Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 69


__ADS_3

Dengan hati-hati Andreas menggendong Nisa dan memindahkannya ke kamar mereka.


Wanita itu benar-benar langsung tertidur pulas beberapa saat setelah mengakhiri percintaan panasnya.


Tanpa memakaikan kembali baju milik Nisa, Andreas hanya menutupi tubuh polos Nisa menggunakan selimut tebal hingga sebatas dada.


Andreas beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dia kemudian beranjak ke ruang keluarga dan membereskan gelas minum bekas mereka tadi.


Andreas membawa 2 gelas bekas oren jus itu ke dapur untuk di cuci.


Senyum di bibirnya mengembang saat menatap salah satu gelas yang sejak pertama dia persiapkan untuk Nisa sebelum melakukan percintaan panas di ruang keluarga.


Selesai mencuci gelas, Andreas kembali ke kamar. Dia ikut merebahkan diri di samping Nisa, memeluk erat tubuh wanita itu yang sedang membelakanginya.


Andreas langsung tertidur pulas menyusul Nisa ke alam mimpi. Percintaan tadi agaknya sangat menguras banyak tenaga.


...*****...


Pagi itu Irene membawakan sarapan ke kamar mereka. Devan memang sudah pulang sejak kemarin sore.


Saat membuka pintu kamar, Irene melihat Devan yang hendak turun dari ranjang. Wanita itu buru-buru masuk, berjalan cepat sembari membawa nampan berisi sarapan untuk mereka berdua.


"Sini biar aku bantu,," Irene dengan sigap ingin membantu Devan yang akan turun dari ranjang. Dia meletakkan lebih dulu nampan itu di atas nakas.


"Tidak usah, aku masih bisa melakukannya sendiri." Devan menolak halus bantuan dari Irene. Dia lebih dulu turun dari ranjang sebelum Irene memegangi tangannya.


"Kalau begitu biar aku antar kamu ke kamar mandi,," Irene tidak bisa diam saja melihat suaminya yang terlihat kesulitan berjalan.


Dia dengan sigap berdiri di samping Devan, menedekap erat lengan besar Devan untuk menuntunnya.


Kali ini Devan tak menolak, dia membiarkan Irene menuntunnya pergi ke kamar mandi.


"Apa lukanya masih sakit.?" Tanya Irene dengan tatapan penuh perhatian sekaligus cemas

__ADS_1


"Aku ingin tau seperti apa kondisinya, tapi tidak berani melihatnya," Tuturnya.


Devan menoleh menatap Irene. Dia jadi ingat saat Irene menangis histeris karna melihat luka sayatan di bagian pinggangnya.


Wanita itu terlihat sangat ketakutan dan khawatir melihat kondisinya yang saat itu mengeluarkan darah.


"Maaf,," Ucap Devan. Tatapan matanya begitu dalam pada Irene.


Ada rasa bersalah yang menyelimutinya saat melihat Irene begitu mengkhawatirkan dirinya.


Dia menyadari bahwa selama ini Irene mengorbankan semua yang dia miliki untuknya. Mengorban waktu, perasaan, tenaga dan pikirannya untuk laki-laki yang masih terbelenggu dalam cinta di masa lalu.


"Untuk apa.?" Irene menatap serius.


"Untuk semua ucapan dan sikapku padamu." Ujar Devan. Dia mengakui kesalahannya terhadap Irene. Kesalahan yang sejak dulu terus dia lakukan berulang kali.


Ketulusan yang di berikan oleh Irene selama ini tak pernah dia hargai sedikitpun. Dia menganggap remeh cinta Irene yang pada akhirnya selalu ada disisinya dalam kondisi apapun.


Mungkin memang sudah menjadi takdirnya untuk menjalani pernikahan yang terjadi karna perjodohan. Dan memang sudah takdirnya bahwa Irene menjadi istrinya.


Setelah sekian lama, akhirnya Irene bisa mendengar perkataan yang selama ini dia tunggu dari mulut Devan.


Sejak dulu Irene tidak pernah putus asa dalam mengajak Devan untuk memulai hubungan dari awal. Berulang kali dia menawarkan hal itu pada Devan, namun selalu berakhir dengan kekecewaan lantaran Devan tak pernah merespon keinginannya tersebur.


Bibir Irene bergetar. Matanya berkaca-kaca. Ada kebahagiaan yang sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata. Karna tidak ada kebahagiaan yang lebih besar selain mendengar Devan bersedia untuk memulai hubungan dari awal.


...*****...


"Ya ampun.!! Jam berapa sekarang.!" Nisa sampai melonjak kaget saat sinar mentari masuk ke dalam kamar.


Wanita yang awalnya masih tertidur pulas di. balik selimut, kini tenga duduk di tepi ranjang dnegan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul.


Tubuh polosnya jadi terekspos kemana-mana karna tidak terlalu memperdulikan selimut di tubuhnya.

__ADS_1


Dia kaget karna melihat langit yang sudah cerah. Padahal hari ini dia ada janji untuk menemani Mella bertemu dengan klien yang akan bekerja sama dengannya.


"Kamu sudah bangun.?" Andreas keluar dari walk in closet sembari memasang kancing kemejanya satu persatu.


Laki-laki tampan itu sudah rapi dan siap untuk pergi ke kantor.


"Kenapa tidak membangunkanku lebih dulu.?" Protes Nisa. Dia jadi tidak bisa membuat sarapan untuk Andreas.


"Aku sudah menyiapkan air hangat di bathtub." Ujar Andreas tanpa menjawab pertanyaan Nisa.


Dia kemudian menatap arloji di tangannya. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


"Aku tunggu 30 menit. Kamu sudah harus siap karna kamu akan ikut denganku ke kantor."


Penuturan Andreas membuat Nisa mongo karna bingung. Dia tidak punya kepentingan apapun di perusahaan Andreas, jadi untuk apa dia harus ikut ke kantor.


"Ke kantor.? Untuk apa.?" Nisa menatap dengan dahi berkerut.


"Menemaniku. Aku ada kunjungan di luar kota untuk 3 hari ke depan."


"Tidak mungkin kan kalau aku meninggalkan kamu sendirian disini." Ujar Andreas menjelaskan.


Tapi penjelasan Andreas semakin membuat Nisa bingung.


"Aku.? Memagnya tidak masalah kalau aku ikut?"


"Kalau aku ikut, hanya akan mengganggu konsentrasi kamu disana."


"Lagipula tidak masalah aku sendirian di apartemen. Aku sudah biasa tinggal sendiri, jadi tidak perlu khawatir.


" Tapi kamu harus tetap ikut." Ucap Andreas tak mau di bantah.


"Buruan mandi, aku tunggu kamu disini. Atau mau aku temani mandi.?" Andreas menggoda dengan mengedipkan sebelah matanya..

__ADS_1


"Jangan mesum.!" Cibir Nisa. Dia turun dari ranjang dan bergegas cepat ke kamar mandi.


Mau tidak mau, Nisa terpaksa menuruti permintaan Andreas. Selesai mandi dan memakai baju rapi dsn make up tipis, dia langsung di gandeng oleh Andreas untuk keluar dari apartemen. Andreas tak memberinya kesempatan untuk sekedar minum.


__ADS_2