
"Sebentar,," Kata Andreas sembari menghentikan gerakan tangan Nisa yang hendak memakan kue di tangannya lagi.
"Ada makan di bibir kamu," Ucapnya sembari mengusap lembut sudut bibir Nisa menggunakan ibu jarinya.
Nisa tertegun, manik matanya menatap lekat wajah Andreas yang begitu dekat dengannya. Wajah tampan Andreas terlihat semakin sempurna dilihat dari jarak yang sangat dekat.
Semua pahatan di wajah Andreas begitu sempurna. Hidung mancung, bibir seksi, alis yang tebal serta rahang tegas, di tambah dengan mata tajamnya yang seolah memiliki daya tarik tersendiri untuk mencuri perhatian lawan jenis.
Keduanya saling pandang, diam dalam posisi seperti itu meski Andreas sudah selesai menyeka sudut bibir Nisa.
Ada sedikit debaran hati yang sedang berusaha di tahan oleh Nisa. Dia mencoba menepis perasaan yang sejak awal ingin dia hindari hingga akhir.
Ya, perasaan itu adalah sebuah rasa ketertarikan yang perlahan mulai hadir dalam hati.
Seiring berjalannya waktu, kebersamaan dan saling membutuhkan membuat perasaan itu tumbuh dengan sendirinya.
"Ya ampun, kalian manis sekali,," Tegur Irene, dia memuji pasangan pengantin baru yang duduk di seberangnya. Memperhatikan Andreas yang baru saja mengusap sudut bibir Nisa untuk membersihkan sisa kue, dan keduanya berakhir dengan saling pandang.
Teguran Irene membuat keduanya kembali pada posisi semula. Nisa tersenyum kaku pada Irene lantaran merasa malu. Berbeda dengan Andreas, dia masih setia dalam mode santai dan ekspresi datar.
"Aku jadi iri, sayang sekali Devan tidak seromantis itu,," Ucap Irene. Dia melirik sekilas pada Devan yang duduk di sebelahnya. Laki-laki itu hanya diam saja sejak tadi tanpa melakukan apapun.
Lagipula bukan keinginannya untuk duduk berempat seperti itu. Namun dia tak bisa menolak permintaan Irene di depan Nisa dan Andreas. Takut hal itu akan membuat Irene malu pada mereka.
"Benarkah.? Aku pikir dia lebih romatis dariku." Tanya Andreas. Dia menatap tajam ke arah Devan sembari mengulum senyum yang terkesan mengejak.
"Aku tau betul sifat Devan, dia tipe laki-laki yang romantis dan setia jika sudah mencintai seseorang yang tepat."
__ADS_1
"Kalau menurutmu Devan tidak romantis, tapi kamu perlu bangga pada kesetiaannya. Kamu tak perlu meragukan lagi kesetiaan Devan karna dia tidak akan bisa berpaling jika sudah mencintai satu wanita." Andreas menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Dia lalu tersenyum smirk pada Devan yang di balas tatapan tajam oleh laki-laki itu.
"Benar begitu bukan.?" Ucap Andreas dengan nada menyindir.
Kedua tangan Devan terlihat mengepal tanpa di sadari oleh Nisa maupun Irene. Karna kedua wanita itu sedang fokus pada pikirannya masing-masing. Memikirkan semua ucapan Andreas yang membuat perasaan keduanya berkecambuk.
"Apa yang perlu aku sangkal, kamu memang sangat mengenalku dengan baik." Sahut Devan.
Dia membenarkan semua ucapan Andreas tentangnya. Karna sebenarnya sifat dia dan Andreas tak jauh berbeda.
Devan dan Andreas adalah tipe laki-laki yang ketika sudah mencintai seseorang, dia akan sangat mencintai dan setia padanya. Mereka berdua sama-sama sulit untuk berpaling. Karna keduanya bukan orang yang mudah jatuh cinta. Mereka akan melalui proses yang panjang untuk mencintai, lalu menempatkan orang yang mereka cintai dalam lubuk hati yang paling dalam. Menjadikan seseorang itu sangat berarti dalam hidupnya.
