
"Nanti malam hari pernikahan adik kamu El, apa tidak bisa di tunda ke Jakartanya.?" Amira tampak memohon pada wanita yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri.
"Aku sudah tau Mah, tidak perlu di pertegas lagi." Elena menjawab malas. Dia semakin kesal saja karna pernikahan adik tirinya itu benar-benar akan terjadi.
"Lagipula ada atupun tanpa aku, pernikahan Tiara tidak akan batal kan.?" Ujarnya sewot.
Elena menarik koper besar berisi baju-bajunya.
Dia baru saja pamit pada kedua orang tuanya kalau hari pergi ke Jakarta selama 1 minggu ke depan karna urusan pekerjaan.
"El,,, jangan bicara seperti itu." Tegur Amira lembut. Di genggamnya tangan Elena untuk menahan putrinya itu agar tidak pergi.
"Sejak kecil kalian hidup bersama. Kehadiran kamu di pernikahan Tiara pasti akan sangat berarti baginya." Tuturnya yang tengah berusaha memberikan pengertian pada Elena.
"Aku hanya orang asing, kehadiranku tidak akan berarti dan berpengaruh apapun untuk pernikahan Tiara." Elena menekankan kalimatnya.
Wanita berusia 22 tahun itu bergegas keluar dari kamar dengan suasana hati yang buruk.
"Kak, mau kemana.?" Tiara mencekal pergelangan tangan Elena. Keduanya saling pandang dengan tatapan tajam penuh permusuhan bagi Elena. Sedangkan Tiara menatap tajam lantaran mencurigai Elena di balik laporan palsu dari dokter.
"Lepas.! Bukan urusanmu." Elena menepis kasar tangan Tiara dan kembali berlalu. Tiara bergegas mengejarnya, dia berhasil mencegah Elena di teras rumah.
"Aku tidak peduli Kak Elena mau pergi kemana.!" Sinis Tiara geram. Sudah cukup selama ini dia bersikap baik pada Elena namun tidak pernah di hargai sedikitpun oleh saudara tirinya itu. Elena justru terus mengibarkan bendera permusuhan padanya. Apapun yang dia lakukan selalu salah di mata Elena. Jadi untuk apa masih bersikap baik padanya.
Elena tersenyum kecut mendengar ucapan Tiara.
"Kalau begitu biarkan aku pergi.!" Bentak Elena yang kembali menepis tangan Tiara.
"Aku tidak akan membiarkan Kak Elena pergi sebelum Kakak mengakui apa yang sudah Kakak lakukan padaku.!" Teriak Tiara.
Suara teriakannya sampai terdengar oleh Amira dan membuat wanita paruh baya itu bergegas keluar dari rumah.
"Elena, Tiara, ada apa ini.?" Kecemasan tergambar di raut wajah Amira. Dia menghampiri kedua putrinya yang sama-sama bukan terlahir dari rahimnya.
"Apa.?!! Memangnya apa yang sudah aku lakukan padamu.?!" Teriak Elena dengan tatapan tajam. Kehadiran Amira seolah tak berpengaruh apapun sampai Elena berani berteriak.
"Kak El tidak perlu pura-pura.! Hasil laporan dari rumah sakit pasti ada campur tangan dari Kak Elena kan.?!" Tuduh Tiara. Dia mendesak Elna untuk mengakuinya.
__ADS_1
Elena mengukir senyum sinis.
"Kenapa.? Apa gara-gara hasil laporan itu, pernikahmu jadi batal.?" Tanyanya dengan nada mengejek.
"Elena,, Tiara, apa yang kalian bicarakan.?" Amira tampak kebingungan. Dia tidak tau permasalahan yang ada di antara kedua putrinya itu.
"Kalau memang batal, aku orang pertama yang akan tertawa bahagia.!" Sinis Elena penuh penekanan.
Tiara mengepalkan kedua tangannya. Tanpa sadar dia mendorong Elena hingga wanita itu terjatuh.
"Aku salah apa sama kamu hah.?!!" Teriak Tiara dengan air mata yang sudah mengalir.
"Yampun Ti,, kenapa kamu mendorong Kakakmu." Amira berusaha menolong Elena, tapi tangannya langsung di tepis kasar.
"Tidak perlu pura-pura peduli.!" Bentaknya pada wanita yang sudah merawat dan membesarkannya sejak kecil.
