Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 82


__ADS_3

Sore itu Nisa sudah menyiapkan bahkan makan yang akan dia masak untuk makan malam bersama Andreas. Laki-laki yang kini telah memiliki tempat di hatinya sebagai suami.


Ya, walaupun pernikahannya sudah berlangsung beberapa bulan, tapi baru kemarin malam Nisa benar-benar mengakui Andreas sebagai suaminya. Pengakuan itu hanya untuk dirinya sendiri, karna sebelumnya dia tak pernah menganggap adanya pernikahan yang sesungguhnya. Jadi merasa bahwa status Andreas sebagai suami adalah sementara.


"Selesai. Andreas pasti menyukainya,," Gumam Nisa seraya menatap makanan kesukaan Andreas yang dia masak.


Selesai memasak dan menata makanan itu di atas meja, Nisa beranjak ke kamar untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya.


Bukankah dia harus tampil cantik dan wangi pada saat menyambut kepulangan Andreas dari kantor.


Memang seperti itu jika sedang jatuh cinta, berusaha untuk sempurna di depan orang yang kita cintai. Dan itu yang ada di dalam pikiran Nisa.


Suara bel membuat Nisa beranjak dari ruang keluarga. Dia memang sudah menunggu Andreas sekitar 30 menit yang lalu.


Kakinya terlihat sangat ringan untuk melangkah ke arah pintu. Perasaan bahagia memberikan energi positif padanya.


Dia buru-buru membuka pintu, siap mengembangkan senyum pada sosok yang berada di balik pintu.


"Sayang ka,, muuu,,,," Suara Nisa mengambang di udaran. Dia langsung diam dan tersenyum kikuk menahan malu yang terasa sampai ke ubun-ubun.


Seandainya bisa menghilang, mungkin saat itu dia akan menghilang dari hadapan Papa mertua dan Kakak Iparnya.


"Se,,selamat malam Pah,," Sapa Nisa kikuk. Dia membungkuk sopan di depan Tuan Chandra yang datang bersama kedua anaknya.


"Hmm,," Tuan Candra hanya melirik acuh. Sampai detik ini dia masih saja memandang Nisa sebelah mata. Hanya karna Nisa bukan dari keluarga yang bisa memberikannya keuntungan dalam perusahaan.


"Ada hal penting yang harus kami bicarakan, jadi aku mengajak Papa dan Devan ke apartemen. " Ujar Andreas menjelaskan. Rupanya dia bisa membaca kebingungan dari sorot mata Nisa.


"Tidak apa, aku justru senang karna Papa mau datang kemari." Nisa menahan kegugupan nya dengan pura-pura tenang.


"Silahkan masuk Pah," Ajaknya sembari memberikan jalan pada Tuan Chandra.


"Kebetulan sekali aku masak banyak, kita bisa makan malam bersama." Nisa tersenyum lebar. Dia terlihat senang dan antusias untuk makan malam bersama keluarga Andreas di apartemen.


Tidak peduli dengan permasalahan yang ada, dia juga sudah melupakan apa yang pernah terjadi di antara dia dan Devan di masa lalu.

__ADS_1


Kini tujuannya hanya meraih kebahagiaan bersama Andreas setelah membuka hati dan menjalani semuanya dari awal.


"Saya tidak lama disini." Jawab Tuan Chandra sembari melangkah masuk ke dalam apartemen.


Secara tidak langsung Tuan Chandra menolak untuk makan malam. bersama.


"Devan, Andreas, jangan membuang-buang waktu." Ujarnya yang sudah melangkah jauh memasuki apartemen.


Devan tampak menarik nafas dalam. Sejak tadi dia tak bersuara, namun pandangan matanya gak pernah lepas dari Nisa. Laki-laki itu terlihat berat untuk masuk kedalam apartemen yang di tempat oleh Nisa dan Andreas.


"Aku duluan,," Pamit Devan. Dia menyusul langkah Tuan Chandra selesai pamit pada Andreas dan Nisa.


"Jangan pikiran ucapan Papa." Kata Andreas seraya berjalan maju dan merangkul mesra pinggang Nisa.


