
Seulas senyum di bibir Andreas seolah menandakan semuanya baik-baik saja. Dia menepis kekhawatiran dalam benak Nisa tentang penyakit mental yang dia alami sejak 3 tahun terkahir.
"Jangan khawatir, aku tidak akan membahayakan nyawa orang lain. Apa lagi membahayakan putraku sendiri,," Andreas menoleh ke ranjang, menatap wajah tampan putranya yang terlelap.
Dia tau kenapa Nisa terlihat sangat cemas dan sampai bertanya seperti itu padanya.
Dari sorot matanya, dia bisa melihat kalau Nisa takut akan keselamatan Kenzie jika berada di sampingnya.
Andreas bisa memahami akan kecemasan itu, karna setiap orang tua pasti tak mau melihat anaknya dalam bahaya, seperti dia yang tidak ingin terjadi sesuatu pada Kenzie.
"Maaf, aku tidak bermaksud,,
"Tidak masalah, aku mengerti perasaanmu." Andreas memotong ucapan Nisa. Dia mengulas senyum teduh, tak mau membuat Nisa merasa bersalah ataupun tak enak hati padanya.
Kenzie tiba-tiba menggeliat, Andreas dengan sigap menepuk-nepuk pantatnya dan putra tampannya itu kembali terdiam.
Beberapa saat dalam keheningan, sampai akhirnya Andreas beranjak dari ranjang. Nisa mengikuti langkah Andreas setelah menatap sekilas putranya.
Langkah keduanya berhenti di balkon kamar Kenzie. Andreas berdiri tegap dengan kedua tangan menyilang di atas dada serta pandangan mata lurus ke depan.
Menatap deretan rumah yang berjejer dalam gelapnya malam.
Tarikan nafas beratnya terdengar oleh Nisa. Wanita yang tengah berdiri di samping Andreas itu, sedikit mendongakkan kepala untuk menatap wajah Andreas.
"Ini sudah berlangsung selama 3 tahun terakhir." Ucap Andreas dengan segala ketenangan yang dia tunjukkan. Nisa bahkan tak bisa membaca raut wajah Andreas. Tidak tau apa yang sedang di rasakan olehnya saat ini.
"Keadaan semakin memburuk setelah Mama meninggal 2 tahun lalu." Penuturan itu sontak membuat Nisa tercengang. Dia sampai menutup mulutnya, tak percaya bahwa saat ini Mama kandung Andreas sudah meninggal.
"Aku harus rutin mengkonsumsi obat itu, walaupun tidak ada perubahan." Sudut bibir Andreas terangkat, dia mengukir senyum yang tampak getir dari sudut pandang Nisa.
Senyum yang seolah mengatakan bahwa dia lelah dengan kondisinya.
“Aku tau keadaan dan pengakuanku tak akan merubah keadaan. Semua yang aku alami saat ini adalah buah dari perbuatanku sendiri." Sorot mata dan nada bicara Andreas terdengar penuh sesal.
Keduanya memegang besi pembatas, genggaman itu perlahan menguat dan menjadi cengkraman.
Terlihat dari urat-urat di tangannya yang semakin terlihat menonjol bahkan sampai siku.
Dia merasa tak berdaya dengan kondisinya saat ini. Kekuasaan dan harta bukan lagi segalanya. Keduanya bahkan tak bisa membuatnya bangkit dari kondisi yang memprihatinkan ini.
__ADS_1
Terbelenggu dalam penyesalan selama 3 tahun, serta terbelenggu dalam kesedihan yang mendalam. Tak ada yang bisa dia lakukan untuk merubah keadaan. Saat ini dia harus menuai apa sudah dia perbuat.
“Aku turut berduka atas meninggalnya Mama.” Lirih Nisa dengan suara berat.
“Berjuanglah, berjuang demi Kenzie." Seru Nisa yang tampak penuh semangat.
“Kamu harus melawannya dan hidup normal seperti dulu."
Andreas menoleh, menatap lekat wajah Nisa yang sedang memberikan semangat untuknya.
Entah dia harus bahagia atau sedih.
Bagaimana bisa dulu dia menyakiti dan meninggalkan wanita sebaik Nisa. Wanita yang sudah dia peralat untuk balas dendam dan dia tinggalkan, kini justru memberikan semangat untuknya setelah mengetahui kondisinya.
Nisa mengukir senyum saat Andreas menatapnya.
“Kenzie tetap membutuhkan kedua orangtuanya meski kita tidak bersama.”
“Dia membutuhkan kasih sayang dan kehadiran Papinya dalam menjalani kehidupannya."