Itu sebabnya sampai detik ini Devan belum bisa berhenti mencintai Nisa, meski ada seseorang yang memaksa masuk dalam kehidupannya.
Semua itu belum merubah sedikitpun perasaan Devan pada Nisa.
"Apa maksudmu bicara seperti itu di depan Irene dan Nisa.?!" Tegas Devan. Dia menghampiri Devan yang tengah duduk di balkon dengan sebatang rokok di tangannya.
"Apa ada yang salah.? Aku justru membanggakanmu di depan istrimu." Jawab Devan santai. Dia meluruskan pandangan tanpa melirik sedikitpun pada Devan.
"Kenapa harus membanggakanku di depan Irene, bukankah kamu akan semakin terluka jika Irene semakin tergila-gila padaku.!" Ketus Devan. Bukan rahasia lagi tentang perasaan Andreas pada Irene.
Devan sudah tau jika sejak dulu Andreas menyukai Irene. Itu sebabnya Devan memilih pergi dari rumah setelah ada pembahasan soal perjodohan dia dan Irene.
Devan memilih pergi karna tidak mauembuat Andreas sakit hati dengan perjodohan itu. Lagipula dia memang tidak tertarik sedikitpun pada Irene. Jadi pergi dari rumah adalah keputusan yang tepat.
Sampai pada suatu saat dia di pertemuan dengan wanita yang berhasil mencuri hatinya. Wanita yang sampai detik ini masih ada dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku sudah terbiasa merasakan sakit dan terluka. Sekalipun Irene tergila-gila padamu, aku tidak akan peduli lagi dengan hal itu." Ujar Andreas. Dia mematikan rokok di tangannya dengan menekan kuat rokok itu pada asbak.
"Justru aku khawatir denganmu." Kini Andreas menatap Devan dan tersenyum mengejak padanya.
"Suatu saat, kamu akan merasakan luka yang lebih menyakitkan dariku."
"Bagaimana perasaanmu jika suatu saat melihat orang yang kamu cintai hidup menderita.? Sangat menderita sampai tak menginginkan hidup lebih lama." Sinisnya kemudian terkekeh puas.
"Kau.!!" Bentak Devan. Dia sampai mencengkram kerah baju Andreas karna terbawa emosi.
Devan sadar jika semua perkataan Andreas sedang di tunjukan untuk Nisa.
"Jadi benar kamu sudah tau siapa Nisa.?!!" Sentak Devan. Wajah dan matanya sangat merah karna menahan amarah.
Melihat reaksi Devan yang begitu emosi, Andreas justru kembali tertawa. Ini pertama kalinya dia melihat Devan begitu marah padanya.
Andreas menepis kasar tangan Devan. Dia lalu menepuk pundak Devan beberapa kali sembari mengukir senyum lebar, kemudian mendekatkan wajahnya di telinga Devan.
"Yang kamu pikirkan memang benar." Bisik Andreas penuh kepuasan.
"Jadi kapan kamu siap melihatnya hidup menderita.? Aku akan memulainya jika kamu sudah siap." Katanya lalu menjauhkan wajah dari Devan. Andreas tersenyum puas melihat amarah di wajah Devan semakin menjadi.
"Kau gila Andreas.!!! Jangan coba-coba menyakitinya.!" Sentak Devan penuh amarah.
"Semakin kamu tersiksa melihatnya menderita, aku akan membuatnya lebih menderita melebihi yang sudah aku rencanakan." Andreas semakin tersenyum puas. Melihat Devan terluka dan hancur adalah salah satu rencananya selain menghancurkan perushaan sang Papa.
Crraakkk,,,!!!
__ADS_1
Suara benda yang terjatuh membuat keduanya panik. Mereka segera pergi dari balkon untuk mencari sumber suara.