
"Berani sekali meninggalkanku di ranjang sendirian." Ucap Andreas yang tiba-tiba memeluk Nisa dari belakang. Sontak membuat Nisa terperanjat kaget dan reflek memukul tangan kekar yang tengah memeluknya.
"Andreas,, Kau ini,,!" Pekik Nisa kesal.
Andreas hanya terkekeh kecil, kemudian membalik tubuh Nisa dan kembali memeluknya dalam posisi berhadapan.
"Kamu melewatkan ritual pagi kita." Kata Andreas dengan tatapan menggoda. Tangannya sudah mulai menyusuri punggung Nisa.
"Aku sedang memasak Andreas, nanti saja kalau sudah selesai." Nisa menolak untuk tidak melakukannya saat itu juga. Pasalnya dia sedang membuat sarapan bahkan hampir selesai 40 persen lagi. Sayang rasanya kalau harus berhenti memasak untuk melakukan ritual pagi yang selalu mereka lakukan setiap hari.
"Kamu masih bisa melakukannya sambil memasak." Jawab Andreas dengan entengnya. Sontak Nisa melongo. Dia memikirkan bagaimana kegiatan panas itu berlangsung bersamaan dengan memasak.
"Mana bisa Andreas,,,?!" Tanya Nisa sedikit protes.
"Biar aku lanjutkan memasaknya, 15 menit lagi selesai." Nisa mencoba untuk bernegoisasi. Berharap Andreas membiarkannya menyelesaikan pekerjaan memasaknya lebih dulu sebelum melakukan tugasnya sebagai seorang istri.
"Tentu saja bisa." Lagi-lagi Andreas menggampangkan hal itu.
"Seperti ini,," Katanya sembari menurunkan kain dari balik dress yang dikenakan oleh Nisa.
"Ya ampun Andreas,,!!" Nisa melotot kaget. Suaminya itu benar-benar gila dalam urusan bercocok tanam. Apapun akan dia lakukan agar bisa melakukannya detik itu juga.
"Kamu yang benar saja, mana mungkin kita akan melakukannya disini.? Dalam keadaan aku sedang memasak.??" Seru Nisa tak habis pikir. Ekspresi wajahnya antara kesal, bingung dan tak habis pikir dengan kelakuan konyol suaminya.
Sementara itu, Andreas hanya mengulum senyum. Dia gemas sendiri melihat reaksi Nisa yang di ajak melakukannya di dapur dan dalam keadaan sedang memasak.
"Sudah tidak perlu protes, kamu fokus saja memasak. Aku juga akan fokus memberimu kenik -matan." Bisik Andreas lalu mendaratkan ciuman panas di bibir Nisa.
Sebelumnya Andreas sudah mematikan kompor yang tadi masih menyala.
Nisa yang mendapatkan serangan itu tak bisa berbuat banyak. Dia juga tidak mungkin menolak permintaan Andreas dalam keadaan sudah seperti ini.
Cukup lama melakukan pemanasan, Andreas segera mengangkat tubuh Nisa dan mendudukkannya di samping wastafel.
Dia menyingkap dress Nisa ke atas, membuka sedikit kedua paha Nisa.
__ADS_1
"Kamu yakin Ndre kita akan melakukannya disini.?"
"Siapa yang akan membersihkan,,,
Nisa tak melanjutkan ucapannya karna Andreas meletakkan jari telunjuk di pada bibirnya.
"Aku yang akan membersihkannya,," Kata Andreas.
Tidak masalah jika dia harus membersihkan cairan mereka berdua, asal hasratnya yang sudah di ubun-ubun bisa tersalurkan.
Bisa tak bisa mengatakan apapun, dia pasrah saja dengan keinginan Andreas.
Tak berselang lama, suara khas percintaan mereka mulai memenuhi dapur. Menjadi irama indah yang mengiringi kegiatan panas mereka di pagi hari.
Andreas yang sebelumnya menyuruh Nisa agar fokus memasak, justru tak memberikan Nisa kesempatan untuk meneruskan kegiatan memasaknya itu.
Lagipula bagaimana Nisa bisa memasak sedangkan Andreas membawanya jauh dari kompor.
