Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 110


__ADS_3

"Bu, tadi Pak Dito bilang kalau laki-laki yang mencari Ibu masih ada di luar," Tiara setengah ragu menyampaikan hal ini pada majikannya. Apalagi mood majikannya itu tampak memburuk sejak pulang dari kantor.


Makan malamnya saja sampai tidak di habiskan dan terlihat sesekali melamun.


Nisa hanya menoleh sekilas, dari raut wajahnya sudah bisa di tebak kalau informasi yang di berikan Tiara bukan hal penting baginya.


"Biarkan saja, asal jangan di ijinkan masuk." Nisa benar-benar tidak peduli, bukankah penderitanya selama ini akibat keegoisan Andreas tidak sebanding dengan hanya menunggu di luar rumah.


Nisa memang sudah memutuskan untuk memberikan kesempatan pada Andreas bertemu dengan putranya setelah dia mempertimbangkan banyak hal.


Andreas sudah terlanjur tau kehadiran Kenzie, laki-laki itu pasti mengejarnya ke Batam karna tau keberadaan Kenzie.


Karna saat bertemu di bandara Jakarta, Andreas begitu tegas dan tanpa ragu akan mengurus perceraian mereka.


Kalau bukan Kenzie alasannya, lalu apa lagi yang membuat Andreas rela terbang ke Batam untuk menyusulnya setelah berniat mengakhiri pernikahan mereka.


Nisa tak gegabah dalam mengambil keputusan untuk mempertemukan Andreas dan Kenzie, dia sudah berfikir matang-matang akan hal itu. Namun dia tak akan membiarkan Andreas bertemu Kenzie dengan mudah, laki-laki itu harus merasakan perjuangan dan pengorbanan lebih dulu untuk bertemu anaknya.


...*****...


"Kalau tidak butuh uang, sudah pasti aku akan tidur di hotel sampai pagi." Aditya menggerutu. Mulutnya terus mengumpat kesal tapi bercampur iba pada bosnya yang sedang di rundung penyesalan.


Dia tampak kesal karna harus kembali ke rumah Nisa dan mengantarkan baju ganti sesuai perintah Andreas.


"Tragis sekali hidupnya." Gumam Aditya sembari menatap Andreas dari dalam mobil yang baru saja dia parkirkan.


Andreas masih pada posisisl semula, tak berubah meski hampir 1 jam dia tinggalkan ke hotel untuk mandi dan kembali lagi.


Bosnya itu masih duduk termenung, menatap ke arah dalam gerbang rumah yang cukup tinggi.


"Uang memang tidak menjamin kebahagiaan." Aditya kembali bergumam, mengomentari apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


Bertahun-tahun ikut dengan Andreas, dia sampai tau kehidupan pribadi bosnya itu.


Sejauh ini dia tidak pernah melihat Andreas benar-benar bahagia.


Terlebih ketika Ibu kandungnya meninggal dunia, Andreas seperti kehilangan arah dan semangat untuk melanjutkan hidup.


Dia memang memiliki segala, bisa membeli apapun yang dia inginkan dengan uang yang Andreas miliki. Sayangnya sebanyak apapun uang dia miliki, tak mampu untuk membeli kebahagiaan.


"Sepertinya aku tidak tertarik untuk menikah." Aditya mundur sebelum bertarung. Dia merasa takut untuk menjalani rumah tangga setelah melihat kehidupan rumah tangga Andreas cukup menyayat hati.

__ADS_1


Aditya buru-buru menghampiri Andreas. Dia tidak tega membiarkan Andreas belum mandi sejak pagi hingga sekarang pukul 8 malam.


"Tuan, ini baju ganti Anda dan perlengkapan mandi." Aditya menyodorkan paperbag pada Andreas.


"Hmm,,"


Laki-laki tampan dengan penampilan acak-acakan itu hanya menerima paperbag dan meletakkannya di samping ia duduk.


Andreas tampak enggan untuk beranjak dari sana, takut jika sewaktu-waktu Nisa keluar untuk menemuinya tapi dia malah tidak ada di sana karna harus mandi.


Aditya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia bingung sendiri melihat Andreas yang masih betah duduk di sana.


"Maaf Tuan, apa perlu saya antar ke tempat ibadah.?" Tanya Aditya ragu.


