
Selesai sarapan, Nisa beranjak ke kamarnya. Sementara itu Andreas masih berada di bawah bersama Aditya. Sedangkan Tiara sedang menemani Kenzie bermain. Serta untuk mengalihkan perhatian Kenzie karna sejak tadi bocah itu terus meminta pada Andreas untuk beli mobil. Tapi mana ada showroom mobil yang sudah buka pukul 8 pagi seperti ini. Jadi Andreas memutuskan pergi pukul 10 sembari menunggu Nisa yang akan membereskan beberapa baju untuk di bawa ke Amerika.
Nisa sudah selesai memasukkan baju miliknya dan juga Kenzie ke dalam 1 koper besar. Walaupun cukup lama akan tinggal di sana, tapi di hanya di perbolehkan membawa beberapa baju saja oleh Andreas.
Sepertinya pria itu akan membalikan banyak baju untuknya dan juga Kenzie.
"Ya ampun, pagi ini aku belum minum pil." Nisa bergegas dari walk in closet menuju nakas yang terletak di samping tempat tidur. Dimana dia menyimpan pil penunda kehamilan di sana.
Meski sadar jika Andreas sudah berubah dan benar-benar serius memperbaiki semuanya, bahkan mampu menjadi ayah terbaik untuk Kenzie, tapi tetap saja tak membuat Nisa berubah pikiran untuk berhenti mengonsumsi pil itu.
Dia terlalu trauma, tidak mau berjuang sendiri lagi di saat hamil dan melahirkan.
Pengalaman itu akan menjadi pengalaman pahit dan menyedihkan untuknya seumur hidup. Walaupun sudah terbayar dengan kehadiran Kenzie di hidupnya.
"Masih minum obat itu.?" Tanya Andreas yang entah sejak kapan masuk ke dalam kamar. Pria itu berdiri di belakang Nisa, menatap obat di tangan istrinya dengan sorot mata penuh kekecewaan.
Nisa terlihat kaget dan reflek berbalik badan. Dia kaget bukan karna Andreas melihatnya akan meminum pil penunda kehamilan, tapi karna kedatangan Andreas yang tiba-tiba.
"Kamu mengagetkanku saja." Tegur Nisa. Seolah tak melihat kekecewaan di mata Andreas, Nisa memasukkan pil itu ke dalam mulutnya dan buru-buru meneguk air mineral.
"Aku kan sudah sering bilang Ndre. Sepertinya tidak perlu aku jelaskan lagi kan.?" Nisa berucap santai.
"Mau jalan sekarang.? Aku belum siap-siap,,"
"Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu." Seolah ingin menghindar dari pembahas itu, Nisa bergagas pergi ke walk in closet untuk mengganti baju.
__ADS_1
Helaan nafas berat keluar dari mulut Andreas. Dia jelas sangat kecewa dan sedih. Nisa memang sudah bersedia menerimanya kembali. Tapi dengan keputusan Nisa yang tak mau lagi memiliki anak darinya, sejujurnya itu sangat melukai perasaannya. Bahkan terkadang dia berfikir kalau Nisa tak punya perasaan apapun lagi padanya dan hanya terpaksa kembali padanya.
Andreas menyusul Nisa. Suka tidak suka, hal semacam ini harus terus di bicarakan. Setidaknya dia punya harapan setelah itu Nisa akan berubah pikiran.
"Kamu sudah mengemasi baju.?" Tanya Andreas seraya memeluk tubuh istrinya itu dari belakang.
Bertanya dengan nada manja, dia meletakkan dagunya di pundak Nisa. Wanita cantik itu menatapnya dari pantulan cermin yang ada di hadapannya.
Andreas tak mau memaksa ataupun mendesak Nisa untuk berhenti mengonsumsi pil penunda kehamilan itu. Tapi perlahan dia ingin membuat Nisa berhenti mengonsumsinya tanpa paksaan dari siapapun.
"Sudah. Aku dan Zie hanya membawa beberapa baju saja." Nisa menjawab sembari melirik koper di sudut ruangan. Andreas mengikuti arah pandangan Nisa, lalu mengangguk setelah melihat koper itu.
"Bagus,," Ucap Andreas lembut. Tiba-tiba dia mengecup bagian pundak Nisa yang terbuka. Wanita dalam dekapannya itu sontak meremang. Kecupan itu seperti menghantarkan arus listrik.
"Andreas, hentikan,," Nisa menutup mulut Andreas dengan telapak tangannya. Karna pria itu kembali mengecup pundaknya bahkan sedikit menye sap.
"Itu karna otak kamu saja yang mesum." Celetuk Nisa. Dia kemudian membuka lemari dan mengambil baju yang akan dia pakai untuk pergi ke suab showroom terbesar di Batam.
"Tapi hanya sama kamu saja." Jawab Andreas. Dia berkata jujur, karna sejak memilih untuk meninggalkan Nisa, rasanya tidak bisa mesum melihat wanita secantik dan seseksi apapun disana. Yang ada di hati, mata dan pikiran Andreas hanya Nisa saja.
"Sudah, jangan membual." Ujar Nisa seraya melepaskan dekapan Andreas.
"Aku harus ganti baju." Wanita itu mendorongnya perlahan pundak Andreas untuk menyuruhnya keluar dari ruangan.
"Memangnya kenapa kalau ganti depanku.?" Andreas menghentikan langkah. Dia menolak untuk keluar.
__ADS_1
"Aku sudah biasa melihatnya." Ucapnya sedikit menggoda.
"Andreas.! Kau ini benar-benar.!" Nisa hampir saja melayangkan pukulan pada lengan Andreas, tapi pria itu menghindar dan buru-buru keluar sembari terkekeh.
Nisa hanya bisa menggelengkan kepala melihat Andreas berlalu sambil menertawakan kekesalannya.
"Kenapa harus memaksa pergi kalau memang mencintai." Gumamnya setelah Andreas menghilang dari pandangan mata.
Seandainya dulu Andreas tidak pergi, mungkin perasaannya pada Andreas tak akan seperti ini.
Memang dia masih mencintainya, tapi entah kenapa masih ada yang mengganjal di hati.
Cinta itu tak sama seperti sebelum Andreas meninggalkannya.
...****...
Andreas baru saja melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah. Dia mengajak Nisa dan Kenzie untuk membeli mobil sport berwarna merah sesuai keinginan Kenzie.
Sementara itu, Aditya dan Tiara masih berada di halaman belakang. Mereka sedang membahas tentang rencana pernikahannya yang akan dilangsungkan setelah Aditya kembali ke batam. Kurang lebih 5 minggu dari sekarang.
"Sebenarnya tidak perlu ada pernikahan. Kita tidak saling mencintai bukan.?" Tanya Tiara setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Cinta bisa datang sering berjalannya waktu." Jawab Aditya.
"Ayo pergi. Aku harus menemui orang tuamu."
__ADS_1
Aditya berdiri, dia lantas menggandeng tangan Tiara dan mengajaknya pergi.