Erangan panjang menjadi akhir dari percintaan panas yang selalu mereka lakukan setiap hari.
Entah sudah berapa kali Andreas menumpahkan benihnya di dalam rahim Nisa. Dengan harapan istrinya itu bisa mengandung darah dagingnya.
"Sudah lama kamu melupakan pengaman dan membuangnya di dalam." Ucap Nisa lirih.
"Apa kamu sudah siap untuk memiliki anak.?" Nisa bertanya dengan hati-hati. Dia teringat obrolannya bersama Andreas saat membahas masalah anak untuk pertama kalinya.
Andreas mengatakan belum siap memiliki anak karna banyak hal yang harus dia persiapkan untuk menjadi orang tua agar kelak tidak seperti sang Papa yang menurutnya gagal menjadi seorang ayah.
"Akhirnya kamu menanyakan hal itu juga." Sahut Andreas. Rupanya sudah lama dia menunggu pertanyaan itu keluar dari mulut Nisa.
"Aku bahkan menantikannya hadir di tengah-tengah kita secepatnya." Kata Andreas sembari mengusap lembut perut Nisa.
"Jadi kapan aku bisa mendengar kabar kehamilan mu.?" Tanyanya dengan tatapan dan suara penuh harap.
Nisa seketika terdiam. Dia tak akan bisa hamil selama masih mengonsumsi pil kontrasepsi yang setiap hari dia telan.
__ADS_1
Sekalipun Nisa mulai menyadari perubahan sikap Andreas yang terlihat semakin tulus dan mencintainya dari waktu ke waktu, namun dia masih belum berfikir untuk mengandung anak Andreas.
"Kamu yakin.?" Tanya Nisa setelah cukup lama terdiam.
"Sangat yakin. Aku menginginkan anak itu hadir secepatnya dalam kehidupan kita." Kata Andreas dengan tatapan dalam.
Nisa bisa melihat keseriusan Andreas dalam menginginkan seorang anak.
...****...
Malam ini Nisa dan Andreas akan menghadiri acara baby shower yang di adakan oleh Irene di sebuah ballroom hotel mewah. Keduanya sudah bersiap-siap untuk pergi.
Tak lupa Nisa membawakan kado untuk calon keponakannya meski 3 bulan lagi baru akan lahir ke dunia.
"Andreas,, kamu dimana.?" Nisa keluar dari kamar sambil mengedarkan pandangan ke semua sudut apartemen.
Suaminya itu pamit keluar kamar untuk menerima telfon dari seseorang.
"Ayo Andreas,, kita harus pergi sekarang." Serunya lagi.
Nisa berjalan ke arah ruang kerja Andreas. Entah kenapa feelingnya mengatakan jika Andreas sedang berada di sana.
Karna jika sudah menerima ataupun menelfon seseorang, Andreas selalu pergi ke ruang kerjanya.
Karna Andreas sangat serius dan tidak mau mendapatkan saat sedang membicarakan urusan pekerjaan.
Pernah suatu ketika saat mereka sedang mengobrol berduaan dalam kamar. Tiba-tiba ponselnya berdering, dan saat itu juga Andreas memberikan isyarat pada Nisa untuk diam. Tak berselang lama, Andreas bergegas pergi dari kamar.
Hal semacam itu tak hanya terjadi dua ataupun tiga kali, melainkan berulang-ulang dan tidak tau sudah berapa kali sejak 2 bulan terakhir.
Terkadang Nisa hanya menatap sendu kepergian Andreas yang di sibukkan dengan pekerjaan.
Nisa membuka pintu ruang kerja Andreas setelah menekan kode aksesnya. Kode akses yang diberi tahu secara langsung oleh Andreas sejak 2 bulan yang lalu. Andreas membebaskan Nisa untuk masuk dan membersihkan ruang kerjanya meski ada peraturan yang tidak boleh di langgar, yaitu tidak boleh sembarangan memindahkan semua berkas, map dan buku-buku yang tertata rapi di rak.
"Ulur waktunya, aku masih ingin melihat mereka men,,,
__ADS_1
"Andreas kamu disini.?"
Suara Nisa mengagetkan Andreas yang segera memutuskan sambungan telfonnya.