
Pagi itu Nisa lebih dulu membuka mata di saat Kenzie dan Andreas masih terlelap. Posisinya yang berada di tengah-tengah, membuat Nisa di apit oleh 2 laki-laki tampan yang memiliki kemiripan lebih dari 75 persen.
Nisa lebih dulu menoleh pada Kenzie, di tatapannya lekat wajah polos balita yang berusia 2 tahun lebih itu.
Sebagai seorang ibu, Nisa selalu berharap Kenzie tumbuh dengan baik di sertai kebahagiaan yang menyelimutinya.
Dan mungkin dengan kembalinya Andreas, bisa membuat kebahagiaan Kenzie lebih sempurna.
Walau bagaimana pun, Kenzie sangat membutuhkan figur seorang ayah untuk melengkapi hidupnya.
"Momi hanya menginginkan kebahagiaanmu Zie." Lirih Nisa. Baginya tak ada yang jauh lebih penting selain kebahagiaan putranya. Jadi apapun akan dia lakukan untuk kebahagiaan Kenzie, selama yang dia lakukan tidak memberikan dampak negatif untuk Kenzie kedepannya.
"Dan aku hanya menginginkan kebahagiaan kalian berdua."
Suara berat itu terdsngar bersamaan dengan tangan besar yang melingkar di perut Nisa.
"Kamu juga harus bahagia. Jangan mengunci pintu jika ada orang yang ingin masuk untuk membuatmu bahagia." Tutur Andreas lirih.
Tangannya semakin erat memeluk tubuh Nisa.
"Aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu meski aku tau itu sulit bagimu." Andreas berucap lirih. Dia membenamkan wajahnya di ceruk leher Nisa.
"Hmm,, aku akan mencobanya." Jawab Nisa. Dia mulai menyadari bahwa sikap yang dia tujukan pada Andreas tidak menunjukkan keseriuskan untuk kembali menjalani kehidupan pernikahan dengan Andreas.
Mungkin itu yangembust rasa bersalah Andreas tak bisa berkurang dan terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Sudah siang, aku harus menyiapkan sarapan."
Nisa memegang tangan Andreas dan perlahan menyingkirkannya dari atas perut.
"Kamu tidak perlu memasak. Nanti biar aku suruh Aditya agar memesan makanakan untuk sarapan nanti." Ucap Andreas yang sebenarnya sudah memikirkan hal itu sejak semalam. Karna dia tidak mau membuat Nisa semakin kelelahan setelah tadi malam melakukan pergulatan panas.
"Sebaiknya kita tidur lagi saja, masih terlalu pagi untuk bangun." Ucap Andreas. Tangannya kembali memeluk Nisa dari belakang.
"Terlalu pagi dari mana Ndre.? Ini sudah jam 6." sahut Nisa heran.
"Terlalu pagi untuk kita yang semalam habis bergadang dan melakukan percintaan panas." Jawab Andreas dengan berbisik.
"Jangan mulai,," Tegur Nisa malu. Dia mencubit pelan tangan Andreas yang melingkar di perutnya.
"Aku bahkan belum melakukan apa-apa." Goda Andreas lagi. Tak mendapatkan respon apapun dari Nisa, Andreas lantas tak melanjutkan kejahilannya pada Nisa.
"Jadi bagaimana sayang.? Kamu bersedia ikut ke Amerika bukan.? Hanya satu bulan." Nada bicara Andreas sedikit memelas. Tentu dia berusaha keras untuk membujuk Nisa agar mau ikut dengannya. Karna tidak mungkin dia bisa menahan rindu selama itu pada istri dan anak tercintanya.
__ADS_1
"Tidak." Nisa menjawab cepat penuh ketegasan.
Sejujurnya itu bukan jawaban yang sebenarnya. Dia hanya ingin mengerjai Andreas saja dan ingin melihat sejauh mana Andreas akan membujuknya.
"Aku tidak akan bisa jauh dari kamu dan Zie selama itu." Andreas berucap sendu.
"Benarkah.? Tapi sebelumnya kamu bisa hidup tanpa kami." kali ini gantian Nisa yang menjahili Andreas.
"Sayang,,," Protes Andreas sedikit merengek. Nisa kembali mengingatkan dirinya dengan kesalahan terbesar yang pernah dia lakukan.
"Jangan di ingatkan lagi. Aku merasa jadi orang paling bodoh di dunia ini." Suara Andreas terdengar tercekat.
"Tapi kamu memang bodoh." Cibir Nisa.
