
Nisa memutuskan tak jadi tidur di kamar Kenzie setelah memastikan jika Andreas bisa mengontrol dirinya untuk tidak melukai siapapun.
Dia percaya Andreas tak akan melukai Kenzie, putra mereka.
Sejujurnya Nisa merasa iba dengan kondisi Andreas saat ini. Tapi mungkin itu yang harus Andreas terima atas perbuatan buruknya dulu.
Dia sendiri yang sudah menghancurkan hati dan otaknya sampai menaruh dendam pada keluarga.
Seandainya dendam itu tak berlarut dan menjadi obsesi untuk menghancurkan keluarganya sendiri, mungkin tak akan seperti ini akhirnya.
Banyak pihak yang tak bersalah menjadi korban, bahkan Andreas juga menjadi korban atas perbuatannya sendiri.
Tapi apapun itu, semuanya sudah terjadi dan percuma untuk di sesali. Saat ini Nisa hanya berharap Andreas bisa bangkit dan sembuh dari sakitnya. Seperti dia yang kini mulai bangkit menerima dengan lapang dada semua penderitaan dalam hidupnya.
...****...
Andreas berbaring di samping putranya. Dia hanya bisa menatap nanar dan sendu wajah putranya.
Impiannya untuk memberikan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya kini pupus. Sepertinya kisah masa lalunya akan terulang pada Kenzie. Dimana sejak kecil dia tak bisa merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya lantaran Papa Chandra lebih banyak menghabiskan waktu dan tinggal di rumah istri pertamanya.
Belum lagi sikap sang Papa yang semakin lama menunjukkan ketidak sukanya terhadapnya dan sang Mama. Andreas benar-benar kehilangan figur seorang ayah meskipun dari kecil hingga dewasa dia masih berhubungan dengan Papa Chandra. Sekalipun hubungan di antara anak dan ayah itu sangat renggang.
“Papi tidak akan pernah meninggalkanmu nak,,” Di usapnya kepala Kenzie dengan lembut dan penuh cinta. Seperti apapun kondisinya dan hubungan dia dengan Nisa, dia akan tetap ada untuk Kenzie selama masih bernafas.
Kini Kenzie adalah sumber kekuatannya saat ini, dia akan mencurahkan sisa hidupnya pada sang putra untuk menebus semua kesalahan yang telah dia perbuat.
“Semoga kamu tidak membenci Papi jika tau Papi pernah meninggalkan kalian." Andreas memeluk Kenzie, ketakutan terbesarnya saat ini adalah di benci oleh putranya sendiri. Dia tak mau mengulang sejarah Papa Chandra yang di benci oleh putranya sendiri akibat kesalahannya.
"Momii,, Zie mau susu,," Rengekan Kenzie seketika membuat Andreas buru-buru menghapus air matanya.
"Sayang,, ini Papi,," Andreas mengusap wajah putranya yang masih terpejam.
"Tunggu sebentar, Papi buatkan susunya dulu."
Andreas beranjak dari ranjang, dia menatap meja yang sudah lengkap dengan peralatan membuat susu termasuk termos kecil berisi air panas di atas meja.
Tiara memang sudah menyiapkan semuanya setelah makan malam tadi.
Andreas membuka botol susu, dia kemudian menuangkan bubuk susu ke dalam botol setelah membaca instruksi di dus kemasannya.
__ADS_1
Dia lalu memasukkan air mineral lebih dulu, kemudian mencampurkannya dengan air panas.
Meski ini pengalaman pertama kali membuatkan susu, tapi Andreas tampak tidak kesulitan untuk melakukannya. Dia dengan cepat bisa membuatkan susu untuk Kenzie. Dan sebelum memberikan susu itu pada putranya, Andreas lebih dulu menuang susu ke telapak tangannya untuk memastikan kalau susu itu tidak terlalu panas saat di minum Kenzie.
"Sini pangku sama Papi." Andreas mengangkat Kenzie dan mendudukkan dalam pangkuannya dengan posisi menghadap ke arahnya.
"Tidak boleh minum susu sambil tiduran." Ujarnya. Walaupun Kenzie mungkin tidak tau alasannya, setidaknya Kenzie mengerti kenapa harus dipangku.
Bocah yang sedang mengantuk itu hanya mengangguk saja tanpa protes. Dia menerima botol susu dari tangan Papinya dan langsung meminumnya dengan mata terpejam serta menyenderkan kepalanya di dada bidang Andreas.
Sembari memangku putranya, Andreas mendekap tubuh mungil itu. Dia ingin menikmati kebersamaannya bersama Kenzie yang mungkin akan jarang dia dapatkan.
