Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 102


__ADS_3

Andreas baru saja selesai mandi dan memakai baju. Sudah beberapa jam yang lalu dia memiliki luka di tangannya akibat melayangkan tinjuan ke dinding tanpa di sadari. Kini Andreas baru merasakan sakit di jari-jari tangannya.


Laki-laki itu berdiri di depan nakas. Dia ingin mengambil kotak p3k yang biasanya di letakkan di dalam laci.


Meski sudah 3 tahun tidak di tempati, tapi apartemen ini masih di rawat dengan baik oleh orang suruhan Andreas.


Ada alasan tersendiri kenapa Andreas tidak menjual apartemen ini ataupun membiarkannya terbengkalai begitu saja.


Andreas membuka laci paling atas. Di dalamnya ada sebuah amplop putih yang di letakkan di atas kotak p3k. Amplop putih dengan tulisan salah nama rumah sakit di Jakarta.


Sontak Andreas mengerutkan keningnya. Karna dia merasa tidak pernah mendatangi rumah sakit tersebut.


Rasa penasaran membuat Andreas reflek mengambil amplop putih itu. Dia kemudian menutup laci dan seketika lupa tujuannya yang akan mengambil obat luka di dalam kotak p3k itu.


Menatap dengan dahi berkerut, Andreas masih berusaha untuk mengingat-ingat nama rumah sakit tersebut. Tapi selama di Jakarta, dia belum pernah di rawat ataupun melakukan pemeriksaan di rumah sakit manapun.


Satu-satunya yang pernah di rawat di rumah sakit adalah Nisa. Tapi Andreas ingat kalau rumah sakit tempat Nisa di rawat, berbeda dengan tulisan di amplop putih itu.


Duduk di tepi ranjang, Andreas membuka perlahan amplop putih di tangannya. Dia mengeluarkan selembar kertas dari dalam amplop tersebut.


Tulisan paling atas menyebutkan nama dan alamat rumah sakit. Namun Andreas melewatinya. Dia langsung membaca tulisan di bawahnya yang menyebutkan surat keterangan hamil.


Mantannya membuat sempurna ketika membacanya. Dia langsung membaca nama pasien tanpa membaca identitas dokter yang membuat surat pernyataan itu.


Menyatakan bahwa :


Nama pasien : Anissa Salsabilla


Nama Suami : Andreas Chandratama


Selain ada alamat lengkap, dibawah juga tertera usia kandungan Nisa pada saat itu yang sudah masuk minggu ke 4.

__ADS_1


Tangan Andreas bergetar setelah membaca fakta bahwa Nisa di nyatakan hamil 3 tahun yang lalu. Tepatnya 2 hari setelah dia memutuskan untuk pergi meninggalkan Nisa.


"Tidak, tidak mungkin,,," Dengarin suara yang tercekat dan begetar, Andreas terus menatap surat hasil laporan tersebut. Matanya semakin berkaca-kaca dan perlahan mulai meneteskan air mata.


3 tahun yang lalu, dia pergi meninggalkan Nisa di saat wanita itu tengah mengandung anaknya.


Itu artinya saat ini anak mereka sudah berusia 2 tahun lebih.


Dengan segala perasaan yang berkecambuk, Andreas hanya bisa menangis sembari mencengkram kuat rambutnya.


Kecemasan dan rasa bersalah tiba-tiba datang menguasai hati dan pikirannya.


"Apa dia putraku,," Gumamnya saat teringat dengan seorang anak laki-laki yang usianya sekitar 2 tahun saat di bandara.


Anak laki-laki dalam gendongan Mella yang dia kira sebagai anak Mella.


Kini Andreas semakin yakin jika anak itu adalah putranya. Terlebih wajah anak laki-laki itu sangat mirip dengannya.


"Apa ada pertemuan lagi Tuan.?" Tanya Aditya yang baru saja membukakan pintu mobil untuk Andreas.


"Tidak, antar saya ke bandara sekarang." Pinta Andreas. Laki-laki itu duduk di kursi belakang, menyenderkan tubuh dan kepalanya dengan mata terpejam.


Aditya hanya melirik sekilas, Andreas tampak kacau dan gelisah. Meski dia sudah sering melihat bosnya mengalami hal seperti itu, namun kali ini terlihat lebih parah.


"Cepat jalan Ditya.!!" Serunya masih dengan mata terpejam.


"Baik Tuan,," Jawab Aditya. Dia buru-buru. menyalakan mobil dan melajukan mobilnya menuju bandraa. Aditya memilih untuk menuruti perintahnya tanpa bertanya untuk apa Andreas minta di antar ke bandara.


...****...


Andreas jalan tergesa-gesa begitu turun dari mobil. Aditya dengan sikap mengejar langkah Andreas. Dia harus selalu berada di samping Andreas karna takut terjadi sesuatu pada bosnya.

__ADS_1


Karna terkadang sikap dan tindakan Andreas tak bisa di tebak.


"Tuan Andreas, sebenarnya ada apa.?" Aditya memberanikan diri untuk bertanya. Dia bingung melihat Andreas yang tergesa-gesa.


"Cepat kamu cari tau penumpang atas nama Anissa Salsabilla.!" Titahnya.


Andreas sangat yakin kalau tadi pagi Nisa akan meninggalkan Jakarta, mengingat saat itu Nisa terlihat baru saja mengurus penerbangnya.


"Anissa Salsabilla.?" Gumam Aditya lirih.


Setelah 3 tahun lamanya, akhirnya dia mendengar tuannya menyebut nama wanita yang fotonya di pajang di atas meja kerjanya.


Foto yang sejak 3 tahun silam mengisi ruangan kerja Andreas.


Bahkan Andreas pernah marah besar saat salah satu karyawannya tak sengaja menjatuhkan foto itu hingga menyebabkan kacanya pecah.


Andreas bahkan melayangkan tinjuan pada karyawan itu, namun langsung bisa di kendalikan oleh Aditya.


Terkadang Aditya tidak mengerti dengan jalan pikiran Andreas. Padahal dulu bosnya itu sudah menyiapkan rumah untuk Nisa, tapi tiba-tiba memutuskan untuk meninggalkannya.


Tapi sepertinya Andreas terlihat menyesalinya sampai tidak bisa melupakan wanita itu. Terbukti foto Nisa pada saat pernikahan mereka, selalu terpanjang di atas meja kerjanya.


...******...


Nisa bergeser perlahan dari tempat tidur. Putra tampannya itu baru saja terlelap setelah bermain sejak sampai di rumah.


Menatap lekat dan mengusap lembut pipi Kenzie, Nisa mengukir senyum tipis yang terlihat bahagia namun dengan tatapan sendu.


Seandainya tidak ada Kenzie, entah apa jadinya dia 3 tahun yang lalu. Mungkin tak akan sekuat dan setegar ini menjalani hidupnya yang di penuhi dengan cobaan menyakitkan bertubi-tubi.


"Tidak apa sayang, jangan khawatir ditinggalkan Papimu. Momi janji tidak akan pernah meninggalkanmu selagi Momi masih bernafas." Nisa mendaratkan kecupan di kening putranya.

__ADS_1


Dia tak akan lemah demi Kenzie. Apapun akan dia lakukan demi putra semata wayangnya itu.


__ADS_2