
"Sebaiknya kita tunggu di tempat lain saja." Aditya beranjak dari depan ruang rawat inap Kenzie.
Dia pergi setelah melihat bosnya masuk ke dalam dan tak kunjung keluar, jadi memutuskan untuk pindah ke tempat lain karna tak mau mengganggu bosnya yang saat ini mungkin sedang berusaha untuk mendapatkan maaf dari Nisa dan tentunya untuk melihat putranya.
Tiara mengangguk tanpa kata. Dia mengekori langkah Aditya di belakang, menatap punggung lebar laki-laki berbadan tinggi itu.
Senyumnya mengembang, debaran hati tak bisa di hindari. Bahkan ketika menatap punggungnya saja sudah membuatnya tak karuan.
Tapi pantaskah jika wanita sepertinya mencintai Aditya.?
Meski Aditya hanya seorang asisten pribadi, namun Tiara merasa jika dia dan Aditya bagaikan bumi dan langit.
"Apa Kenzie sering sakit.?" Aditya menoleh sekilas, mengajak gadis di belakangnya untuk berbicara. Karna jika tidak di ajak bicara, gadis cantik itu akan diam seribu bahasa.
Selain ingin mengajaknya bicara, Aditya juga berniat mencari informasi tentang keseharian istri dan anak bosnya itu. Setidaknya ada yang bisa dia informasikan pada Andreas.
Karna bosnya itu sangat penasaran dengan kehidupan mereka selama ini.
Tiara mempercepat langkah, sedikit mensejajarkan diri dengan Aditya agar mudah berbicara dengannya.
"Ini pertama kalinya Kenzie di rawat. Zie jarang sakit, mungkin karna dia mengerti kalau Mominya sibuk bekerja untuk masa depannya." Jawab Tiara.
Aditya menatap serius, dia berfikir bahwa Andreas pasti akan tertampar setelah mendengar cerita ini darinya.
Perjuangan Nisa terlalu besar untuk kelangsungan hidup putranya yang layak. Bekerja keras demi mewujudkan semua itu.
"Kamu pasti tau banyak hal tentang kesulitan Nona Nisa selama ini." Timpal Aditya. Dia terus membuka obrolan agar semakin tau banyak tentang kehidupan sulit Nisa selama 3 tahun terakhir.
"Tentu saja, aku sudah bekerja dengan Bu Nisa sejak Kenzie masih dalam kandungan. Saat itu usia kandungan Bu Nisa baru 3 bulan." Senyum sendu terukir di bibir tipis Tiara.
__ADS_1
Setelah itu Tiara menceritakan awal mulai pertemuannya dengan Nisa. Dia masih ingat pertama kali bertemu dengan Nisa secara tidak sengaja di pusat perbelanjaan. Berawal dari menolong ibu hamil yang sedang kesulitan membawa barang belanjaan, berakhir menjadi asisten rumah tanggannya.
Dulu Nisa menempati rumah kecil yang dia sewa. Usahanya juga belum sebesar sekarang. Namun Tiara tau kalau Nisa memiliki usaha yang sama di Jakarta dan usaha itu sudah cukup besar.
Dia tau lantaran Mella sering berkunjung ke Batam untuk menjenguk Nisa sekaligus membicarakan soal perkembangan bisnis mereka yang berada di Jakarta.
Selama hampir 2 tahun majikannya itu memilih hidup sederhana demi mengembangkan usahanya di Batam.
Tak pernah membeli barang branded seperti pengusaha-pengusaha muda yang lain.
Lebih memilih menyimpan uangnya untuk mendirikan kantor.
...*****...
Nisa cukup kaget saat Kenzie mengulurkan tangan pada Andreas dan bersedia untuk di gendong.
Tak ada yang bisa Nisa lakukan selain membiarkan Andreas menggendong Kenzie dan membiarkan putranya merasakan di gendong pertama kali oleh ayah kandungnya setelah 2 tahun dia di lahirkan.
