
"Sudah siap.?" Tanya Andreas setengah berbisik.
Kedua tangannya dilingkarkan di pinggang Nisa dengan gerakan pelan. Mendekap tubuh istrinya dari belakang sembari menatap wajah cantik Nisa dalam pantulan cermin. Wajah cantik dengan riasan tipis dan tatanan rambut yang rapi. Nisa terlihat elegan dan lebih dewasa. Di tambah dress tanpa lengan yang melekat di tubuhnya, dan kalung berlian yang terpasang indah di leher jenjang Nisa. Semua itu membuat penampilan Nisa semakin sempurna.
"Apa semua ini tidak berlebihan Ndre,?" Tanya Nisa. Dia merasa tidak nyaman memakai 1 set perhiasan bertabur berlian mahal yang nilainya fantastis. Apalagi mereka cuma menghadiri undangan makan malam bersama di rumah orang tua Andreas.
“Kita hanya datang ke rumah Mama untuk makan malam keluarga, bukan pergi ke,,”
Andreas meletakkan jari telunjuknya di bibir Nisa.
Menyuruh Nisa untuk tidak mengatakan apapun tentang perhiasan yang sudah dia berikan pada Nisa agar di pakai.
“Tidak ada yang berlebihan, semua perhiasan itu bahkan tidak ada apa-apanya di banding kamu."
"Pakai saja apa yang sudah aku berikan, jangan menolak." Kata Andreas. Dia lalu memutar tubuh Nisa agar menghadap ke arahnya.
Sebelah tangan Andreas di letakkan pada pipi Nisa, mengusap lembut pipi dan menatapnya dalam. Nisa menundukkan pandangan, dia mulai memejamkan mata ketika melihat Andreas semakin mendekatkan wajah.
Dengan mengepalkan kedua tangannya yang gemetar akibat rasa trauma yang belum hilang, Nisa berusaha menahan diri untuk tidak memberikan penolakan.
Dia diam saja saat merasakan bibir Andreas mulai menempel pada bibirnya. Memberikan kecupan lembut dan langsung menjauhkan wajahnya lagi.
"Kamu masih takut padaku.?" Tanya Andreas. Dia melihat saat Nisa mengepalkan kedua tangannya yang terlihat gemetar. Jelas sekali kalau Nisa sedang ketakutan.
"Maaf,," Lirih Nisa.
"Aku masih butuh waktu." Ungkapnya jujur. Andreas memang harus tau tentang itu. Dengan berkata-kata jujur tentang perasaannya yang masih trauma pada sentuhan Andreas, dia berharap Andreas bisa menahan diri untuk tidak terlalu jauh melakukan kontak fisik.
__ADS_1
"Hei,, untuk apa minta maaf.? Kamu hanya membuatku semakin merasa bersalah." Andreas menggenggam tangan Nisa.
"Aku tau kamu masih butuh waktu, aku hanya ingin membuat kamu terbiasa agar rasa traumanya hilang." Andreas mengusap lembut bahu Nisa, mengulas senyum dan tatapan teduh.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang." Ajak Nisa. Dia mengambil tas di atas meja rias. Keduanya lalu bergegas pergi ke rumah Tuan Chandra.
Nisa ingin menghindari suasana canggung dan kaku akibat perlakuan Andreas yang mengecup singkat bibirnya.
Sekalipun Andreas melakukannya dengan hati-hati tanpa perlakuan kasar, tapi tetap saja mengingatkan Nisa pada malam itu. Malam yang membuatnya selalu dihantui rasa takut setiap kali bersentuhan dengan Andreas untuk hal yang lebih intim.
...****...
“Istri macam apa yang kamu pilih, dia berbaur dengan pelayan dan membantu mereka menyiapkan makanan.” Sinis Tuan Chandra. Dari kejauhan dia memberikan tatapan tak suka pada Nisa yang tengah sibuk di dapur.
Sedangkan Irene lebih memilih ikut bersama Nyonya untuk melihat koleksi perhiasan terbaru dan membicarakan bisnis mereka berdua.
Andreas terlihat mengepalkan kedua tangannya mendengar hinaan sang Papa untuk Nisa. Hinaan yang secara tidak langsung di tujukan untuknya lantaran Nisa adalah istrinya.
"Pah,, apa yang Papa katakan.!" Tegur Devan tak suka.
"Bukannya bagus kalau istri Andreas mau mengerjakan pekerjaan rumah." Ujarnya lagi.
"Kamu itu terlalu membelanya, lihat sekarang dia semakin membangkang dan tidak mau menuruti perkataan Papa.!" Tuan Chandra menatap ke arah Andreas.
"Aku tidak membela Andreas, tapi Papa yang sudah keterlaluan." Seru Devan. Sejak dulu dia tak pernah suka jika sang Papa berkata dan berbuat seenaknya pada Andreas.
Karna sejak sang Papa bersikap buruk pada Andreas, hubungan mereka jadi renggang dan terasa asing. Andreas juga menganggapnya seperti musuh, bukan lagi saudara yang dulu sangat dekat meski lahir dari wanita yang berbeda.
__ADS_1
"Papa tidak akan seperti ini kalau dia menurut.!" Tegasnya tak mau kalah. Tuan Chandra melimpah semuanya pada Andreas. Menganggap renggangnya dan keributan yang sering terjadi di keluarga mereka akibat ulah Andreas yang selalu membantah ucapannya.
"Menggelikan." Cibir Andreas penuh amarah. Perdebatan sang Papa dan Devan membuat Andreas muak mendengarnya.
“Apa tidak ada hal yang lebih penting untuk di bicarakan.?" Sinisnya.
“Kalian harus tau kalau aku memenangkan gugatan atas produk baru yang kita luncurkan. Papa pasti senang melihat Anggada Group jatuh." Andreas mengulas senyum smirk penuh kebanggaan.
"Kamu yakin.? Mana mungkin kita menang," Tuan Chandra terlihat tak percaya. Pasalnya Anggada Group lebih dulu meluncurkan produk serupa 2 tahun yang lalu, bahkan produknya sudah di kenal di kanca internasional dan di pakai oleh perusahaan-perusahaan menengah ke atas.
"Papa meragukan kemampuanku.?" Ujar Andreas dengan senyum kecut.
"Apa yang tidak bisa aku lakukan.!" Ucapnya penuh penekanan.
"Aku bisa membuat perusahaan berkembang pesat dan bisa menghancurkannya dalam sekejap.!" Tegasnya. Dia menatap tajam ke arah Tuan Chandra.
Keduanya jadi saling menatap. Tuan Chandra terlihat gusar, tidak tenang mendengar ucapan Andreas. Namun dia juga memberikan tatapan tajam pada putranya itu.
"Andreas,,, makanannya sudah siap." Kedatangan Nisa memecahkan suasana yang sempat tegang di antara Andreas dan Tuan Chandra.
"Aku akan panggil Mama dan Kak Irene dulu,," Nisa hendak beranjak, namun Andreas menahan tangannya.
"Tidak perlu sayang, biar pelayan saja yang memanggilkan mereka." Kata Andreas sembari beranjak dari duduknya.
"Kita duluan saja ke ruang makan,," Andreas merangkul pinggang Nisa dan mengajaknya pergi dari hadapan Tuan Chandra dan Devan.
Devan menatap sendu kepergian mereka, hatinya terasa berdenyut nyeri mendengar Andreas memanggil Nisa dengan sebutan sayang. Apalagi melihat tangan Andreas yang merangkul mesra pinggang Nisa.
__ADS_1