Nisa mengulas senyum sambil mengangguk paham. Dia sudah tau seperti apa watak Tuan Chandra, jadi enggan mempermasalahkan ataupun memikirkan perkataannya.


Andreas merangkul Nisa masuk ke apartemen setelah menutup pintu.


Beberapa detik kemudian tampak menghirup dalam-dalam aroma parfum yang mampu memanjakan pikirannya.


"Apa kamu menumpahkan 1 botol parfum ke tubuhmu.?" Bisik Andreas meledek, tapi dia semakin menempel pada Bisa dan menciumi pipinya berulang kali.


Dia tampak cemberut, karna bukannya mendapatkan pujian, Andreas malah meledeknya.


Andreas tertawa. Tawanya yang renyah membuat Devan menghentikan langkah dan menoleh kebelakang. Dan sepertinya nasib sial selalu menyertainya dimana dan kapanpun.


Dia hanya bisa diam dengan tajam begitu melihat Andreas tengah mencium bibir Nisa dengan rakus dsn penuh gairah.


Tak mau merasakan hawa panas karna cemburu, Devan buru-buru menyusul sang Papa yang sudah masuk ke dalam ruang kerja.


"Ya ampun Andreas,," Nisa mendorong dada bidang Andreas. Laki-laki itu santai saja menciumnya di ruang tamu, padahal Tuan Chandra dan Devan baru sana satang. Untuk saja mereka tidak melihatnya.


...*****...


Sudah 30 menit ketiga laki-laki itu berada di dalam ruang kerja Andreas. Sementara itu, Nisa baru selesai menambahkan menu makanan karna khawatir makanannya tidak akan cukup untuk di makan berdua.

__ADS_1


Suara derap langkah membuat Nisa menoleh. Tampak Devan yang baru saja masuk ke area dapur. Kakak iparnya itu tengah berjalan ke arahnya.


"Aku mau ambil minum." Kata Devan. Dia berbelok ke arah lemari pendingin dan mengambil minuman kaleng dari dalam sama.


"Aku harap kamu bisa selalu berhati-hati di depan Andreas." Ucapnya dengan tatapan teduh.


Sebenernya alasan ingin minum air dingin hanya alasannya saja untuk bisa bertemu dengan Nisa dan kembali mengingatkan Niat jahat Andreas.


Nisa tampak menghela nafas kasar. Dia tidak suka jika Devan kembali menuduh Andreas.


"Tidak perlu mencemaskan istri orang lain." Jawab Nisa datar.


"Aku sudah nyama dengan hidupku, serta dengan kebahagiaan ku bersama Andreas."


"Jadi apapun yang kamu katakan tentang Andreas, aku tidak akan mempercayainya." Ujarnya penuh penekanan. Dia menatap tak suka pada Devan karna selalu berusaha utnuk menjatuhkan Andreas.


"Tapi kali ini kamu harus percaya padaku. Andreas mengatakan langsung kalau dia akan membuat hidupmu menderita." Devan menatap memohon.


"Andreas membenciku karna dia menganggapku telah merebut Irene."


"Sebagai gantinya, dia menjadikanmu istri karna dia tau kalau aku masih mencintaimu."


"Andreas beranggapan kalau aku akan hancur jika melihatmu juga hancur."


"Kamu harus,,


"Sayang,, apa makan malam untuk kami sudah siap.?" Suara Andreas membuat Devan langsung terdiam. Dia menghela nafas kasar karna belum berhasil membuat Nisa percaya dengan kata-katanya.


"Devan.?" Andreas mengerutkan keningnya saat melihat Devan ada di dapur bersama Nisa.


"Bukannya kamu pamit ke toilet.?" Ujarnya.


"Ya, aku langsung pergi ke dapur karna ingin minum air dingin." Jawab Devan acuh. Dia lalu bergeser menjauh dari Nisa.


...****...

__ADS_1


Jangan lupa baca novel "Meluluhkan Hati CEO Kejam" ada di akun Ratna wullandarrie



__ADS_2