Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 98


__ADS_3

"Kamu itu kaya ada tempat lain aja Mel. Kan bisa nanti di apartemen kamu." Nisa masih saja mengomeli Mella. Gara-gara Mella, matanya jadi ternodai. Untung saja baru sekedar bertukar saliva dan mere mas da da. Entah bagaimana kalau pasangan suami isrti itu sudah bertelanjang bulat.


"Maaf Nis, kamu tau sendiri Om Angga baru pulang dari luar kota."


"Aku tuh kangen sama dia." Mella menjawab seraya menyengirkm kuda.


Dia menghilangkan rasa malunya, berharap Nisa bisa mengerti posisinya saat ini.


"Sebenarnya tidak masalah kalian mau bermesraan di ruang kerja, tapi harus kunci pintu dan pastikan tidak ada siapapun selain kalian berdua." Ujar Nisa. Dia memaklumi Mella dan suaminya yang jarang bertemu lantaran Angga sering pergi ke luar kota.


Lagipula dulu dia juga pernah melakukan hal seperti Mella di ruang kerja.


Ingatan Nisa jadi mundur beberapa tahun kebelakang. Kehidupan rumah tangganya yang sangat singkat, cukup membekas di hatinya meski kini sudah 3 tahun berlalu.


Rasa itu masih ada, begitu juga dengan harapan yang dulu dia kubur dalam-dalam.


Sampai detik ini cinta untuk Andreas tak memudar. Kekecewaan yang dia rasakan pada Andreas nyatanya tidak mampu menghapus perasaan cintanya.


3 tahun berlalu, dia tak pernah mendengar kabar tentang Andreas. Entah kemana perginya laki-laki itu yang seolah di telan bumi.


1 bulan setelah memutuskan tinggal di Batam, dia hanya mendapatkan kabar dari Mella kalau Andreas telah memberikan rumah mewah atas namanya.


Seseorang mendatangi Mella, memberikan sertifikat rumah itu agar di sampaikan pada Nisa.


Sayangnya Nisa tak pernah mau menerima ataupun membuka sertifikat rumah itu. Dia juga tidak mau tau dimana letak rumah yang di berikan Andreas padanya.


"Nis,,? Anisa.??" Mella menggoncang bahu Nisa. Sabahatnya itu malah kedapatan melamun setelah memberikan nasehat padanya.


"Kamu baik-baik saja.?" Mella menatap cemas.


Meski jarang bertemu langsung karna terkendala jarak dan kesibukan, namun Mella tau semua tentang kehidupan dan isi hati Nisa. Karna Nisa tak menutupi apapun darinya.


Bahkan terang-terangan Nisa mengakui bahwa di hatinya masih ada Andreas. Laki-laki yang sebenarnya tidak pantas untuk mendapatkan cinta dari siapapun.


"Iya Mel, aku baik-baik saja." Nisa mengukir senyum tipis. Kali ini Mella tidak percaya, dia tau kalau Nisa sedang bohong padanya.


"Sudah 3 tahun Nis, kamu harus mencari kebahagiaanmu sendiri bersama Kenzie."


"Jangan pedulikan orang lain, yang terpenting adalah kebahagiaan kamu dan Kenzie."

__ADS_1


"Lakukan apapun yang bisa membuat kamu bahagia tanpa harus di bayang-bayangi masa lalu."


"Lupakan Andreas, sudah cukup kamu berbaik hati mencintai laki-laki sepertinya. Anggap saja dia sudah mati.!"


Mella menaikan nada bicaranya. Baru kali ini dia berani meluapkan kekesalannya pada Nisa yang terlalu naif karna cintai. Sampai Nisa lupa kalau Andreas sengaja meninggalkannya untuk membuatnya hancur dan terluka.


Selama ini Mella hanya diam dan menjadi pendengar yang baik untuk Nisa tanpa pernah menghakiminya. Tapi sudah cukup dia diam selama 3 tahun. Dia ingin Nisa menjalani kehidupan yang normal. Dan berharap Nisa bisa menemukan pasangan hidup yang mampu membahagiakan dia dan Kenzie.


"Aku tidak bisa melakukannya Mel." Jawab Nisa lirih. Tiba-tiba dadanya terasa sesak.


Dia masih yakin kalau sebenarnya Andreas mencintainya.


"Bukan tidak bisa, tapi kamu yang tidak mau mencobanya.!" Jawab Mella cepat.


