Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 144


__ADS_3

"Kenapa senyum-senyum.?!" Ketus Tiara. Gadis cantik itu menatap sinis pada sosok laki-laki yang tengah duduk santai di depan meja makan sembari menatap layar ponsel di tangannya.


Untuk kedua kalinya Aditya kembali datang ke rumah Nisa, beralasan ingin mengajak Tiara makan siang di luar, tapi selalu berakhir dengan mencicipi masakan buatan Tiara.


Kedatangan Aditya sebenarnya membuat Tiara terganggu. Seandainya dia tuan rumah, pasti tak akan mengijinkan Aditya masuk ke rumah itu. Karna keputusannya sudah tepat dengan menjaga jarak dengan Aditya untuk menghindari sakit hati.


"Akhirnya berhasil juga. Minumannya manjur." Gumam Aditya yang mengabaikan pertanyaan Tiara. Dia sedang fokus membaca pesan dari Andreas yang mengatakan jika kepulangannya ke Amerika akan di tunda minggu depan.


Walaupun Aditya tak tau pasti apa yang terjadi antara Nisa dan Andreas di Bali, tapi dengan keputusan Andreas menunda kepulangannya ke Amerika, Aditya bisa menebak sesuatu dalam tanda kutip (") telah terjadi di antara mereka berdua. Andreas juga memperpanjang liburannya dan baru akan pulang besok pagi.


Sepertinya usaha Aditya yang memesan minuman pemersatu itu tidak sia-sia, akhirnya dia bisa membebaskan bosnya dari penderitaannya selama bertahun-tahun.


Walaupun mengirimkan minuman itu sangat beresiko dan mempertaruhkan kelangsungan hidupnya, Aditya memberanikan diri dengan keyakinan jika minuman itu akan membuat hubungan Nisa dan Andreas membaik.


Karna jika sampai hubungan mereka memburuk berkat minuman itu, Andreas pasti tak akan tinggal diam dan akan mencari tau siapa orang yang sudah mengirimkan minuman tak berakhlak itu. Bisa-bisa Andreas memecat atau bahkan menguburnya hidup-hidup.


"Dasar aneh.!" Tiara sampai mencibir Aditya gara-gara bicara dan senyum-senyum sendiri.


Aditya jelas mendengarnya, namun responnya hanya sebuah lirikan sekilas. Dia kembali fokus pada ponsel di tangannya untuk membalas pesan dari Andreas.


"Kenapa.? Kamu penasaran.?" Tanya Aditya seraya meletakkan ponsel di atas meja. Walaupun terkesan tak menghiraukan Tiara, tapi diam-diam Aditya memergoki Tiara curi-curi pandang padanya.


Tiara mengedikkan bahunya acuh.


"Tidak.! Untuk apa penasaran." Sangkalnya. Dia pura-pura acuh tapi sebenarnya penasaran. Entah siapa yang telah mengirimkan pesan pada Aditya sampai laki-laki tampan itu senyum-senyum sendiri.


"Cepat habiskan makanannya dan kapan Kak Adit pulang.?" Tiara tak pernah bosan untuk mengusir Aditya dari sana. Dan sepertinya Aditya juga tak bosan mendengar Tiara mengusirnya. Laki-laki itu acuh saja meski terang-tetangan di usir.


"Berhenti mengusirku, justru aku akan menginap malam ini."


"Uhhukk,,, uhhuukkk,,"


Tiara yang baru saja meneguk air minum dibuat tersedak oleh ucapan Aditya. Matanya membulat sempurna. Seenaknya saja Aditya bilang akan menginap, memangnya siapa yang mau mengijinkan laki-laki itu menginap. Kalau laki-laki itu menginap, yang ada Tiara semakin naik darah dengan semua sikap Aditya yang seenaknya.


"Tidak.! Kak Adit tidak boleh menginap disini." Tiara menolak keras. Yang benar saja kalau sampai mengijinkan Aditya menginap.

__ADS_1


"Pemilik rumah sudah mengijinkan." Sahut Aditya tegas.


"Jangan mengarang.! Mana mungkin Bu Nisa mengijinkan Kakak menginap disini." Tiara tak percaya dengan ucapan Aditya. Majikannya itu pasti tak akan membiarkan laki-laki menginap di saat hanya ada asisten rumah tangganya saja yang ada di dalam rumah.


"Telfon saja kalau tidak percaya." Dengan percaya diri Aditya menyuruh Tiata menelfon pemilik rumah untuk memastikan.


Dan perdebatan itu terus berlanjut karna Tiara menolak untuk menghubungi Nisa. Karna yakin Aditya hanya mengarang cerita.


...*****...


"Jangan menatapku terus, cepat makan." Nisa menegur Andreas tanpa menatap matanya. Di saat dia sedang makan siang sembari menyuapi Kenzie, Andreas justru diam menatapnya tanpa kedip seraya mengukir senyum tipis. Nisa sampai di buat salah tingkah oleh tatapan dalam penuh cinta dari Andreas.


