Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 97


__ADS_3

3 tahun kemudian,,,,


Los Angeles, Amerika Serikat. Seorang Ceo salah satu perusahaan terbesar disana tengah duduk di kursi kebesarannya.


Di atas meja kerjanya terdapat bingkai foto berukuran 4R. Laki-laki berusia 30 tahun itu menatap lekat foto yang sejak 3 tahun lalu mengisi meja kerjanya.


Seharipun tak pernah dia lewatkan untuk menatapnya.


"Maaf,,," Lirihnya dalam. Rasa sesak di dadanya tak kunjung hilang meski sudah 3 tahun berlalu.


Penyesalan selalu menghantui, membuatnya terus di landa kecemasan dan takut yang berlebih.


Hampir 3 tahun yang lalu, dia di diagnosa mengidap gangguan kecemasan.


Selama itu pula dia harus mengonsumsi obat setiap harinya.


Peristiwa 3 tahun lalu cukup mengguncang mental dan hatinya. Dia di hadapkan pada 2 hal yang sebenarnya tak bisa di pilih, namun ada alasan kuat yang membuatnya berada pada pilihan tak sesuai dengan kata hatinya.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamumannya. Dia menggeser bingkai foto itu ke sudut meja, dimana dia biasa meletakkannya di sana.


"Masuk.!!" Serunya.


Seorang laki-laki yang usianya tak jauh berbeda darinya, masuk ke dalam ruangan itu. Dia membungkut hormat pada bosnya, kemudian berjalan mendekat dan menyodorkan map hitam di atas meja.


“Ini berkas kerja sama kita dengan perusahaan Vin's Gruop yang harus di tanda tangani." Ucapnya seraya membuka map hitam itu, menunjukkan tempat yang harus di bubuhi tanda tangan.


"Hmm,, akan saya tanda tangani nanti."


Lelaki yang memiliki mata hazel itu hanya melirik sekilas pada berkas di hadapannya.


"Kamu boleh kembali." Titahnya. Dia menyuruh orang kepercayaannya untuk meninggalkan ruangan.


Teringat masa lalu membuatnya malas untuk melakukan apapun, dia juga tidak ingin di ganggu.


Menghabiskan waktu sendiri sering dia lakukan setiap kali bayangan itu muncul hingga mengganggu pikirannya.


"Baik Tuan. Tapi sebelumnya ada yang ingin saya sampaikan." Ucap Aditya. Laki-laki berusia 28 tahun itu sudah ikut dengan bosnya sejak masih berada di Indonesia. Dia sangat setia, mengikuti kemanapun bosnya itu pergi.


"Mengenai kerjasama dengan Vin's Group, CEO Vin's Group ingin anda datang ke Jakarta."


"Beliau tidak mau menjalankan proyek sbelum Anda menemuinya."


Aditya mengatakan dengan hati-hati lantaran dia paham kalau bosnya itu tak ingin menginjakkan kakinya lagi di kota yang penuh dengan luka hingga membuatnya trauma.


"Bukankah dia sudah setuju dengan kesepakatan yang aku buat.? Kenapa tiba-tiba memintaku untuk datang." Pemilik mata hazel itu menatap tajam.


Mendengar kata Jakarta membuat moodnya kacau. Ada amarah, kesedihan dan sakit yang bercampur jadi satu.

__ADS_1


"Maaf Tuan, sepertinya dia berubah pikiran."


"Apa perlu kita batalkan kerjasamanya.?" Aditya memberikan usul. Membatalkan kerjasama dengan perusahaan Vin's Group adalah satu-satunya cara agar bosnya itu tak perlu menginjakkan kaki di Jakarta.


Lelaki itu tampak diam untuk berfikir. Cukup lama di mempertimbangkan hal itu, sampai akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan rencana kerjasama yang sudah mereka buat sejak 1 bulan yang lalu.


...*****...


Jakarta,,,,


"Ya ampun Kenzie,, jangan lari-lari,," Seorang wanita tengah mengejar anak laki-laki berusia 2 tahun yang berlari di dalam ruangan kerjanya.


Anak tampan itu sedang mengejar kucing peliharan yang berlari kesana kemari akibat di kejar oleh Kenzie.


"Meong,, meong,," Ucap Kenzie seraya menunjuk kucing yang bersembunyi di bawah kolong sofa.


"Oke,, Oke,, kemari biar aunty ambilkan kucingnya."


Wanita itu menggendong Kenzie, mendudukkan Kenzie di sofa.


"Diam disini yah, aunty mau ambil kucingnya dulu." Pesannya pada bocah tampan nan menggemaskan itu.


Bocah yang baru saja menginjakkan kakinya di Jakarta 3 hari yang lalu.


