Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 51


__ADS_3

Nisa menoleh kesamping, menatap laki-laki tampan yang sedang menyetir dengan pandangan lurus ke depan dan tidak mengucapkan sepatah katapun sejak mereka selesai menyumbangkan kebutuhan pokok di 3 panti asuhan.


Nisa mengajak Andreas untuk terjun langsung ke lapangan, memberikan bantuan pada anak-anak yang kurang beruntung dari hasil menjual barang-barang mahal milik Andreas.


Awalnya Andreas menolak untuk ikut karena ada rapat penting. Namun Nisa terus membujuk, bahkan dengan cara yang sebelumnya tak pernah di tunjukkan di depan Andreas.


Wanita berusia 22 tahun itu sampai harus merengek, menunjukkan sisi manjanya pada Andreas. Bergelayut di lengan Andreas untuk menahan suaminya itu agar tidak berangkat ke kantor.


"Andreas,,?" Tegur Nisa lembut. Dia menyentuh lengan Andreas, menatap bingung padanya karena sejak tadi hanya diam saja.


"Hemm.?" Hanya deheman yang keluar dari bibir Andreas, namun dia melirik sekilas dengan tatapan dalam.


"Kenapa diam saja.? Kamu tidak suka melakukan kegiatan tadi.?" Nisa menatap lekat. Dia pikir Andreas tidak menyukai kegiatan sosial dan membantu sesama dengan mendatangi langsung tempat itu.


"Aku minta maaf, harusnya aku tidak mengajak kamu." Nisa menundukkan wajah. Membuat Andreas terlihat cemas lantaran Nisa memasang wajah sendu karena merasa bersalah padanya.


"It's oke, justru aku senang bisa datang langsung ke panti dan membantu meraka." Suara Andreas terdengar teduh, dia bahkan menyentuh dan memberikan usapan pada tangan Nisa. Hal yang biasa di lakukan untuk menghibur dan memenangkan perasaan seseorang yang gelisah ataupun sedih, seperti yang dirasakan oleh Nisa.


"Really.?" Tanya Nisa antusias. Dia sangat senang mendengar jawaban Andreas. Senyum di bibirnya merekah sempurna dengan tatapan berbinar. Tanpa sadar menggenggam lengan Andreas yang sejak tadi masih menyentuh tangannya.


Andreas tersenyum lebar sembari mengangguk.


Kebahagiaan di wajah Nisa seolah ikut memberikan energi positif hingga menyebarkan kebahagiaan yang sama.


"Kita mampir sebentar ke kantor. Ada berkas penting yang harus aku ambil." Ujar Andreas.


Kebetulan jalan yang sedang mereka lewati dekat dengan kantor Andreas.


"Ke kantor.? Kamu yakin mau mengajakku ke kantor.?" Tanya Nisa memastikan.


"Aku hanya akan membuat kamu malu di depan karyawan kamu." Tuturnya.

__ADS_1


Padahal Andreas sendiri yang mengajaknya, tapi Nisa merasa malu untuk mendatangi kantor suaminya sendiri. Takut kedatangannya ke kantor hanya akan mempermalukan Andreas. Nisa sadar diri dengan statusnya, dia tak seperti istri-istri CEO di luaran sana yang berasal dari keluarga terpandang, memiliki pendidikan tinggi, berpenampilan cantik dan elegan dengan barang-barang branded. Sedangkan Nisa tak memiliki semua kriteria itu. Dia hanya seorang gadis desa yang sejak dulu hidup sederhana.


"Malu.? Kenapa aku harus malu."


"Kamu berbeda, kamu sangat berharga." Ungkap Andreas. Dia menatap lekat kedua mata Nisa, membuat Nisa mengalihkan pandangan lantaran tak bisa melihat tatapan Andreas seperti itu, meskipun hanya sekilas


...***...


"Berharga.?"


Nisa bergumam dalam hati dengan mengulas senyum sinis. Senyum yang tak di sadari oleh Andreas lantaran laki-laki itu fokus menggandeng tangannya dan berjala tegap memasuki gedung perkantoran yang menjulang tinggi itu.


