
Nisa mengetuk ruang kerja Andreas sebelum masuk. Dia menyembulkan kepala di balik pintu yang baru sedikit di buka olehnya. Andreas tampak mengalihkan pandangan dari layar laptopnya lantaran menatap ke arah Nisa. Sontak bibir manisnya mengukir senyum tipis pada pria gagah yang juga sedang tersenyum padanya.
"Boleh masuk.?" Tanya Nisa. Walaupun dia istri Andreas, tapi Nisa tidak pernah asal menyelonong masuk ke ruangan Andreas. Dia selalu bertanya lebih dulu, takut Andreas sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu.
"Masuk saja." Andreas menjawab dengan suara maskulinnya yang terdengar berat.
Nisa bergegas masuk dan menghampiri Andreas. Wanita cantik itu meletakkan obat dan air mineral di depan Andreas.
"Kamu melupakan obatmu lagi." Tuturnya.
Sudah kesekian kalinya Nisa harus mengingatkan Andreas agar minum obat, lantaran Andreas selalu lupa untuk meminumnya.
Andreas mengukir senyum tipis. Dia meraih tangan Nisa dan menariknya mendekat.
"Apa Kenzie sudah tidur.?" Tanyanya.
Nisa menjawab dengan anggukan.
"Aku bosan minum obat. Apa boleh minum yang lain.?" Ujar Andreas seraya menarik tangan dan pinggul Nisa untuk mengarahkan wanita itu duduk di pangkuannya. Nisa pasrah saja, mengikuti arahan dari Andreas.
"Memangnya mau minum apa.? Kopi.? Teh.? Atau wine.?" Sahut Nisa yang menekankan kata di akhir kalimat. Sebenarnya dia sedang menyindir Andreas lantaran beberapa hari yang lalu baru mendapati banyak wine di salah satu ruangan.
Andreas terkekeh kecil. Jemarinya menelusuri punggung Nisa.
"Aku tidak meminumnya. Semua minuman itu hanya untuk menjamu tamu yang datang kemari." Andreas mengulangi jawaban yang sama saat pertama kali Nisa menanyakan tentang minuman alkohol yang berjejer rapi dia salah satu ruangan khusus.
"Yakin kamu tidak minum.?" Nisa kembali menginterogasi. Dia tidak percaya dengan ucapan Andreas yang mengatakan dirinya tidak minum wine. Sedangkan dulu saat pertama kali bertemu dengan Andreas, pria itu hobi minum dan bisa menghabiskan beberapa botol sekaligus.
"Tidak sayang,,"
"Dokter sudah melarang ku untuk minum alkohol. Tapi dia menganjurkanku meminum susu." Tuturnya bersamaan dengan jemari yang membuka kancing piyama Nisa.
"Andreas,,," Tegur Nisa. Disingkirkannya tangan Andreas dari atas dadanya. Seketika membuat Andreas tampak kecewa.
"Kamu harus minum obatnya." Nisa mengambil botol obat itu dan mengeluarkannya satu butir.
"Buka mulutnya,," Pintanya seraya menyodorkan obat itu ke depan mulut Andreas.
__ADS_1
"Tapi setelah minum obat boleh minum itu kan.?" Andreas menatap kedua bukit yang di bungkus piyama berwarna navy.
"Iya, terserah kamu saja." Jawaban Nisa terkesan pasrah. Lagipula dia tidak tega menolak Andreas. Apalagi kalau pria itu sudah memasang wajah sendu.
Begitu mendengar jawaban Nisa, Andreas langsung membuka mulut lebar-lebar dan menelan obat dari tangan Nisa, setelah itu meneguk air mineral.
Nisa sampai mengulum senyum melihat tingkah Andreas. Pria itu paling bersemangat kalau sudah menjurus pada hal yang berbau buka-bukaan.
"Sehari saja tidak menyentuhnya, apa tidak bisa.?" Tanya Nisa sembari memperhatikan jemari Andreas yang cekatan membuka kancing piyamanya.
"Mana bisa, aku ini kan bayi besarmu." Jawab Andreas. Dia hanya menyengir kuda menatap Nisa, setelah itu fokus pada dua bukit yang sudah mulai terlihat.
"Tunggu.!" Cegah Nisa. Padahal sekian detik lagi pria itu hampir memasukan pucuk bukit kedalam mulutnya.