"Kamu bahkan tidak mengurus perceraian kalian sampai detik ini."


"Kalau kamu mau, aku bisa meminta Om Angga untuk mengurus perceraian kamu dan Andreas."


"Andreas sudah menghilang selama 3 tahun, mudah bagi pengadilan untuk mengakhiri pernikahan kalian." Serunya.


Tampaknya Mella sudah kehilangannya kesabaran menghadapi Nisa yang terlalu lemah. Hanya karna cinta, Mella kehilangan sosok sahabatnya yang kuat dan tegar.


"Aku ke kamar dulu, mau liat Kenzie." Nisa beranjak dari sofa, dia mengakhiri obrolan begitu saja. Padahal sudah lama Mella ingin menyuruh Nisa untuk mengurus perceraian dengan Andreas.


Entah apa yang Nisa harapkan lagi dari pernikahannya bersama Andreas. Laki-laki itu bahkan tak pernah menunjukkan batang hidung lagi. Hilang tanpa kabar, entah masih hidup atau tidak.


...****...


Duduk di sisi tempat tidur, Nisa menatap lekat wajah putranya yang sangat mirip dengan Andreas. Kenzie memiliki mata hazel seperti Andreas, hidung mancung dan alis yang lebat.


Begitu juga dengan bentuk bibir Kenzie yang mirip seperti Andreas.


Kenzie dan Andreas adalah definisi kembar bed usia. Mungkin itu yang membuat Nisa semakin sulit melupakan Andreas. Karna setiap harinya Nisa merasa sedang hidup bersama Andreas.


"Kenapa kamu harus membohongi perasaanmu sendiri demi menyakiti Devan." Lirih Nisa. Dia masih tak habis pikir saat Andreas memilih untuk meninggalkannya, padahal Nisa sangat yakin bahwa Andreas mencintainya.


"Kenzie pasti akan menanyakanmu saat dia sudah besar nanti. Aku harus menjawab apa.?" Nisa mengukir senyum getir.


Impian untuk memberikan kasih sayang yang utuh pada Kenzie hanya menjadi angan-angan.

__ADS_1


Dia harus berjuang sendiri untuk putranya. Mencurahkan semua cinta dan kasih sayang yang dia miliki agar Kenzie tak kekurangan semua itu.


"Momi,,," Suara lirih Kenzie menyadarkan Nisa dari lamunan.


Kenzie sudah bangun dan saat ini tengah menatap Mominya.


"Jagoan Momi sudah bangun,," Nisa membangunkan Kenzie, mengangkatnya untuk di dudukan di pangkuannya.


"Mau es krim momi, es krim,," Kenzie tiba-tiba merengek memintanya es krim.


"Oke, ayo kita beli es krim." Nisa menggendong putranya keluar dari ruangan itu.


Nisa pamit pulang pada Mella, karna sudah tidak ada lagi pekerjaan yang harus di kerjakan. jadi memutuskan kembali ke apartemen yang dia sewa.


Dengan menggunakan mobil operasional kantor miliknya, Nisa pergi berdua dengan Kenzie untuk membelikan es krim yang di minta oleh putranya itu.


Berhenti di sebuah pusat perbelanjaan, Nisa mengajak putranya untuk jalan-jalan.


Tadinya dia hanya ingin membelikan es krim saja, tapi selama 3 hari berada di Jakarta, dia belum pernah mengajak Kenzie jalan-jalan kemanapun.


"Dimana es krimnya Momi.?" Kenzie mendongakkan kepala, menatap Nisa yang tengah menggandeng tangan mungil putranya itu.


Nisa mengukir senyum, putranya itu memang tidak sabaran kalau sudah meminta es krim.


Entah seperti siapa, putranya itu terlalu gemar makan es krim. Padahal Nisa tidak terlalu suka es krim, begitu juga dengan Andreas.


"Es krimnya ada di dalam, kita masuk dulu yah." Ajak Nisa. Keduanya memasuki pusat perbelanjaan.


Nisa memasuki kedai es krim.


Duduk berdua dengan putranya sembari menikmati es krim.


"Daddy, Maura mau es krim,,"


"No.! Maura baru saja sembuh. Lain kali saja makan es krimnya."


Nisa langsung menoleh ke sumber suara. Dia sangat mengenali pemilik suara itu.


Suara yang sudah 3 tahun tidak dia dengar.

__ADS_1


__ADS_2