Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 138


__ADS_3

Sore itu udara di pantai cukup sejuk. Suara deburan ombak silih berganti dengan teratur. Hembusan angin menerbangkan rambut panjang milik Nisa yang di biarkan terurai.


Senyum di wajah cantik itu terukir kala melihat tawa putranya. Melihat Kenzie begitu bahagia bermain dengan Andreas, terselip rasa haru bercampur bahagia yang tak bisa di ungkapkan dengan kata.


Sebelum Andreas datang, dulu setiap malam dia hanya bisa memendam kepedihan setiap kali memandangi wajah Kenzie yang tengah terlelap.


Di saat anak-anak seusianya dapat merasakan kasih sayang dari seorang ayah, Kenzie hanya bisa mendapat kasih sayang darinya.


Dan itu yang membuat Nisa akhirnya bertahan dengan sebuah harapan, menginginkan Andreas kembali demi kebahagiaan putranya.


Namun harapan besarnya di hancurkan tanpa sisa oleh Andreas saat di pertemukan kembali.


"Sekalipun aku memutuskan untuk kembali, semua itu hanya demi kebahagiaan Kenzie, karna hatiku sudah mati." Lirihnya dengan tatapan datar menerawang.


Melihat kebersamaan Kenzie dan Andreas beberapa hari terakhir, akhirnya Nisa mulai memikirkan ulang keputusannya. Dia meminta pengacaranya untuk menunda sidang perceraian.


Semata-mata demi putranya. Seandainya Kenzie bisa melepaskan Andreas kembali ke Amerika, maka dia akan tetap pada keputusannya. Tapi jika sebaliknya, mau tidak mau dia harus membuang egonya demi Kenzie. Kebahagiaannya tak lagi penting, apa lagi hatinya yang memang sudah hancur berkeping-keping.


Dia bertahan hidup hanya demi Kenzie, jadi melihat Kenzie bahagia sudah cukup untuknya.


"Om,, tunggu aku,,"


"Bisa diam tidak.?! Berhenti mengikutiku dan memanggilku Om. Aku bukan Om mu.!"


Nisa mengerutkan keningnya setelah mendengar suara tegas yang sangat dia kenal.


Kepalanya reflek menoleh ke belakang. Tepat di belakangnya seorang laki-laki dewasa tengah di buntuti remaja belia.


"Brian,," Bibir Nisa reflek memanggilnya.


Mendengar namanya di sebut, Brian sontak menoleh ke sumber suara.


Laki-laki yang tadinya memasang wajah masam, kini tersenyum lebar dengan mata berbinar.


Melihat keberadaan Nisa seolah menemukan sebuah berlian yang berkilau di tumpukan pasir.


Brian buru-buru menghampiri Nisa tanpa menghiraukan remaja yang langsung cemberut karna melihatnya menghampiri wanita cantik.


"Kamu disini.? Sama siapa.?" Brian ikut duduk di samping Nisa. Dia tidak menyangka akan bertemu Nisa di Bali.


"Sama mereka." Jawab Nisa seraya mengarahkan jari telunjuknya pada Andreas dan Kenzie yang sedang bermain air.


Raut wajah Brian seketika berubah, tatapan sendu dan tampak putus asa setelah melihat kedekatan Kenzie dan Andreas. Dia merasa penantianya selama ini akan berakhir tragis.

__ADS_1


Nisa pasti akan semakin sulit membuka hati untuknya. Harapan hanya tinggal angan. Cintanya tak terbalas.


"Bukannya kamu baru pulang dari luar kota.? Kenapa sudah pergi lagi.?" Perhatian Nisa beralih pada remaja yang mengikuti Brian. Remaja itu tiba-tiba berjalan ke arah Andreas dan Kenzie.


Tak hanya Nisa saja yang menatap ke arahnya, Brian juga ikut menatap ke sana dengan raut wajah geram. Karna dia merasa kalau remaja menghampiri Andreas untuk membuat kekacauan.


"Om,,, Om ganteng.!!" Suara cempreng seorang wanita membuat Andreas menoleh. Matanya menyipit, menatap sosok wanita muda yang baru saja memanggilnya dengan sebutan Om ganteng.


"Kenapa.?" Tanya Andreas datar.


"Ya ampun, kenapa semua orang ganteng sifatnya sama." Gadis belia itu menggerutu.


"Jangan asik main sama anak aja Om, lihat tuh istrinya." Dia menunjuk ke arah Nisa dan Brian. Dari kejauhan dia bisa melihat mata Brian yang melotot tajam padanya.


"Itu istri Om kan.? Kok diam saja liat istri di godain laki-laki lain." Ujarnya memprovokasi.


Sayangnya tak ada reaksi berlebihan dari laki-laki yang sedang dia provokasi itu. Karna Andreas hanya menatap ke arah Nisa tanpa berani untuk melarang Nisa berduaan dengan Brian. Walaupun sebenarnya tidak suka melihat mereka berduaan seperti itu.