"Ada apa lagi sayang.?" Andreas tampak kesal, tapi mana mungkin dia berani menegur Nisa. Pria yang terkenal dingin itu selalu mencair di hadapan wanita yang sangat dia cintai itu.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai.?" Nisa melirik ke arah laptop yang masih menyala.
"Itu bisa di selesaikan nanti." Andreas menjawab seraya menyimpan data, kemudian mematikan laptop dan menutupnya agar tidak menjadi pembahasan yang akan menggangu kesenangannya.
Tubuh Nisa menegang saat pucuk bukit itu masuk kedalam mulut Andreas dan bersentuhan dengan lidah. Dia hanya bisa meremas rambut Andreas, sementara sebelah tangannya berpegangan pada bahu kokoh Andreas.
"Ndree,, kenapa disini." Protes Nisa saat Andreas mendudukkan dia di atas meja.
"Kita coba suasana baru." Jawabnya berbisik. Wajah Nisa di buat merona.
Andreas kemudian memindahkan barang-barang di atas meja itu ke tempat lain agar tidak mengganggu aktivitasnya nanti.
(Silakan travelling sendiri) 😁
...*****...
3 Minggu berlalu,,,
Pagi itu Nisa buru-buru membuka mata dan turun dari ranjang saat merasakan ada yang tidak beres dengan perutnya. Dia berlari ke kamar mandi dengan mulut tertutup rapat oleh satu tangannya.
"Hueekk,,, Hueekkk,,," Nisa mengeluarkan isi perutnya di wastafel.
__ADS_1
Andreas bergegas menyusul Nisa saat melihat sekilas wanita cantik itu berlari ke kamar mandi.
Pria itu sontak di buat panik melihat Nisa muntah-muntah.
"Sayang,, are you okay.?" Tanya Andreas cemas. Dia merangkul pundak Nisa, dan satu tangan membenarkan rambut Nisa ke belakang agar tidak terkena muntahan.
"Sana,, nanti kamu jijik,," Nisa malah mendorong pelan bahu Andreas agar menjauh.
"Huekk,,," Untuk kesekian kalinya dia mengeluarkan isi perutnya.
"Kamu sedang seperti ini, bagaimana bisa aku berfikir jijik." Sahut Andreas. Dia kembali mendekat, menarik tisu dan menyeka sudut bibir Nisa. Pria itu sama sekali tidak merasa jijik sedikitpun. Karna dia hanya memikirkan Nisa, dan tidak tega melihat istrinya itu terus muntah berulang kali.
"Sebaiknya kita ke dokter." Ujar Andreas masih dengan kepanikan di wajahnya.
"Tidak usah Ndree, mungkin aku hanya masuk angin saja." Nisa menolak. Karna dia tidak merasakan sakit di bagian tubuh manapun, hanya merasa ingin muntah saja.
"Ini di Amerika sayang, tidak ada istilah masuk angin." Balas Andreas.
"Jangan menolak, kita akan pergi ke rumah sakit sekarang." Tegasnya.
Nisa tak bisa membantah. Dia tidak mau membuat Andreas semakin cemas.
Setidaknya kalau pergi ke rumah sakit, Andreas akan tau kalau dia tidak kenapa-napa.
Andreas menghubungi supir begitu keluar dari kamar mandi. Dia menyuruh supir untuk standby di mobil 30 menit lagi.
"Kamu duduk dulu disini. Aku akan ambilkan air hangat dan membangunkan Kenzie." Pesannya pada Nisa yang tengah duduk di sisi ranjang.
Andreas buru-buru ke dapur untuk mengambil air hangat, setelah itu membangunkan Kenzie.
"Momi,,," Seru Kenzie yang menyelonong masuk bersama Andreas. Bocah tampan itu menghambur ke pelukan Nisa.
"Jagoan Momi pintar sekali tidak menangis." Ucap Nisa dan mendaratkan kecupan di kening Kenzie.
"Minum dulu sayang,," Kata Andreas seraya menyodorkan air hangat pada Nisa.
"Makasih Ndree." Nisa mengukir senyum manis dan meraih gelas itu.
__ADS_1
"Zie, ayo mandi dulu sama Papi." Ajak Andreas.
Putranya itu langsung menurut saat di gandeng dan di ajak ke kamar mandi.