
"Anisa,, kamu baik-baik saja.?" Kepala Andreas menyembul di balik pintu kamar mandi. Dia ingin memastikan istrinya itu baik-baik setelah 30 menit yang lalu pamit untuk mengganti baju tapi tak kunjung keluar.
Kemunculan Andreas membuat Nisa tersentak kaget, bahkan dia hampir saja terjatuh.
"Ya ampun, kamu membuatku kaget." Nisa berusaha menutupi bagian dadanya yang sedikit terbuka karna gaun yang dia kenakan sedang berusaha di turunkan.
"Kamu kesulitan melepaskan gaun.? Kenapa nggak memanggilku.?" Kini tak hanya kepalanya saja yang masuk ke kamar mandi karna Andreas membuka pintu lebih lebar dan masuk ke dalam untuk menghampiri Nisa.
"Eumm itu,, sepertinya ada kain yang menyangkut di resletingku,," Nisa terlihat ragu mengatakan itu pada Andreas. Dia tak mau meminta tolong pada Andreas lantaran takut.
"Sini biar aku bantu,," Andreas memegang kedua bahu Nisa dan memutar tubuh Nisa untuk membelakanginya.
Rasa trauma membuat kedua tangan Nisa gemetar, bayangan saat Andreas melepaskan paksa bajunya malam itu, kembali berputar di ingatan.
"Nggak perlu Ndre,, aku akan mencobanya lagi,," Nisa bergeser menjauh, namun Andreas dengan sigap menahannya.
"Sampai kapan kamu akan takut bersentuhan denganku.?" Lirih Andreas. Dia menarik bahu Nisa agar mendekat padanya, setelah itu memeluknya dari belakang dengan melingkarkan kedua tangan di perut Nisa.
"Kita baru saja menikah, nggak masalah kalau aku menyentuhmu bukan.?" Suara lembut Andreas begitu jelas di telinga Nisa.
"Kamu harus membiasakannya agar rasa takutnya hilang." Bujuk Andreas. Dia semakin erat memeluk tubuh wanita yang baru beberapa jam lalu menjadi istrinya.
Nisa hanya diam saja, menahan takut hingga tubuhnya menegang bahkan keringat dingin. Meski Nisa menyadari kalau rasa takutnya mulai berkurang, tak seperti beberapa waktu lalu.
Cukup lama memeluk Nisa, perlahan Andreas melepaskan pelukannya dan mulai membantu menurunkan resleting gaun itu dengan gerakan perlahan hingga jemarinya bersentuhan dengan kulit punggung Nisa.
"Aku tunggu di kamar,," Bisik Andreas, kemudian meninggalkan Nisa di kamar mandi.
Mendengar ucapan Andreas, seketika detak jantung Nisa bergemuruh. Pikirannya kalut, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika dia keluar dari kamar mandi dan menghampiri Andreas di kamar.
Meski sebenarnya ini adalah kesempatan bagus bagi Nisa untuk mendapatkan hati Andreas.
__ADS_1
Setidaknya kebersamaan yang intim akan membekas di hati Andreas dan membuat laki-laki itu semakin menaruh hati padanya.
Nisa memang masih ragu, akan tetap melangkah untuk balas dendam atau menerima takdir dengan menjalani pernikahannya bersama Andreas layaknya pernikahan pada umumnya.
Tapi di balik keraguan itu, Nisa akan tetap berusaha untuk membuat Andreas semakin jatuh cinta padanya.
Setidaknya jika dia tetap ingin balas dendam, itu akan membuat usahanya tidak sia-sia.
Dan jika pada akhirnya dia ingin mempertahankan pernikahannya bersama Andreas, paling tidak dia sudah di cintai oleh laki-laki itu.
...****...
Nisa berjalan menghampiri Andreas. Tanpa berani menatap laki-laki itu, dia ikut duduk di sisi ranjang.
Detak jantungnya tidak baik-baik saja saat ini. Apalagi suasana kamar yang sedikit redup semakin membuat Nisa merasa gugup.
"Nggak masalah kalau belum siap, kita masih punya banyak waktu." Ujar Andreas yang melihat ketakutan dan kegugupan Nisa.
"A,,aaku,,"
"Ssstttt,,," Andreas meletakkan telunjuknya di bibir Nisa, meminta wanita itu untuk diam.
"Aku nggak akan memaksa. Aku akan menunggu sampai kamu sendiri yang berinisiatif untuk memberikan hakku." Nada bicara Andreas begitu tenang dan penuh pengertian.
"Sebaiknya kita tidur saja, besok kita harus pulang ke apartemen karna aku ada rapat penting."
"Kamu nggak keberatan kan kalau menunda honeymoon.?" Tanya Andreas. Dia menatap lekat wajah Nisa.
"Nggak masalah, aku tau kamu pasti sangat sibuk." Nisa mengulas senyum tipis.
Keduanya lalu berbaring di atas ranjang. Andreas meminta Nisa untuk membelakanginya, lalu memeluk tubuh Nisa dari belakang.
__ADS_1
"Kamu harus terbiasa seperti ini, karna aku akan memelukmu setiap kali kita tidur." Bisiknya sembari memejamkan mata.
Nisa tak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya.
Diam menahan sesuatu yang membuatnya tak nyaman karna baru pertama kali tidur di ranjang yang sama dengan laki-laki dan dalam keadaan di peluk.
...****...
Nisa dan Andreas sudah sampai di apartemen 1 jam yang lalu. Kini wanita yang sudah menyandang gelar sebagai istri, sedang membawakan baju kerja untuk Dave setelah tadi mengambilnya di walk in closet.
"Mungkin aku pulang malam. Kamu nggak keberatan disini sendirian.?" Tanya Andreas sembari mengambil kemeja lengan panjang dari tangan Nisa.
"Nggak masalah. Aku bisa memindahkan barang-barangku ke kamar ini biar nggak bosan." Nisa mencoba membatu Andreas untuk memasangkan kancing kemejanya, meski dia terlihat gugup dan menahan takut.
Andreas hanya diam, memperhatikan wajah Nisa yang tertunduk sembari mengancingkan satu persatu-satu kancing kemejanya.
Sorot mata Andreas selalu tak menentu setiap kali menatap lekat wajah Nisa tanpa sepengetahuan wanita itu.
"Ini celananya. Aku keluar dulu,," Nisa memberikan celana panjang itu pada Andreas, dan meletakkan jas di atas sofa lalu beranjak dari sana.
Menatap kepergian Nisa, Andreas terlihat mengukir senyum tipis. Entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu.
"Aku berangkat dulu,," Pamit Andreas. Dia masuk ke kamar tamu karna Nisa sedang berada di sana untuk memindahkan barang-barangnya ke kamar Andreas.
"Kamu boleh keluar jalan-jalan kalau bosan. Atau mungkin mengundang temanmu datang ke sini."
Nisa mengangguk paham. Dia menghampiri Andreas dan mengulurkan tangan pada laki-laki itu untuk mencium punggung tangannya.
Hal itu membuat Andreas terdiam, ekspresinya terlihat bingung dan tak kunjung membalas uluran tangan Nisa.
"Hati-hati di jalan,," Ucap Nisa sembari menarik tangan Andreas dan mencium punggung tangannya.
__ADS_1
Apa yang di lakukan oleh Nisa semakin membuat Andreas tertegun, tapi setelah itu buru-buru pergi dari sana.