Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 101


__ADS_3

Melihat keberadaan Nisa bersama Andreas, Mella terlihat syok. Dia bergegas menahan Kenzie dan menggendongnya sebelum menghampiri Nisa.


Kehadiran Kenzie dan Mella membuat keduanya menatap bersamaan ke arah mereka.


Andreas tampak memperhatikan Mella dan anak laki-laki dalam gendongan Mella.


Meski hanya beberapa kali bertemu, tapi Andreas tidak melupakan wajah Mella. Dia masih ingat sahabat Nisa satu-satunya.


Tak berselang lama, Angga datang dan berdiri di samping Mella.


"Sayang, ada apa.?" Tanya Angga bingung. Dia menatap ke arah laki-laki bersetelan jas yang di dampingi oleh dua pengawal.


Belum lagi melihat Nisa yang sedang menangis, membuat Angga semakin bingung dengan apa yang terjadi.


Kehadiran Angga membuyarkan lamuman Andreas. Awalnya dia sempat merasakan sesuatu ketika melihat anak laki-laki dalam gendongan Mella yang sangat mirik dengannya.


Hatinya mengatakan ada ikatan yang sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata antara dia dan anak itu. Namun prasangkanya langsung di tepis saat seorang laki-laki yang dia yakini sebagai suami Mella.


Andreas jadi berfikir jika anak laki-laki tersebut adalah anak mereka.


"Ayo.!" Titah Andreas pada asisten dan orang kepercayaannya. Dia mengajak keduanya untuk segera meninggalkan bandara.


"Aku akan merelakanmu kali ini, pergilah." Suara Nisa tercekat, mengiringi langkah Andreas yang hendak pergi dari sana.


"Setelah ini kamu tidak berhak atas apapun yang aku miliki.!" Serunya penuh penekanan. Secara tidak langsung Nisa akan memutuskan hubungan seorang anak dan ayahnya. Namun Nisa enggan menjelaskan maksud ucapannya. Karna sepertinya Andreas memang tidak perlu tau tentang Kenzie.


Andreas hanya menoleh sekilas dan kembali melangkahkan kakinya dengan tegap.


Nisa bahkan hanya bisa menatap nanar punggung Andreas yang semakin menjauh. Bodohnya dia yang sampai detik ini masih tidak percaya Andreas tega menyakitinya.


4 bulan hidup bersama Andreas, Nisa yakin kebaikan dan perhatian Andreas adalah sifat dia yang sesungguhnya. Itu sebabnya Nisa tak langsung mengurus perceraian di saat Andreas meninggalkannya. Karna dia masik punya keyakinan Andreas akan kembali pada sifat aslinya setelah dendamnya pada keluarga terbalaskan. Tapi nyatanya Andreas tak bisa kembali pada sifat aslinya.


"Momi,, enapa Momi.?" Kenzie menatap sendu sang Momi yang sedang mangis. Agaknya dia bisa merasakan kepedihan dan sakit hati yang sedang di rasakan oleh Mominya.


Tersadar setelah mendengar suara putranya, Nisa buru-buru menghapus air matanya dan tersenyum lebar pada Kenzie.

__ADS_1


Dia langsung mengambil Kenzie dari gendongan Mella dan mendaratkan ciuman bertubi di pipi putranya itu.


"Momi baik-baik saja sayang,," Ucap Nisa seraya memeluk erat putranya. Tidak ada kekuatan yang lebih besar di banding senyum dan kebahagiaan putranya. Nisa mampu bertahan sejauh ini berkat Kenzie. Putranya itu adalah sumber kekuatan terbesar dalam hidupnya sejak masih dalam kandungan.


"Nis,, Andreas,,,


Nisa langsung menggelengkan kepala dan memotong ucapan Mella.


"Aku tidak mau membahasnya Mel. Anggap saja aku tidak bertemu dengannya." Ucapnya lirih. Nisa masih mengukir senyum tipis meski Mella tau ada luka menyakitkan di balik senyum itu.