"Iyah ty,,," Jawab Kenzie dengan wajah polosnya. Dia termasuk balita yang pintar dan penurut jika di suruh ataupun di nasehati.


"Kemari kucing nakal,, majikan kamu memanggilmu,," Ucapnya seraya memasukkan kedua tangan ke dalam kolong sofa.


"Kamu sedang apa.?" Suara berat laki-laki membuatnya kaget hingga reflek mengangkat kepala dan berakhir dengan kepalanya yang terbentur sudut meja.


"Ya ampun Om,, kamu membuatku kaget.!!" Dia mendelik kesal, menatap pria berusia 39 tahun yang tampak mengulum senyum geli setelah melihatnya terbentur sudut meja.


"Lagipula kenapa harus memasukkan kepala di bawah meja." Pria dewasa itu justru menyalahkan istri sirinya.


"Aku sedang mengambil kucing milik Kenzie. Kucingnya ada di bawah sofa."


"Tolong Om ambilkan kucingnya ya,," Pintanya dengan suara manja. Dia juga mengukir senyum manis untuk membuat suami rasa selingkuhannga itu mau menuruti perintahnya.


"Baiklah, tapi tidak gratis." Jawabnya yang kemudian langsung berjongkok di depan sofa.


Pria itu tampak semangat lantaran akan meminta imbalan setelah mengambilkan kucingnya itu.


"Aku tau. Lagipula malam ini jatah Om tidur di apartemen kan." Jawabannya pasrah.


Mengingat suaminya itu hanya akan menginap 1 minggu sekali di apartemennya.


Selesai mengambil kucing dan memberikannya pada Kenzie, mereka bertiga duduk bersama.

__ADS_1


Keduanya mengasuh Kenzie dan sesekali membuat Kenzi tertawa karna candaan mereka.


"Kapan kamu siap punya anak.?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulut pria dewasa yang berprofesi sebagai dokter obgyn itu.


Melihat tingkah Kenzie yang menggemaskan, dia jadi ingat dengan keinginannya pada istri keduanya.


"Bukannya Om sudah tau jawabannya.?!" Sahutnya kesal.


"Aku tidak mau jadi istri kedua, ceraikan dulu istri sah kamu." Dengan wajah yang cemberut, dia mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Bagaimana dengan putriku.? Dia masih membutuhkan Ibu dan ayahnya." Lagi-lagi jawaban itu yang selalu keluar.


"Aku bersedia merawat Nasya, Om. Lagipula istri Om juga tidak pernah mengurus Nasya kan.? Dia sibuk bekerja sampai mengabaikan kewajibannya sebagai istri dan Ibu.!" Gerutunya lirih.


Dia menatap Kenzie yang tampak sudah tertidur pulas dalam pangkuannya.


"Tapi aku,,,


"Sudahlah, aku tidak mau membahas hal ini lagi." Potongnya cepat. Dia kemudian beranjak dari duduknya seraya menggendong Kenzie.


"Aku mau memindahkan Kenzie di ranjang." Ucapnya kemudian beranjak dari sana. Dia akan membawa Kenzie ke ruangan kecil yang di lengkapi dengan tempat tidur.


"Mella,, dengarkan aku dulu." Dia mengejar langkah istrinya, namun mendapat larangan untuk tidak bersuara dan tidak ikut ke dalam ruangan itu lantaran takut membangunkan Kenzie.


"Jangan bahas masalah itu lagi, sebaiknya kita makan siang saja." Ucap Mella begitu kembali.


Dia menghampir suaminya yang tengah duduk di sofa.


"Maaf,,"


Keduanya sudah selesai menyantap makan siang yang di masak oleh Mella.


Suaminya itu sengaja datang ke kantor Mella hanya untuk makan siang bersama.


Berduaan di dalam ruangan tertutup, keduanya tampak saling menahan hasrat yang sudah lama tidak tersalurkan.


Entah siapa yang memulai, keduanya sudah bertukar saliva dengan gerakan menuntut.


"Astaga Mella, Pak Angga.!!" Seorang wanita berusia 25 tahun itu masuk kedalam ruangan dengan kedua mata yang membulat sempurna.


Dia telah memergoki pasangan suami istri bercumbu di dalam ruangan kerja.


Yang membuatnya semakin syok, di dalam ruang kerja itu ada putranya yang masih balita.


Keduanya langsung melepaskan ciuman dan bergeser menjauh.


"Ni,,Nisaa,, kamu sudah pulang," Ucapnya gugup.

__ADS_1


"Kenzie sedang tidur di kamar," Tuturnya dengan wajah memerah karna malu.


__ADS_2