini mendadak cuek. Wanita itu bahkan langsung melepaskan tangan Andreas padahal sejak tadi masih memegangnya walaupun sudah selesai memberikan betadine.


Andreas terkekeh kecil melihat Nisa berbohong. Sepertinya Nisa gengsi, hingga enggan mengakui kalau sebenarnya Nisa memang mencemaskan Andreas.


"Jangan bohong sayang, aku takut kamu mencemaskanku." Kata Andreas sembari menangkup kedua pipi Nisa.


"Apa susahnya mengakui.?" Desaknya dengan menahan tawa.


"Lepas Ndre,," Nisa menyingkirkan kedua tangan Andreas dari wajahnya.


"Ayo turun, kita harus berangkat sekarang." Ucapnya sambil beranjak dari sofa.


"Gelasnya biar Tiara saja yang membersihkan." Ujarnya lagi.


Andreas ikut beranjak dan menyusul Nisa. Dia bersorak dalam hati karna akhirnya Nisa lupa untuk mencari pil penunda kehamilan itu.


...*****...


"Kamu baik-baik saja.?" Aditya menyentuh pundak Tiara. Gadis itu malah bengong, padahal di minta Kenzie untuk bermain.


Tiara hanya menganggukan kepala, lalu mengukir senyum tipis yang terlihat di paksakan.


"Apa kamu sedih karna aku akan pergi.?" Tanya Aditya. Tiara tak langsung merespon, dia hanya diam sambil menatap wajah Aditya.


Hal itu sudah cukup membuat Aditya tau jawabannya.


"Hanya satu bulan, tidak lebih." Ucap Aditya. Pada akhirnya dia tau kalau Tiara mulai memiliki perasaan padanya.


Tiara mengangguk.


"Hati-hati di jalan." Ucapnya lirih. Dia membuang wajah ke arah lain, tapi Aditya langsung menarik dagu Tiara hingga kembali menatapnya.


Dalam hitungan detik, Aditya menyambar bibir Tiara tanpa permisi. Gadis itu sampai membulatkan matanya lantaran takut di lihat oleh Kenzie yang saat ini ada di sana.


Tiara langsung melirik ke arah Kenzie, untung saja Kenzie sedang sibuk bermain sendiri tanpa menatap ke arah nya.


Dengan cepat Tiara mendorong dada Aditya agar melepaskan ciumannya.


"Ya ampun Kak.! Ada Kenzie disini.!" Tegurnya dan reflek memukul dada Aditya.

__ADS_1


Aditya tampak mengulum senyum tanpa mengatakan apapun.


Ciuman singkat tadi akan menjadi penawar rindu selama berada di Amerika nanti.


__ADS_2