Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 134


__ADS_3

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Tiara sejak meninggalkan restoran. Dia memilih diam, bersikap seolah baik-baik saja meski sebenarnya tidak begitu.


Masih sangat terasa genggaman tangan Aditya yang cukup lama memegang tangannya di depan Eveline. Sesekali usapan lembut di berikan oleh Aditya hanya untuk menunjukkan pada Eveline bahwa hubungan mereka sudah sangat dekat.


Kecantikan dan kesempurnaan Eveline sempat membuat Tiara tak percaya diri, dia takut mempermalukan Aditya di depan wanita karir itu.


Namun sikap yang di tunjukkan oleh Aditya, mampu membuat Tiara percaya diri.


Aditya sangat romantis dalam memperlakukan dirinya di depan Eveline. Dan entah berapa kali Aditya memanggilnya dengan sebutan sayang.


Tak hanya itu saja, Aditya bahkan membantunya memotong steak serta menyuapinya.


Saat itu Tiara bisa melihat gurat kecemburuan dan amarah di mata Eveline, namun wanita itu tak bisa berbuat apa-apa. Dan di akhir pertemuan, Eveline sempat mengucapkan selamat pada Aditya walaupun terlihat terpaksa melakukannya.


"Tiara, kita sudah sampai." Suara Aditya membuyarkan lamunan Tiara. Wanita cantik itu terpaksa mengulas senyum tipis saat menatap ke arahnya.


Menatap cincin berlian di jari manisnya, Tiara bergegas melepaskan cincin itu dari tempat yang tak seharusnya.


"Tidak usah di lepas." Cegah Aditya yang melihat Tiara hampir melepaskan cincin berlian pemberiannya. Cincin itu dia berikan untuk membuktikan pada Eveline bahwa dia sudah bertunangan dengan Tiara, sekaligus sebagai ucapan terimakasih karna Tiara bersedia membantunya dengan berpura-pura sebagai calon istrinya.


Tiara berhenti sejenak untuk manatap Aditya, dia membiarkan cincin itu berada di ujung jarinya.


"Cincin itu memang akan aku berikan untuk kamu." Ucapnya lagi.


"Anggap saja sebagai ucapan terimakasih karna kamu sudah,,,


"Aku tidak pantas memakai cincin semahal ini." Potong Tiara yang kemudian menanggalkan cincin dari jari manisnya.


"Aku kembalikan lagi ke Kakak, mungkin bisa Kak Adit berikan pada calon istri yang sebenarnya nanti." Tiara meraih tangan Aditya dan meletakkan cincin itu di sana.


Senyum di bibir Tiara tampak getir, ada perasaan sesak yang dia tahan sejak masih di dalam restoran namun Aditya tak mengetahuinya. Karna laki-laki itu sedang fokus pada Eveline.


"Untuk tas, sepatu dan,,,


"Kamu akan mengembalikannya juga.?" Aditya tampak menahan tawa.


"Pakai saja, itu untuk kamu." Ujarnya.


“Jangan suka mengembalikan barang pemberian orang, bagaimana kalau orang itu tersinggung." Tuturnya lagi.


Aditya lalu memasukkan cincin di tangannya ke dalam saku celana. Karna cincin itu sudah terlanjur di kembalikan oleh Tiara. Lagipula Tiara pasti akan menolak kalau dia memaksanya untuk nerima cincin itu lagi.

__ADS_1


"Itu karna aku tidak pantas mendapatkannya," Jawab Tiara.


"Pantas atau tidak, apa salahnya menghargai pemberian orang lain." Timpal Aditya dengan suara datar. Namun entah kenapa terdengar seperti sedang meluapkan kekecewaan.


"Sudah malam, nanti Nona Nisa mencarimu." Ucap Aditya yang langsung membukakan pintu untuk Tiara dari dalam.


Tiara sampai menjauhkan badannya karna Aditya terlalu dekat dengannya.


"Makasih sudah membantuku."


Tiara hanya mengangguk kecil, dia buru-buru melepaskan seatbelt dan keluar dari mobil Aditya tanpa sepatah kata.


Berjalan cepat memasuki rumah tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.


"Astaga Eve, kau tidak apa.?"


Aditya sampai beranjak dari kursinya hanya untuk menghampiri Eveline yang ke tumpah kuah sup panas.


Wajahnya tampak cemas, dengan sigap mengambil beberapa lembar tisu dan membersihkan paha Eveline yang sedikit memerah akibat tersiram kuah sup.


"Aku baik-baik saja Ditya, hanya sedikit panas."


Nada bicara Eveline terdengar manja.


Pemandangan dramatis itu membuat Tiara tertegun, entah kenapa dadanya berdenyut nyeri. Meski sadar dengan posisinya yang hanya, tapi rasanya sakit melihat Aditya begitu perhatian dan mencemaskan Eveline.