Mengingat dulu pernah memberikan kesempatan pada Andreas dengan memintanya untuk tidak melanjutkan balas dendam dan tetap berada di sampingnya agar memulai dari awal, tapi Andreas bersikeras meninggalkannya.
Mengabaikan air mata yang mengisinya dengan penuh ketulusan. Bahkan mengabaikan pengakuan cintanya.
"Baiklah, aku tidak akan menyangkalnya." Ucap Andreas pasrah.
"Dan orang bodoh sepertiku sangat membutuhkan wanita pintar dan baik sepertimu." Bisiknya.
"Kamu memang pandai merayu." Sahut Nisa.
"Seksi saat di atas ranjang." Lanjutnya.
"Andreas.!" Tegur Nisa dengan mata yang membulat sempurna. Bisa-bisanya Andreas membisikkan kata-kata seperti itu padanya.
Pria tampan itu terkekeh kecil. Dia justru senang melihat Nisa kesal dan malu karna dia menggodanya.
*****
"Jagoan Papi sudah bangun." Dengan masih memakai handuk yang melilit di pinggannya, Andreas menghampiri Kenzie yang sudah bangun dengan duduk di tengah-tengah ranjang.
Putrnya itu sendirian lantaran dia dan Nisa baru saja mandi bersama, dan wanita cantik itu masih berada di dalam kamar mandi.
"Papi kapan beli kalnya.?" Tanya Kenzie saat Andreas mendekat dan duduk di sisi ranjang.
Ternyata perkataan Nisa memang benar. Anak kecil seperti Kenzie tidak boleh asal di janjikan sesuatu karna akan menagihnya.
Seandainya tidak di tepati, pasti Kenzie akan berfikir orang tuanya berbohong.
"Zie harus mandi dan makan dulu, setelah itu kita beli kal sama Momi juga." Ujar Andreas seraya mengendong Kenzie untuk di bawa ke kamar mandi.
__ADS_1
"Mau mandiin Zie.?" Tanya Nisa yang berpapasan dengan Andreas di depan pintu kamar mandi.
"Iya. Dia sudah minta beli car." Jawab Andreas.
"Biar Tiara saja yang mandikan Zie. Kamu bahkan belum pakai baju." Nisa melarang Andreas memandikan Kenzie lantaran pria itu juga baru saja mandi bahkan masih memakai handuk.
"Tidak apa, aku bisa mandi lagi sambil bermain dengan putraku." Andreas tak keberatan memandikan Kenzie walaupun dia baru saja selesai mandi. Baginya melakukan sesuatu bersama putra kecilnya adalah hal berharga yang tak boleh dia lewatkan.
Agar suatu saat ketika putranya sudah dewasa, memiliki banyak kenangan indah bersama Papinya.
...*****...
Tiara baru selesai menata gelas dan piring di atas meja makan. Dia juga sudah membuat 4 cangkir teh panas.
Makanan yang di pesan oleh Andreas masih dalam perjalanan ke rumah.
Setelah memastikan semua perlengkapan lengkap, Tiara beranjak dari dapur untuk mandi.
Tubuhnya mulai berkeringat karna sejak pukul 5 pagi sudah mencuci baju dan membersihkan rumah.
Baru beberapa langkah beranjak dari sana, Tiara diam di tempat kala melihat keberadaan Aditya yang berjalan mendekat ke arahnya.
Sontak Tiara menundukkan wajahnya, kejadian tadi malam membuatnya kehilangan muka di depan Aditya. Benar-benar sangat memalukan karna sudah menahan laki-laki itu di kamarnya dan meminta untuk di sentuh.
Tiara bahkan masih ingat bagaimana cara Aditya memberikan sentuhan yang sangat dia inginkan saat itu.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia membiarkan seorang laki-laki menyentuh bagian paling sensitif di tubuhnya.
"Kita harus bicara." Ucap Aditya.
"Soal apa.?" Tanya Tiara tanpa berani menatap Aditya.
"Pernikahan kita."
Degh.!
Untuk sesaat Tiara merasakan jantungnya berhenti berdetak. Perlahan dia mengangkat wajah dan menatap lekat mata Aditya.
Dia ingin mihat sejauh mana Aditya serius dengan keputusannya untuk menikahinya.
Tiata hanya takut pernikahannya dengan Aditya hanya akan membawa masalah besar dalam hidupnya karna tak saling mencintai satu sama lain.
...*...
__ADS_1
Yang mau dapat info tentang novel othor, kalian bisa masuk ke grup chat Clarissa icha.