"Makasih,," Andreas merasa tersentuh dengan kebaikan Nisa. Di tengah rasa sakit dan kekecewaan Nisa terhadapnya, wanita itu masih mau membantunya.
Nisa tak merespon, memilih bergeser menjauh dan duduk di sofa setelah mengambilponselnya dari dalam tas. Dia memberikan ruang pada Andreas agar leluasa menggendong dan berbicara dengan Kenzie.
Menatap Kenzie dengan mata berkaca-kaca, Andreas tak kuasa membendung air matanya lantaran bisa menggendong dan menatap lekat wajah putranya dalam jarak yang sangat dekat.
"Om nangis,,?" Pertanyaan Kenzie membuat Andreas tertawa kecil. Dia benar-benar sangat bahagia mendengar Kenzie bicara padanya.
Meski ada sedikit rasa sesak di dada karna di panggil dengan sebutan Om oleh darah dagingnya sendiri.
"Tidak, Papi tidak menangis." Andreas buru-buru menghapus air matanya. Harusnya dia menahan diri untuk tidak menangis di depan putranya. Tapi siapa yang bisa membendung air mata setelah di beri kesempatan untuk bertemu dan menggendong putra yang selama ini tidak dia ketahuan kehadirannya.
__ADS_1
Di peluknya erat tubuh mungil Kenzie, Andreas mendaratkan kecupan berulang kali di pucuk kepala putranya.
"Kenzie mau jalan-jalan sama Papi.? Nanti kita beli banyak mainan,," Ujar Andreas antusias.
Kenzie mengangguk cepat, putra kecilnya itu tampak senang di tawari pergi jalan-jalan.
"Mau,, Zie mau jalan-jalan,," Jawabnya.
"Kalau begitu Kenzie harus sembuh, tidak boleh sakit lagi seperti ini." Suara Andreas tercekat. Nyatanya ada yang lebih menyakitkan di banding di panggil Om oleh putranya sendiri. Hal yang lebih menyakitkan itu adalah ketika melihat putranya sakit hingga harus di pasang infus seperti dirinya.
Saat pertama kali mendengar kabar bahwa Kenzie akan dilarikan ke rumah sakit, dia bahkan buru-buru turun dari ranjang untuk menyusul Kenzie ke rumahnya.
Beruntung setelah itu dia kembali mendap kabar dari Aditya bahwa Kenzie akan di bawa ke rumah sakit yang sama dengannya.
Sementara itu Nisa tidak jadi membalas pesan dari rekan bisnisnya. Dia seolah terhipnotis setelah mendengar percakapan Andreas dan Kenzie yang terdengar menyayat hati.
Apalagi saat melihat Kenzie menempel pada Andreas.
Putranya itu sampai meletakkan kepalanya di bahu Andreas, benar-benar seperti sedang melepas rindu.
Nisa menarik nafas dalam, mungkin sudah waktunya dia memberikan kesempatan pada Andreas untuk dekat dengan putranya.
Meski hati masih terluka setiap kali melihat wajah Andreas, namun apapun akan dia lakukan demi kebahagiaan Kenzie.
Dia akan memberikan ruang dan kesempatan pada Andreas untuk menjalin hubungan baik dengan putra mereka, namun tak akan memberinya kesempatan untuk hadir kembali dalam hatinya.
Sudah cukup penderitaan yang dia alami karna jatuh cinta, Nisa enggan mengulangi kebodohan itu lagi. Baginya cinta hanya akan membuatnya bodoh dan mudah untuk di sakiti.
Cukup 2 kali di tinggalkan begitu saja oleh 2 orang laki-laki. Nisa tak mau mengulang sejarah kelam yang membuatnya trauma.
__ADS_1
Dia memilih untuk hidup sendiri bersama putranya. Tak akan ada patah hati untuk ketiga kalinya.