Tak mau memperlihatkan rasa sakit di depan mereka, Tiara bergegas pamit ke kamar mandi dan membiarkan mereka berdua.


"Lupakan dia Tiara, kamu harus sadar diri." Gumam Tiara seraya mengintip dari balik pintu yang belum dia tutup sempurna. Menatap mobil Aditya yang baru saja keluar dari halaman rumah Nisa.


...******...


"Mau kemana.?" Tanya Andreas saat melihat Nisa beranjak dari ranjang.


"Aku belum menyiapkan baju untuk liburan besok." Jawabnya yang kemudian berjalan ke arah walk in closet.


Andreas melirik putranya, entah sejak kapan putranya itu tertidur. Dia tidak tau lantaran tidur lebih dulu akibat rasa kantuk yang mendera setelah mengonsumsi obat.


Mendaratkan kecupan di kening Kenzie, Andreas kemudian ikut turun dari ranjang untuk membantu Nisa mengemaskan baju.


"Boleh masuk.?" Andreas menjulurkan kepalanya ke ruangan itu. Di lihatnya Nisa yang baru saja mengeluarkan koper dari dalam lemari.

__ADS_1


"Hmm, ada apa.?" Nisa menoleh sekilas.


"Aku ingin membantumu mengemasi baju." Andreas menjawab seraya masuk ke dalam.


"Tidak usah, lagipula hanya sedikit. Tidur lagi saja, sepertinya kamu masih mengantuk." Tolak Nisa.


Namun Andreas justru semakin berjalan mendekat dan berdiri tepat di samping Nisa.


Sejujurnya hanya alasan saja ingin membantu Nisa, karna tujuannya menghampiri Nisa untuk berbicara serius dengan wanita itu.


"Maaf karna sudah lepas dari tanggung jawab selama 3 tahun ini." Suara Andreas terdengar lirih penuh sesal.


"Aku tau kamu sangat mampu menghidupi dirimu sendiri dan juga Kenzie. Dia bahkan tak kekurangan apapun, kamu berjuang keras demi memberikan kehidupan yang layak untuk putra kita." Mata Andreas berkaca-kaca.


Dia merasa sangat buruk dan tidak pantas menjadi seorang ayah. Karna selama ini tak pernah berperan apapun dalam kehidupan Kenzie.


Dia sudah menelantarkan istri dan anak yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya.


"Semuanya sudah terjadi, tidak ada yang perlu kamu sesali lagi." Sahut Nisa.


“Kalau kamu merasa bersalah dan ingin menebus kesalahanmu, berusahalah untuk menjadi ayah yang baik untuk Zie."


"Tidak perlu terbelenggu dalam penyesalan, semuanya sudah berlalu. Aku bahkan tak ingin mengingatnya lagi." Nisa meletakkan koper di atas sofa dan membukanya.


"Kamu punya Zie yang harus di bahagiakan dengan kasih sayang dan kebersamaan kalian." Tambah Nisa lagi. Dia membuka lemari, memilih baju yang akan dia masukan ke dalam koper.


Sementara itu Andreas masih berdiri di tempatnya, memperhatikan setiap gerak gerik Nisa dengan tatapan sendu.


“Aku mengerti, tapi ada yang harus aku berikan selain itu semua." Andreas mengeluarkan dompet dari saku celananya.


Dia mengeluarkan kartu atm yang sejak 2 hari lalu sudah di buatkan oleh Aditya di salah satu bank.


"Ini untuk pendidikan Kenzie sampai dia kuliah nanti." Andreas menyodorkan kartu atm pada Nisa. Wanita itu tampak diam sejenak, menatap kartu di tangan Andreas. Tak lama Nisa mengambilnya.


"Terimakasih, aku menerimanya karna menghargai kamu sebagai Papi Zie." Ucap Nisa.


Lagipula dia hanya akan membuat Andreas mereasa bersalah dan tidak di anggap sebagai orang tua Kenzie jika menolak kartu atm itu.


Entah akan dia pakai atau tidak uang pemberian dari Andreas, yang terpenting dia sudah menerimanya.


"Aku yang seharusnya berterimakasih." Andreas langsung menyeka air mata yang baru saja menetes dari pelupuk matanya. Dia terharu dan sangat bahagia karna Nisa mau menerima uang darinya.

__ADS_1


“Pinnya tanggal pernikahan kita." Ucapnya. Seketika Nisa menatap kedua manik mata Andreas. Bagaimana mungkin dia berfikir untuk menggunakan tanggal pernikahan mereka sebagai pin atm itu. Setelah meninggalkannya selama 3 tahun, Andreas masih mengingat tanggal pernikahan mereka.


__ADS_2