"Om tidak cemburu.? Kenapa tidak menyuruh laki-laki itu pergi.?" Gadis itu bingung sendiri melihat reaksi Andreas yang tampak biasa saja.


Andreas hanya melirik acuh pada gadis yang berlagak sok kenal itu.


"Zie mau minum.?" Tawar Andreas. Dia memilih mengajak bicara putranya di banding meladeni remaja sok kenal itu.


"Mau Papi,,"


Andreas tak menghirukan panggilan gadis itu, juga tak memenatap lagi ke arah Nisa dan Brian.


"Gadis itu benar-benar.!!" Geram Brian kesal. Dia pamit pada Nisa dan bergegas menghampiri gadis pembuat onar itu.


"Apa yang dia katakan pada Andreas.?" Nisa telihat bingung menatap Andreas yang beranjak dari pantai bersama Kenzie tanpa menghampirinya lebih dulu.


Menyambar tas bawaannya, Nisa bergegas menyusul Andreas.


"Andreas,, mau kemana.?" Panggil Nisa setengah berteriak. Suaranya berhasil membuat Andreas menoleh dan menghentikan langkah.


"Mau cari minum. kamu mau minum juga.? Biar aku belikan." Tawarnya.


"Tunggu di sana saja, aku akan kembali lagi ke pantai. Zie masih mau main."


Nisa menggelengkan kepala, tidak mau menuruti perkataan Andreas.


"Sudah sore, sekalian kembali ke hotel saja." Pintanya.

__ADS_1


"Aku pikir kamu masih ingin mengobrol dengan laki-laki itu." Andreas bicara datar dan kembali melangkahkan kaki. Dia bahkan tak memberikan respon atas permintaan Nisa. Entah setuju untuk kembali ke hotel atau menghiraukan permintaan itu.


Menatap punggung Andreas yang kian menjauh, Nisa di buat bingung dengan sikap Andreas. Apa mungkin Andreas cemburu.? Tapi kenapa malah pergi saat melihatnya sedang bersama Brian. Kenapa tidak menghampirinya saja.


Nisa menghela nafas, merasa bingung kenapa tiba-tiba memikirkan perasaan Andreas. Cemburu atau tidak, harusnya dia tak peduli.


...*****...


"Sini biar aku mandikan Zie,," Nisa ingin mengambil alih Kenzie dari gendongan Andreas, namun Andreas sedikit bergeser.


"Tidak apa, biar Zie mandi denganku." Seulas senyum tipis mengembang di bibir Andreas, tapi setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya.


Tak mau ambil pusing, Nisa juga bergegas masuk ke dalam kamarnya sendiri. Dia menyiapkan baju milik Kenzie untuk di bawa ke kamar Andreas.


Mengetuk pintu beberapa kali, Nisa menyelonong masuk lantaran tidak ada jawaban.


Begitu masuk, suara tawa Kenzie dan Andreas menggema dari dalam kamar mandi.


Nisa menghentikan langkah, tangannya reflek menyentuh dada. Entah perasaan seperti apa yang sedang menyelimutinya saat ini.


Tawa mereka berdua terdengar sangat bahagia.


Tak lama suara tawa itu redup, Nisa tak mendengar suara apapun lagi dari balik kamar mandi. Dia kemudian meletakkan baju ganti Kenzie di atas ranjang.


Namun saat akan beranjak untuk keluar dari kamar, dia di kejutkan dengan kedatangan Andreas.


"Aaaahh,,, Ya ampun Andreas.!!" Pekik Nisa yang reflek memejamkan mata dan menutup mata dengan kedua tangannya.


"Ke,kkenapa tidak pakai celana.!" Ucapnya dengan menaham malu.


Bisa-bisanya Andreas keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai celana dlm saja.


Berbeda dengan Nisa yang tampk panik bercampur malu, Andreas justru terlihat santai saja.


"Aku tidak te lan jang Anissa." Jawab Andreas snatai. Dia berjalan ke arah ranjang untuk mengambil handuk baru di sana.


"Aa,,aaku tau, tapi kamu hanya,,


"Hanya apa..?" Nisa terperanjat saat merasakan hembusan nafas Andreas di telinganya.


"A,,aandreas.!! Jangan dekat-dekat.!" Masih dengan mata yang tertutup, Nisa. mencoba bergeser menjauh. Dia takut Andreas akan berbuat sesuatu padanya dalam keadaan hampir te lang jang.


Nisa mendengar suara tawa Andreas yang tertahan. Saat itu dia sadar kalau Andreas hanya sedang menggodanya. Terbukti Andreas malah menertawakan dirinya yang sedang panik.

__ADS_1


"Dasar menyebalkan.! Sana kembali ke kamar mandi." Pinta Nisa.


"Oke,, oke,," Jawab Andreas seraya mengacak gemas pucuk kepala Nisa. Dia masuk ke kamar mandi dengan senyum tertahan.


__ADS_2