"Sebaiknya Anda mandi sekarang. Setelah itu kita harus makan malam. Saya sudah membeli ma,,,


"Kamu tunggu di sini, telfon aku jika Nisa keluar untuk menemuiku." Andreas memotong cepat ucapan Aditya. Dengan penuh keyakinan dia mengatakan hal itu pada Aditya. Begitu yakin kalau Nisa akan keluar dan menemuinya.


...*****...


Masuk ke dalam kamar, Nisa mengukir senyum melihat putranya yang tidur pulas. Dia duduk di sisi ranjang, ikut berbaring di samping putranya si pemiliki wajah tampan nan teduh.


"Demi kebahagiaan kamu, Momi rela untuk mempertemukan kalian." Lirihnya. Rasa sesak di dada membuat suara Nisa tercekat.


Awalnya dia enggan mengenalkan Kenzie pada putranya dengan mengatakan bahwa Andreas sudah meninggal seandainya kelak Kenzie bertanya.


Namun nalurinya sebagai orang tua tak bisa egois dengan mementingkan kebahagiaan sendiri.


Dia ingin melihat putranya bahagia karna merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya meski sudah tak bersama lagi.


...*****...


Nisa membuka mata, tidurnya malam ini tak senyeyak biasanya. Entah sudah keberapa kali dia terbangun.


Di liriknya jam dinding yang masih menunjukkan pukul 2 malam.


Menghela nafas pelan, wanita cantik itu membuang beban pikirannya yang mengganjal dada.


Tatapan matanya mengarah pada pintu balkon. Perlahan Nisa turun dari ranjang, berjalan ke arah balkon untuk melihat sesuatu yang telah mengganjal pikirannya hingga sulit tidur nyenyak.


"Ada dia sudah gila." Nisa menatap tak habis pikir pada laki-laki yang masih menunggunya di depan rumah. Rupanya Andreas benar-benar melakukan hal gila itu dengan bertahan di luar sampai selarut ini. Duduk sendirian dengan mobil yang terparkir tak jauh dari sana.

__ADS_1


Nisa hendak masuk kembali ke kamar, namun tatapan matanya beradu dengan Andreas.


Andreas tampak terkejut melihat keberadaannya sampai bergegas berdiri.


"Aku tidak akan pergi Anissa,,!"


Teriakan Andreas memecah kesunyian malam.


"Aku mohon beri aku kesempatan untuk bertemu dengan putraku.!!"


Andreas kembali teriak. Nisa memilih mengabaikan dengan masuk ke dalam kamar.


"Tidak semudah itu Andreas." Gumam Nisa penuh penekanan. Dia menutup pintu dan menguncinya.


...******...


Nisa tak keluar selangkahpun dari pintu utama. Dia juga memutuskan tidak berangkat ke kantor dan mengurung diri di dalam rumah, termasuk 3 orang pekerja rumahnya yang tidak dia ijinkan keluar dari rumah.


"Bu,, laki-laki itu pingsan.!".Dengan langkah tergopoh-gopoh, Pak Dito menghampiri Nisa di ruang keluarga.


"Bukannya ada temannya.? Suruh bawa ke rumah sakit saja." Jawab Nisa. Dia terlihat sedikit jengah mendengar laporan tentang Andreas lagi.


Kesal lantaran Andreas tak kunjung pergi dan membuat aktifitasnya terganggu.


"Temannya sedang pergi Bu, sepertinya sedang membeli makan siang. Laki-laki itu sendirian di luar. Apa perlu di bawa masuk ke dalam.?"


"Saya takut terjadi sesuatu, bagaimana kalau sampai,,,


"Pak Dito tolong antarkan saja ke rumah sakit terdekat, nanti biar Aldo yang memberitahu temannya kalau orang itu di bawa ke rumah sakit."


Nisa memotong ucapan supirnya. Dia juga tidak mau mengambil resiko jika terjdi sesuatu pada Andreas. Karna sudah pasti dia akan repot nantinya.


"Baik Bu." Pak Dito bergegas menjalankan perintah majikannya.


"Ara, tolong kamu temani Pak Dito." Nisa menyuruh Tiara untuk menyusul Pak Dito agar pergi bersama ke rumah sakit.


Tiara mengangguk dan bergegas keluar rumah.


Sementara itu, Nisa berdiri di pintu. Dari kejauhan melihat Andreas yang tengah di angkat oleh Pak Dito dan Aldo untuk di bawa masuk ke dalam mobil.


Nisa hanya menatap datar sampai mobil miliknya menghilang dari pandangan.

__ADS_1


__ADS_2