“Aku akan mengubur dalam-dalam rasa sakit ini demi Kenzie. Tapi aku tidak bisa kembali padamu." Nisa berkata lirih. Dia harap Andreas bisa menerima keputusannya tanpa membuatnya merasa sedih.
Harapannya pupus, sepertinya Nisa memang sudah menutup rapat-rapat pintu hatinya.
Tak ada celah sedikitpun untuk masuk dan kembali.
“Apa tidak ada kesempatan untukku demi Kenzie?" Tanya Andreas yang masih berusaha bersikap tenang meski menahan gejolak di dadanya.
Dia diselimuti rasa bersalah, kecewa, marah dan sedih dalam satu waktu. Dan semua yang dia rasakan itu akibat ulahnya sendiri hingga Andreas merasa benci pada dirinya.
“Andreas,, kita tidak harus bersama untuk merawat dan membesarkan Kenzie.”
"Dia akan tetap mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kita.” Ujar Nisa meyakinkan.
Baginya alasan bersatu kembali demi anak tak berlaku untuknya.
Selagi kita bahagia hidup sendiri, lalu untuk apa kembali jika pada akhirnya akan merasakan rasa sakit lagi untuk kesekian kalinya.
Yang terpenting adalah kebahagiaan. Jika dia bahagia, maka dia juga bisa membahagiakan putranya.
__ADS_1
"Saat ini Kenzie memang belum mengerti kondisi kedua orang tuanya, tapi aku yakin suatu saat nanti dia akan mengerti tanpa menghakimi kenapa kedua orang tuanya tak hidup bersama."
Nisa meletakkan tangannya di atas punggung tangan Andreas.
“Jangan memikirkan hubungan kita yang sudah pasti tidak akan kembali seperti dulu. Pikirkan saja kesehatan kamu dan masa depan Kenzie, dia sangat membutuhkanmu." Pinta Nisa dengan ketulusan hatinya.
Terlepas perbuatan Andreas yang telah menghancurkan hatinya hingga tak mau lagi merasakan cinta, Nisa masih punya hati nurani untuknya. Dia benar-benar tulus memberikan semangat pada Andreas dan berharap Andreas sembuh dari sakitnya.
“Sudah malam, aku tidur dulu.” Pamit Nisa dengan mengukir senyum tipis, dia juga sempat mengusap punggung tangan Andreas untuk membuatnya merasa baik-baik saja.
"Anissa,,," Andreas menahan pergelangan tangan Nisa. Wanita itu sontak reflek berbalik badan.
Dia terkejut karna tiba-tiba Andreas menariknya dan membawanya dalam dekapan.
“Andreas,,! Apa yang kamu,,,
“Biarkan aku memelukmu seperti ini, sebelum kita berpisah." Potong Andreas cepat. Dia semakin mengeratkan pelukannya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Nisa yang sejak 3 tahun terakhir memenuhi hati dan pikirannya.
Wanita yang sejak dulu hingga detik ini sangat dia cintai.
Andreas memejamkan mata, kerinduannya pada Nisa selama 3 tahun seolah bisa terbayar hanya dengan memeluknya.
“Aku menyesal Anissa,, sangat menyesal." Suara Andreas tercekat, tubuhnya terasa bergetar. Nisa bisa merasakan jika saat ini Andreas sedang menangis.
Tak ada yang bisa Nisa katakan selain diam dan membiarkan Andreas memeluknya. Mungkin setelah ini Andreas akan merasa jauh lebih tenang. Dan Nisa berharap Andreas bisa menjalani hidup lebih baik lagi setelah apa yang terjadi dalam kehidupannya saat ini.
“Menyesal tidak akan merubah apapun Andreas. Berjanjilah untuk hidup lebih baik lagi. Kamu punya Kenzie yang akan selalu menjadi penerang dan penyemangat hidupmu." Perlahan Nisa mendorong dada Andreas untuk lepas dari pelukannya.
“Kamu tidak rindu padaku.?" Bukannya menanggapi ucapan Nisa, Andreas justru melontarkan kata-kata yang membuat Nisa terkekeh kecil.
"Jangan bercanda, aku sudah lelah merindukanmu selama 3 tahun." Jawab Nisa.
"Aku ke kamar dulu, tolong jaga Kenzie."
"Kalau dia minta minum susu, bangunkan aku saja." Ucapnya kemudian beranjak dari hadapan Andreas.
Laki-laki itu hanya bisa menatap nanar punggung Nisa yang kian menjauh. Sepertinya rasa cinta di hati Nisa memang sudah mati.
Takdir tak berpihak padanya untuk menyatukan kembali dengan Nisa.
__ADS_1
“Aku sangat mencintaimu,," Lirih Andreas dengan rasa sesak di dada.