Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 68


__ADS_3

"Aku lupa bilang kalau Nisa juga sedang di rawat di rumah sakit ini Mah." Ujar Irene pada Mama mertuanya.


Wanita paruh baya itu baru sempat melihat kondisi putranya pasca sadarkan diri setelah operasi.


Karna malam itu Nyonya Zoya dan Tuan Chandra hanya diberikan waktu selama 1 jam untuk pergi ke rumah sakit, setelah itu keduanya di bawa pihak kepolisian untuk dimintai keterangan atas tindak kekerasan dan penyekapan yang dilakukan oleh Tuan Haris.


"Nisa sakit.?!" Tanya Nyonya Zoya khawatir.


"Bagaimana kondisinya sekarang, dia ada di kamar apa.?" Seketika Nyonya Zoya langsung mencecar banyak pertanyaan pada Irene.


Wanita paruh baya itu tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya pada menantunya itu.


Karna Nyonya Zoya bisa merasakan kondisi psikis Nisa yang terguncang saat mengetahui fakta bahwa meninggalnya kedua orang tuanya merupakan sebuah skenario yang di buat oleh seseorang.


Sementara itu, Devan langsung menoleh ke arah istri dan Mamanya yang terdengar sedang membicarakan Nisa.


Laki-laki itu juga terlihat kaget dan cemas ketika mendengar Nisa sedang di rawat di rumah sakit yang sama dengannya.


"Nisa terlihat sehat. Kamarnya berjarak 3 pintu dari kamar ini." Jawab Irene.


"Aku sudah menemuinya dan minta maaf atas nama papaku, tapi Nisa tidak memberikan respon apapun." Irene menunduk sendu.


Dia menyesali dan menyayangkan perbuatan orag tuanya pada keluarga Nisa.


Meski berusaha berada di pihak oenag tuanya sendiri, tapi Irene tak bisa menutup mata atas bukti yang ada.


Ditangkapnya sang Papa tadi pagi, membuat Irene yakin kalau Papanya itu memang melakukan tindak kejahatan.


"Jangan sedih, kamu harus bisa memahami dan mengerti kondisi Nisa saat ini."


"Nisa pasti butuh waktu untuk bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi." Dengan nada bcara yang lembut, Nyonya Zoya memberikan pengertian pada Irene.


"Nisa wanita yang baik dan memiliki hati yang lembut, dia pasti tidak akan melimpah kesalahan Papamu pada kamu." Ujarnya lagi. Nyonya Zoya mencoba bersikap adil tanpa memojokkan salah satu menantunya meski disini letak permasalahan berasal dari keluarga Irene.

__ADS_1


"Mama akan melihat kondisi Nisa dulu." Nyonya Zoya beranjak dari sofa, dia bergegas pergi ke kamar rawat inap yang di maksud oleh Irene, untuk menemui dan melihat kondisi kesehatan Nisa.


Tapi sayangnya Nyonya Zoya terlambat. Nisa sudah keluar dari ruman sakit sejak 40 menit yang lalu.


...****...


"Aku menunggu sampai kamu benar-benar siap untuk memiliki anak dariku." Ujar Nisa. Kegugupan yang sempat dia rasakan perlahan mulai berkurang. Dia semakin berani menatap mata Andreas dan jauh lebih tenang saat berbicara dengannya.


"Apa menurutmu aku belum siap memiliki anak.?" Andreas meminta penilaian dari sudut pandang Nisa.


Dia tidak mengerti siap dalam artian seperti apa yang di maksud oleh Nisa. Padahal sudah berulang kali dia mengutarakan keinginannya untuk segera memiliki anak, tapi Nisa justru mengonsumsi pil penunda kehamilan. Jadi bisa di artikan kalau Nisa tidak yakin dengan keinginan yang di utarakan oleh Andreas.


Nisa menggeleng pelan. Dia menjawab jujur apa yang di rasakan oleh hatinya.


Lagipula dalam tujuannya saat ini, mana mungkin dia memikirkan soal memiliki anak bersama Andreas.. Yang ada, Nisa sibuk memikirkan bagaimana caranya membuat Andreas benar-benar menyesali perbuatan kejinya.


"Aku rasa kamu harus berusaha untuk membuatku yakin." Ujar Nisa.


"Seperti yang pernah kamu katakan di awal bahwa banyak hal yang harus dipersiapkan untuk memiliki anak. Termasuk kesiapan mental."


Andreas mengulas senyum tipis dengan sorot mata yang meneduhkan. Kedua manik matanya menatap Nisa nyaris tanpa kedip.


"Terkadang ada hal yang tidak bisa di jelaskan dengan logika."


"Jangankan sebuah keputusan, bahkan perasaan saja bisa dengan mudahnya berubah."


"Yang jelas, aku benar-benar ingin memiliki anak darimu." Nada bicara Andreas terdengar sangat serius, begitu juga dengan tatapan matanya yang semakin dalam.


"Dengan kebaikan dan kelembutan sifat yang kamu miliki, aku pasti bisa menjadi seorang ayah yang baik untuk anak-anak kita. Tentunya dengan bantuan dan semangat dari kamu." Terang Andreas.


Nisa hanya diam saja, dia sulit untuk melihat seberapa besar keseriusan Andreas yang sebenarnya. Karna hatinya masih belum percaya akan perasaan Andreas padanya.


...*****...

__ADS_1


Malam itu guyuran air hujan lebat mengiringi kegiatan panas yang dilakukan oleh sepasang suami istri di sofa panjang yang terletak di dekat pintu balkon.


Guyuran air hujan itu bisa mereka lihat dari pintu kaca tanpa tirai.


Suasana yang gelap di ruangan itu, membuat suasana indan yang terkesan romantis.


"Lebih cepat sayang,," Pinta Andreas. Suara beratnya terdengar serak lantaran tengah berkabut gairah. Kedua tangannya membantu Nisa untuk bergerak lebih cepat.


"Aku lelah Andreas,," Keluh Nisa. Entah sudah berapa lama dia berada di atas pangkuan Andreas. Suhu dingin di ruangan itu bahkan tetap membuat keringat di pelipis dan tubuh Nisa bercucuran.


"Maaf,," Ucap Andreas lembut. Dia melu mat sekilas bibir Nisa sebelum membaringkan wanita itu di sofa.


Karna terlalu menikmati permainan itu, Andreas sampai lupa untuk berganti posisi dan berakhir dengan membuat Nisa mengeluh kelelahan.


Desa han keduanya seolah menjadi irama yang semakin membangkitkan gairah.


Andreas semakin berusaha keras untuk membenamkan benihnya sedalam mungkin agar bisa tumbuh dan berkembang di dalam sana.


Keduanya sama-sama hanyut dalam permainan panas itu.


Terlepas seperti apa niat awal keduanya untuk menikah, mereka selalu menikmati kegiatan itu tanpa menyangkut pautkan nya dengan tujuan mereka.


Andreas berbaring di samping Nisa dengan nafas yang memburu.


Kondisi sofa yang sempit, membuat keduanya harus berbaring dengan posisi menyamping dan menempel sempurna. Andreas juga memeluk Nisa dari belakang.


Sementara itu Nisa yang tidak bisa menahan kantuknya, seketika memejamkan mata dan terlelap. Wanita itu sampai melupakan hal penting, yaitu meminum pil penunda kehamilan.


...***...


Jangan lupa ampir ke novel Meluluhkan Hati CEO Kejam.


itu karya ku juga, tapi di up di akun pertamaku (Ratna wullandarriewullandarrie)

__ADS_1



__ADS_2