Senyum Andreas semakin merekah setelah Nisa menegurnya. Tangannya mulai bergerak menuruti perintah Nisa dengan menyantap makan siangnya. Namun kedua manik matanya kembali menatap Nisa di saat makanan sudah masuk kedalam mulut.


Mata Andreas berbinar, hal paling indah yang dia rasakan saat ini adalah bisa memandang lekat wajah Nisa tanpa rasa sakit dan perasaan putus asa. Karna kini wajah cantik yang tengah dia tatap itu telah kembali dalam pelukannya.


Entah bagaimana caranya mengungkapkan kebahagiaan yang sedang menyelimuti hatinya saat ini. Sepertinya hanya sebuat kalimat saja tak akan cukup untuk menggambarkan bahwa saat ini dia sangat bahagia.


Bisa kembali pada Nisa dan berkumpul dengan putranya adalah sebuah anugrah terbesar dalam hidupnya.


Penderitaan serta penyesalan yang dia rasakan selama ini sudah cukup untuk di jadikan pelajaran yang berharga. Kini dia akan menyongsong kehidupan yang jauh lebih baik bersama keluarga kecilnya.


"Terimakasih Anissa,," Ucap Andreas penuh rasa syukur.


Mungkin sudah puluhan kali Andreas berterimakasih pada Nisa. Wanita itu sampai bingung harus bagaimana lagi merespon ucapan Andreas. Sedangkan Andreas masih saja mengucapkannya meski sudah diminta untuk tidak berterimakasih lagi padanya.


"Kamu sudah banyak mengucapkan terimakasih Andreas." Sahut Nisa.


"Kalau bisa di gantikan dengan barang, mungkin sudah satu kamar penuh." Ujarnya bercanda, namun dengan nada bicara dan ekspresi yang tampak serius hingga membuat Andreas berfikir kalau Nisa serius mengatakannya.


"Kalau begitu setelah makan kita pergi ke mall." Ajak Andreas dengan antusias. Nisa sampai menatap heran dengan dahi yang berkerut.


Dia berfikir keras kenapa tiba-tiba Andreas mengajak pergi ke mall. Padahal agenda mereka setelah makan siang adalah pergi ke tampat wisata lain.


"Ya ampun Andreas, jangan bilang kamu mengajakku ke mall karna ingin membelikan barang yang aku maksud tadi.?" Tebak Nisa seraya menahan tawa. Setelah berfikir beberapa detik, Nisa baru menangkap ucapan Andreas. Ternyata laki-laki itu menganggap serius ucapannya.

__ADS_1


Anggukan Andreas hampir membuat Nisa melepaskan tawa, namun dia berusaha untuk menahannya.


"Astaga, aku hanya bercanda. Itu hanya kiasan saja karna kamu terus mengucapkan terimakasih padaku." Jelas Nisa.


Sepertinya hidup Andreas terlalu serius sejak mereka tidak bertemu.


...*****...


"Zie mau tulun Papi,," Andreas junior yang tampan dan menghempas itu meminta turun dari gendongan Papinya.


Dia sangat antusias saat melihat playground walau dari kejauhan.


"Ok sayang,," Andreas bergegas menurunkan putranya yang sudah tidak sabar untuk pergi ke playground.


Begitu di turunkan, Kenzie langsung berlari.


"Sayang jangan lari-lari nak,," Pinta Andreas yang berusaha untuk mencegah putranya.


Nisa mengulum senyum melihat kepanikan Andreas.


"Lain kali jangan asal di turunkan saja Ndre." Tegur Nisa pelan.


"Maaf, aku tidak tau Zie akan lari secepat itu." Andreas tampak merasa bersalah.


"Aku kejar Zie dulu." Pamitnya dan setengah berlari mengejar putranya itu.


Begitu berhasil menangkap Kenzie, Andreas langsung menggendongnya lagi karna khawatir putranya jatuh ataupun menabrak orang di sana.


Nisa menatap keduanya dari kejauhan. Meski ikut senang melihat kebahagiaan mereka berdua, namun masih ada yang mengganjal di hatinya.


Dia takut dengan keputusan yang sudah dia ambil. Takut jika suatu saat hatinya akan terluka dan hancur lagi karna di tinggalkan untuk kesekian kalinya.


Cinta memang bisa membuatnya bahagia, Nisa tak memungkiri hal itu. Dia pernah bahagia bersama Devan dan Andreas karna cinta, namun kehancuran yang dia rasakan juga akibat cinta.


"Momi ayo sini,,!!" Teriakan Kenzie membuyarkan lamunan Nisa. Putranya bitu mengajaknya untuk masuk ke dalam playground.

__ADS_1


Nisa mengangguk dan buru-buru menghampiri mereka.


__ADS_2