Nisa tak bisa percaya begitu saja dengan pengakuan yang di lontarkan oleh Andreas.


Rasanya laki-laki seperti Andreas yang memperlakukan wanita sesuka hati, bahkan melecehkannya, mustahil jika menganggap seorang wanita berharga untuknya.


"Selamat siang Tuan, Nyonya,," 3 resepsionis langsung menyambut keduanya dengan sopan dan ramah. Andreas tak memberikan respon apapun, berbeda dengan Nisa yang mengangguk sopan sembari mengulas senyum tipis.


"Sepertinya kamu kurang bersikap baik pada karyawanmu," Tegur Nisa lirih. Dia selalu memperhatikan ekspresi wajah Andreas yang selalu acuh saat di sapa oleh karyawannya.


"Dengan memberikan mereka pekerjaan dan gaji yang layak, itu sudah lebih dari cukup."


"Lagipula bersikap baik pada mereka hanya akan membuat mereka menjadi seorang penjilat yang haus jabatan." Sahut Andreas.


Karena dia pernah merasakan hal seperti itu. Seseorang menyalahgunakan sikap ramah Andreas untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi.


"Penjilat.? Apa ada orang yang seperti itu.?" Kali ini Nisa memasang wajah polosnya. Dia memang sama sekali tidak paham dengan dunia perkantoran.


Jadi tidak yakin ada seseorang yang sengaja memanfaatkan Andreas demi sebuah jabatan.


Andreas tersenyum gemas dengan kepolosan Nisa. Laki-laki itu sampai reflek mengacak gemas rambut Nisa sembari tersenyum lebar. Membuat beberapa karyawan yang melihatnya menatap heran ke arah Andreas.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya dalam sejarah, mereka melihat senyum yang tulus di bibir Andreas dengan raut wajah bahagia.


Selama bertahun-tahun bekerja di perusahaan Andreas, baru kali ini mereka merasa bahwa Andreas sangat bahagia menjalani hidupnya.


"Kalau semua orang sepertimu, seorang penjilat yang akan berkuasa." Ujar Andreas dengan kekehan kecil.


Dia menyadari sikap polos dan kelembutan hati Nisa yang tidak bisa berfikir buruk tentang seseorang. Dalam artian, Nisa tipe orang yang menganggap semua manusia itu baik dan tulus seperti dirinya sendiri.


Nisa hanya diam saja. Dia memilih menundukkan wajah karna malu menjadi pusat perhatian setelah Andreas mengacak-acak rambutnya.


...***...


Nisa mengedarkan pandangan. Memperhatikan dengan seksama setiap sudut ruang kerja Andreas yang sangat luas dan memiliki desain yang elegan.


"Kemari,," Andreas menepuk pahanya sendiri. Menyuruh Nisa untuk duduk di pangkuannya. Padahal sofa yang Andreas duduki masih lebar.


Nisa reflek menggeleng. Dia malu jika harus duduk di pangkuan Andreas.


"Kenapa.?" Tanya Andreas. Dia meraih tangan Nisa yang masih berdiri di dekatnya.


"Tidak ada siapapun disini selain kita." Ujarnya.


Nisa yang awalnya ragu, perlahan mulai mengikuti arahan Andreas yang menuntunnya agar duduk di pangkuan.


Untuk pertama kalinya Nisa duduk di pangkuan Andreas. Dia memberanikan diri menatap wajah tampan itu dalam jarak yang sangat dekat.


Tanpa ada sepatah kata, keduanya hanya saling menatap.


Tangan Andreas merangkul erat pinggang Nisa. Dan satu tangannya dia letakkan di atas paha Nisa. Jemari yang awalnya diam, kini terasa mulai bergerak di atas paha.


Dan perlahan Andreas mendekatkan wajahnya. Membuat Nisa reflek menahan dada bidang Andreas untuk mencegah aksinya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau ada yang masuk.?" Tanya Nisa cemas. Mau di taruh dimana wajahnya jika salah satu karyawan Andreas memergokinya sedang bermesraan di kantor.


__ADS_2