"Kalau Mama membenciku, kenapa tidak buang aku saja sejak dulu.! Tidak perlu merawat anak dari wanita ja l*ng.!" Teriak Elena dengan suara tercekat. Dia menekankan kalimat terakhir untuk menyadarkan Amira bahwa dia sakit dan terluka atas ucapan Amira beberapa tahun silam yang gak sengaja dia dengar.
"Elena,,," Suara Amira bergetar. Matanya berkaca-kaca. Kini dia menyadari kenapa beberapa tahun terakhir sikap Elena berubah.
Dia berjalan cepat dengan menarik koper, tidak memperdulikan teriakan Amira dan Elena yang melarangnya pergi.
Wanita itu kemudian masuk ke dalam taksi yang sejak tadi sudah menunggu di seberang rumahnya.
...*****...
Siang ini Aditya datang ke rumah Tiara. Dia ingin membuktikan sendiri tentang kebenaran hasil laporan dari dokter.
Kemarin dia terpaksa cerita pada Andreas dan Nisa lantaran mereka berdua terus mendesaknya. Mungkin karna mereka melihat Aditya yang tampak kacau, jadi mereka bisa menebak kalau Aditya sedang berada dalam masalah.
Dan setelah menceritakan semuanya, Nisa menyuruh Aditya untuk membawa tes kehamilan ke rumah Tiara.
"Maaf karna sudah berfikir macam-macam padamu." Sesal Aditya seraya menggenggam tangan Tiara.
Dia sudah melihat hasil tespek yang baru saja di lakukan oleh Tiara. Dan hasilnya Tiara samasekali tidak hamil.
"Tidak apa Kak,, siapapun pasti akan percaya dengan hasil laporan dari dokter." Ucap Tiara. Dia memaklumi sikap awal Aditya saat pertama kali membaca hasil laporan dari dokter.
__ADS_1
"Semua ini ulah Kak Elena yang menginginkan pernikahanku batal." Tiara menundukkan kepala. Ada rasa kecewa dan sedih saat mengingat Elena.
Setelah mengetahui asal usul Elena dari Mama Amira, ada perasaan iba pada Elena.
Selama ini Kakaknya itu memendam kesedihan seorang diri.
"Lalu sekarang dia pergi begitu saja setelah membuat kekacauan.?" Nada bicara Aditya meninggi karna menahan amarah pada Elena.
"Aku akan menyuruh orang untuk mencarinya." Ucap Aditya yang tampak tidak sabar untuk memberikan pelajaran pada Elena.
"Tidak perlu Kak, biarkan saja Kak Elena pergi."
"Dia butuh waktu untuk menenangkan diri." Cegah Tiara. Meski sebenarnya dia juga kecewa dan marah pada Elena, tapi mengingat apa yang sedang di rasakan oleh Kakaknya itu, Tiara tidak mau membuat Elena semakin kacau.
...*****...
"Sayang,,, apa kamu lihat ponselku.?" Andreas menyelonong masuk ke dalam ruang kerja Nisa.
Tadinya dia sedang menemani Kenzie bermain, tapi setelah itu putranya mengantuk dan akhirnya membawa Kenzie ke kemar untuk menemaninya tidur. Saat kembali ke ruang bermain Kenzie, ponselnya sudah tidak ada.
"Kamu membiarkannya tergeletak di lantai, jadi aku mengambilnya." Ucap Nisa yang kemudian mengambil ponsel di atas mejanya dan menyodorkannya pada Andreas dengan ekspresi datar.
"Makasih sayang," Andreas mengambil ponselnya dari tangan Nisa.
"Aku harus menghubungi temanku. Dia bilang akan tiba siang ini di Batam. Mungkin sekarang sudah tiba di bandara." Tuturnya panjang lebar.
Nisa hanya tersenyum tipis dan kembali fokus pada laptopnya. Dia sedang melihat perkembangan bisnis barunya di bidang skincare yang baru berjalan 1 bulan itu.
Sementara itu, Andreas yang baru membuka aplikasi chat di buat membulatkan matanya lantaran melihat chat dari seorang wanita yang meruapakan anak dari rekan bisnisnya di Amerika.
Andreas buru-buru membuka chat tersebut dan membacanya. Meski dia tau kalau chat itu sudah di buka sebelumnya. Dan sudah pasti Nisa yang membukanya.
"Apa kabar Tuan Andreas.
"Daddy bilang, kamu ada di Batam. Jadi aku sengaja ikut untuk bertemu denganmu. Apa kau bisa meluangkan waktu untukku.?"
Andreas menghela nafas berat setelah membaca chat tersebut. Dia jadi harus meluangkan waktu untuk menjelaskan pada Nisa.
__ADS_1