Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 136


__ADS_3

"Momi,,, ayo sini,,," Dari tengah kolam renang, Kenzie melambaikan tangannya pada Nisa. Bocah tampan itu menyuruh Nisa untuk mendekat setelah Andreas membisikkan sesuatu padanya. Nisa tentu melihatnya, tapi tidak mendengar apa yang di katakan Andreas pada Kenzie.


Tak mau membuat putranya kecewa, Nisa bergegas berenang ke tengah untuk menghampiri Kenzie yang berada dalam gandongan Andreas.


Nisa berhenti setelah di rasa sudah sampai di tengah, tapi saat di mengangkat kepalanya, Andreas dan Kenzie justru berpindah tempat.


Kekesalan di wajah Nisa membuat Andreas mengulum senyum, sedangkan Kenzie sudah terkekeh kecil sejak Andreas berenang menjauh dari Nisa.


"Kalian mengerjai Momi.?" Bibir Nisa mencebik.


"Ayo Momi, kesini,," Pinta Kenzie lagi, tapi tentu saja atas perintah Andreas yang kedapatan berbisik lagi pada Kenzie.


"Awas yah,, Momi pasti akan tangkap Zie." Ujar Nisa seraya menenggelamkan diri kedalam air dan berenang menghampiri putranya. Kali ini dia sengaja tak menutup mata agar melihat pergerakan Andreas.


Pria itu memang sedang mengerjainya, sekarang terlihat berenang menjauh lagi. Namun karna Andreas berenang sembari menggendong Kenzie, membuat berenangnya tidak terlalu cepat dan Nisa berhasil mengejarnya.


"Kena.!!" Seru Nisa dengan tangan yang memegang tubuh mungil Kenzie dalam gendongan Andreas.


Namun dia terkejut karna ternyata bukan tubuh Kenzie yang dia pegang, melainkan punggung polos Andreas.


Nisa tidak sadar saat Andreas berbalik badan dengan cepat sebelum dia berhasil menyentuh Kenzie.


"Peluk saja kalau kangen." Suara berat Andreas membuyarkan lamunan Nisa. Entah berapa lama dia terdiam dengan kedua tangan yang masih berada di punggung Andreas.


Sebelum Andreas bicara, pikiran Nisa sempat menerawang jauh entah kemana.


Sentuhan tangannya pada tubuh Andreas seakan menariknya ke dalam masa lalu.


"Bukannya terbalik." Sahut Nisa datar. Dia langsung bergeser sedikit menjauh.


Andreas mengukir senyum tipis.


"Kalau itu tidak perlu di tanya lagi." Jawabnya yang terang-terangan mengakui merindukan Nisa.


"Ayo sudah berenangnya, kita harus makan siang." Nisa langsung mengalihkan pembicaraan. Dia berenang ke tepi untuk keluar dari kolam renang agar kedua laki-laki itu juga ikut menyusulnya.


"No Momi, Zie mau belenang." Kenzie malah mengeratkan pegangannya pada Andreas, bocah tampan itu tidak mau beranjak dari kolam. Sepertinya dia terlalu antusias karna bisa berenang bersama Andreas.


"Andreas,, bujuk putramu." Pinta Nisa yang kemudian bergegas pergi dari sana setelah menyambar handuk untuk membalut bajunya yang basah.


Dia membiarkan Andreas membujuk Kenzie agar mau berhenti berenang.

__ADS_1


Karna percuma saja kalau dia membujuk Kenzie, sedangkan putranya itu sudah lengket dengan Andreas. Pasti akan sulit membujuk Kenzie jika bukan Andreas yang membujuknya.


"Kita berenang lagi, tapi jangan lama-lama ya. Tunggu Momi selesai mandi,," Bukannya membujuk, Andreas malah mengijinkan Kenzie untuk melanjutkan berenangnya.


Selain tidak tega melihat rengekan Kenzie, dia juga masih ingin menghabiskan waktu dengan putranya sebelum nanti kembali ke Amerika dan kemungkinan selama 1 bulan dia akan berada.


"Oke Papi,," Zie tersenyum bahagia.


Andreas kembali mengajarkan putranya berenang. Dia melepaskan Kenzie dari gendongannya dan hanya memegangi tangan Kenzie saja.


Sementara itu Nisa sudah berada di dalam kamar mandi, dia buru-buru membersihkan diri karna setelah itu akan memandikan Kenzie.


Selesai memakai baju, Nisa keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan Kenzie. Karna sampai dia selesai mandi, Andreas belum mengantarkan Kenzie padanya.


Tujuan Nisa langsung ke kolam renang. Dari kejauhan dia sudah dalam mode singa lantaran melihat Kenzie masih di ajari berenang oleh Andreas.


"Papi, ada Momi,," Tutur Kenzie lirih. Andreas sontak menatap ke arah Nisa. Wanita itu tampak memasang wajah kesal.