"Soal tawaran kamu kemarin, aku setuju untuk mengurus perceraianku dengan Andreas." Ujar Nisa yakin.


Sepertinya keputusan Nisa kali ini benar-benar sudah matang. Dia tak terlihat ragu lagi untuk bercerai dari Andreas.


...*****...


Duduk menatap ke luar jendela, pandangan mata Nisa menerawang jauh. Sepertinya takdir memang tidak menginginkannya untuk menginjakkan kaki lagi di kota ini.


Bahkan baru 3 hari berada di Jakarta, dia harus merasakan luka yang sama seperti 3 tahun yang lalu.


"Sekarang aku sudah punya jawaban seandainya Kenzie bertanya dimana Papinya." Lirih Nisa dengan senyum getir.


Dia mantap Kenzie dalam pangkuan, mengusap pucuk kepala putranya dengan hati yang hancur.


Karna dia tak bisa membuhi janjinya untuk mempertemukan Kenzie dengan Papinya.


Setelah menempuh perjalanan udara selama 1 setengah jam, keduanya sampai di Bandara Batam.


Hanya di kota ini dia bisa menjalani hidup dengan tenang. Mengukir kenangan indah bersama putra semata wayangnya.


Di jemput oleh supir pribadinya, Nisa menuju rumah baru yang sudah 1 terakhir dia tempati.


Rumah yang terletak di kawasan elite tersebut dia beli dengan kerja kerasnya sendiri dan hasil bisnisnya di Jakarta.


Tanpa kepala rumah tangga sekalipun, Nisa bisa sukse dengan berdiri di kakinya sendiri. Dia bisa menghidupi Kenzie dengan layak meski di awali dengan perjuangan yang berat di awal-awal kehamilannya.

__ADS_1


...*****...


Sore itu Andreas mendatangi apartemen miliknya setelah bertemu dengan CEO Vin's Group.


Dia memutuskan untuk kembali ke apartemen yang sejak 3 tahun lalu tidak ia sambangi.


Padahal saat masih berada Di Amerika, dia sudah menyuruh Aditya memesan kamar hotel di Jakarta untuk tempat tinggalnya selama berada di sini.


Tapi entah kenapa tiba-tiba Andreas berubah pikiran. Di justru meminta penjaga apartemennya untuk membersihkan apartemen itu saat baru meninggalkan bandara Jakarta.


Dan sore ini apartemennya sudah bisa dia tempati.


Menyeret koper miliknya ke dalam apartemen, Andreas langsung mematung di abang pintu. Dia menatap semua sudut apartemen dengan tatapan sendu.


Andreas menarik nafas dengan kedua mata yang terpejam. Dia menahan buliran bening yang hampir saja keluar dari pelupuk matanya.


Sejujurnya dia sedang menyiksa dirinya sendiri akibat dendam dalam hatinya.


Dendam yang membuat menentang cinta yang ada dalam hatinya. Dia beranggapan bahwa cinta hanya akan menghancurkan dirinya sendiri.


Mengepalkan kedua tangannya, Andreas melayangkan tinjuan pada dinding. Dia membiarkan jari-jarinya terluka akibat benturan pada dinding itu.


Sejauh ini dia kesulitan untuk mengendalikan emosinya. Terkadang tak bisa berfikir logis dan hampir melakukan sesuatu yang bisa membahayakan nyawanya sendiri.


Apalagi sejak sang Mama meninggal dunia 1 tahun setelah di bawa ke Amerika.


Andreas semakin kehilangan arah dan tujuan hidupnya.


...****...


Jangan lupa mampir ke novel "Menanggung Luka" Karya Momy siu.


BTW othor udah buat grup chat, yang mau boleh gabung. cek di profilku yah. nama grupnya Clarissa icha


__ADS_1


__ADS_2