Selagi bisa berada di samping putranya, dia tak akan menyia-nyiakan waktu sedetikpun untuk hal lain.
Sementara itu, Nisa tampak mengukir senyum sembari menatap layar ponsel di tangannya.
Ada perasaan haru melihat rekaman cctv di kamar putranya.
Dia ikut bahagia karna pada akhirnya Kenzie bisa merasakan kasih sayang ayah kandungnya bahkan bisa tidur bersama.
Nisa memang sengaja memantau lewat cctv, dia ingin memastikan keadaan di kamar putranya baik-baik saja. Karna walau bagaimana pun, masih ada kecemasan dalam hatinya akan keselamatan putranya.
“Aku yakin kamu akan jadi Papi yang baik untuk Zie." Lirih Nisa.
...*****...
Pagi itu Nisa sudah selesai menyiapkan sarapan, di bantu oleh Tiara.
Dia lalu kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap karna harus berangkat ke kantor.
Beberapa hari tidak datang ke kantor, banyak pekerjaan yang sudah menunggunya. Belum lagi dia harus rapat dengan para investor.
Sebelum masuk ke kamarnya, Nisa sempat melirik kamar Kenzie. Si kembar beda usia itu sepertinya masih terlelap. Apalagi Andreas barus saja bergadang karna terlihat kesulitan tidur.
Nisa mengetahuinya dari rekaman cctv yang dia lihat saat baru bangun tidur.
Itu sebabnya dia tak datang ke kamar Kenzie untuk membangunkan mereka.
Mungkin nanti saat dia mau berangkat ke kantor, dia akan ke kamar Kenzie untuk pamit pada putranya itu.
__ADS_1
"Papi,,," Kenzie menusuk-nusuk pipi Andreas dengan telunjuknya. Mata bocah tampan itu terlihat berbinar ketika bangun tidur melihat ada Andreas di sampingnya.
"Bangun Papi,," Panggilnya lagi. Tak puas menusuk pipi Andreas, kini Kenzie beralih ke mata. Dia menarik ke atas kelopak mata Andreas, tapi setelah itu terkekeh sendiri.
Suara tawa dan kejahilan Kenzie akhirnya membuat Andreas bangun. Dia langsung tersenyum lebar melihat putranya.
"Anak Papi jahil sekali,," Andreas mencubit gemas hidung putranya.
Walaupun tau sedang di tegur, tapi Kenzie justru kembali tertawa dan mengulangi kejahilannya lagi dengan menusuk lubang hidung Andreas.
"Astaga Zie,," Andreas reflek memegang tangan putranya dan menjauhkan wajahnya dari tangan Kenzie.
"Kamu mirip siapa hemm,,??" Tanya Andreas gemas. Didekapnya tubuh Kenzie dan mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pipi putranya itu.
“Mirip siapa lagi kalau bukan kamu." Sambar Nisa yang sudah sejak tadi masuk ke dalam kamar Zie tanpa di ketahui oleh mereka berdua.
"Momiii,,," Teriak Kenzie. Dia melepaskan diri dari pelukan Andreas dan terlihat buru-buru ingin turun dari ranjang.
"Hati-hati sayang, sini Papi bantu,," Andreas langsung menurunkan putranya dari ranjang.
Dia hanya bisa tersenyum melihat putranya berlari ke arah Nisa dan memeluk kakinya.
"Jagoan Mami sudah bangun. Ayo mandi dulu sama onti Ara." Ajak Nisa seraya menggendong Kenzie.
Biasanya dia masih sempat memandikan Kenzie, tapi berhubung dia sudah rapi, jadi akan menyuruh Tiara untuk memandikan Kenzie.
"Biar aku saja yang memandikan Kenzie." Pinta Andreas. Dia turun dari ranjang dan menghampiri Nisa.
"Aku ingin mengurus Kenzie selama disini." Ungkapnya lagi.
"Zie mau mandi sama Papi,," Seru Kenzie. Rupanya dia mendengar ucapan Andreas yang ingin memandikannya.
Nisa tak bisa menolak keinginan Andreas dan Kenzie, dia kemudian membiarkan Andreas memandikan putranya.
"Jangan lupa pakai air hangat," Pesan Nisa sebelum Andreas membawa Kenzie ke kamar mandi.
"Iya, aku mengerti." Andreas menjawab seraya mengukir senyum tipis, lalu masuk kedalam kamar mandi bersama Kenzie.
Sedangkan Nisa memilih keluar dari kamar setelah menyiapkan baju ganti untuk Kenzie.
__ADS_1