"Ayolah Andreas,, sudah berenangnya. Ini sudah jam makan siang,," Ujar Nisa. Walaupun geram, tapi dia tidak bisa menunjukkan kemarahannya di di depan Kenzie.


"Iya sayang, maaf. Aku akan keluar sekarang." Andreas buru-buru mengajak Kenzie keluar dari kolam.


"Sayang.?"


"Biar aku saja yang mandikan Kenzie." Kata Andreas seraya membalut putranya dengan handuk dan membawanya pergi ke kamar mandi.


Nisa sempat terdiam di tempat, dia lalu ikut beranjak untuk menyiapkan baju Kenzie.


...*****...


Keluar dari kamar bersama, Kenzie dalam gendongan Andreas, sementara itu Nisa berjalan di sampingnya. Sesekali Andreas melirik Nisa, wanita yang sejak tadi lebih banyak diam.


Ketiganya lalu masuk ke lift untuk turun ke bawah. Menuju restoran hotel yang ada di lantai 3.


"Kamu marah padaku.?" Andreas memberanikan diri untuk bertanya. Di tatapannya lekat wajah Nisa, takut wanita itu marah lagi padanya.


Nisa menoleh seraya menggelengkan kepala.


Walaupun Nisa sudah menjawabnya dengan gelengan kepala, hal itu tak lantas membuat Andreas merasa tenang. Masih ada ketakutan dalam dirinya akan perubahan sikap Nisa yang tak banyak bicara seperti sebelumnya.


"Aku minta maaf karna tadi masih membiarkan Zie berenang. Aku tidak tega menyuruhnya berhenti karna Zie terlihat sangat senang." Andreas berusaha menjelaskan apa yang menurutnya membuat Nisa marah.

__ADS_1


"Tidak apa Ndre, aku tidak marah." Nisa akhirnya bersuara lantaran kasihan melihat raut wajah Andreas yang terlihat sangat cemas dan ketakutan.


"Jangan cemas seperti ini, kamu harus bisa mengontrol kecemasanmu." Nada bicara Nisa terdengar lembut dan penuh perhatian.


Mungkin karna Andreas adalah salah satu orang yang akan penting dalam kehidupan Kenzie, jadi Nisa berharap Andreas bisa sembuh dari sakitnya.


Jadi tumbuh kembang Kenzie akan baik kedepannya.


"Aku sudah berusaha, tapi,," Andreas tak meneruskan ucapannya. Bahkan dia saja bingung kenapa sangat sulit untuk mengontrol kecemasan dan rasa takutnya.


"Demi Kenzie, kamu pasti bisa." Ucap Nisa seraya menyentuh lengan Andreas. Dia memberikan keyakinan pada Andreas bahwa pria itu bisa melawan emosional yang menguasai dirinya.


Mata Andreas berkaca-kaca, dia menahan diri untuk tidak menangis di depan Kenzie.


Hatinya tersentuh melihat ketulusan Nisa padanya. Wanita itu masih berharap yang terbaik untuknya meski hatinya pernah dia patahkan.


Bagaimana Andreas tak semakin terpuruk dan merasa bersalah. Dia terlalu kejam pada Nisa, bahkan disaat dia mengetahui bahwa Nisa sangat mencintainya.


"Harusnya aku tidak kembali, kehadiranku pasti hanya membuka luka lama."


Andreas begitu frustasi menatap wajah Nisa. Entah bagaimana dia tega menyakiti wanita sebaik itu.


Kesalahan yang telah dia perbuat pada Nisa dan Kenzie sangat besar, bahkan sekalipun dia mengorbankan nyawa, tak akan sebanding dengan apa yang dia lakukan pada mereka.


Tak jarang Andreas berusaha untuk mengakhiri hidupnya karna merasa kehidupannya sudah tak berarti lagi. Selain itu rasa bersalah dan penyesalannya terhadap Nisa, terus menghantui hari-harinya hingga pikiran buruk itu selalu terlintas dalam benaknya.


"Ndree,, are you okay.?" Nisa menepuk pelan lengan Andreas. Pria itu terlihat melamun dengan tatapan menerawang.


"Liftnya sudah terbuka,," Nisa menggandeng tangan Andreas dan mengajaknya keluar.


"Maaf,, aku minta maaf." Suara Andreas tercekat. Dia berhenti di tempat, menatap sendu wajah Nisa.


"Aku sudah memaafkanmu," Jawab Nisa.


"Ayo, kasian Zie sudah lapar." Nisa mengalihkan obrolan, dia buru-buru mengjak Andreas ke restoran.


"Zie mau makan apa sayang.?" Tanya Nisa pada putranya yang masih anteng dalam gendongan Andreas.


"Zie mau di suapin sama Papi," Kenzie menjawab seraya mendekap Andreas.


"Iya nanti Papi yang suapin, tapi mau makan apa.?" Tanya Nisa lagi.

__ADS_1


Andreas tampak mengukir senyum tipis melihat obrolan Nisa dan Kenzie.


__ADS_2