Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 171


__ADS_3

"Jangan lupa pakai yang warna merah malam ini." Bisik Andreas setelah dia membaringkan Kenzie di ranjang.


"Kamu sudah mengatakan itu sebanyak 4 kali." Ujar Nisa lirih. Antara malu dan heran karena Andreas berulang kali mengatakan hal yang sama, bahkan sejak masih dalam perjalanan pulang menuju Apartemen setelah pergi ke mall.


"Benarkah.?" Tanya Andreas kemudian menyengir.


"Sepertinya aku terlalu bersemangat." Ungkapnya yang semakin melebarkan senyum penuh arti.


"Sudah sana temui Aditya dulu." Nisa mendorong pelan bahu Andreas agar keluar dari kamar. Karna di ruang kerja Andreas sudah Aditya yang sudah menunggu dengan membawa beberapa map hitam berisi berkas penting perusahaan.


"Cium dulu,," Pinta Andreas. Dia menghentikan langkah, menoleh pada Nisa dan memajukan bibirnya.


Enggan membuat Aditya terlalu lama menunggu, Nisa buru-buru menuruti permintaan Andreas.


Dia langsung mencium dan melu mat sekilas bibir suaminya tanpa ada perdebatan seperti biasanya.


"Sudah. Sana keluar,," Usir Nisa setelah melepaskan pagutan bibirnya.


"Tidak berasa. Coba ulangi lagi,," Ucapan Andreas sontak membuat Nisa melotot kesal. Hanya karna hitungan detik, Andreas bilang tidak berasa di cium olehnya.


"Sepertinya otak kamu harus di cuci biar bersih." Cibir Nisa kesal. Andreas terkekeh gemas, dia mengecup pipi Nisa dan keluar dari kamar.


...*****...


"Ini berkas yang harus di tanda tangani." Aditya menyodorkan berkas pada Andreas.


"Bagaimana dengan rapat besok.?" Tanya Andreas seraya membaca berkas tersebut sebelum membubuhkan tanda tangan pada proyek yang bernilai ratusan milyar itu.


"Beres. Ruangan dan materi sudah di siapkan oleh Frans dan Diego." Jawab Aditya.


Andreas merespon dengan anggukan kepala.


"Untuk pernikahan kamu, aku sudah mem booking WO. Termasuk ballroom hotel untuk tempat pernikahannya." Tuturnya. Andreas memisahkan berkas yang baru saja dia tanda tangani.


"Anda melakukan semua itu untuk saya.?" Tanya Aditya tak percaya. Dia pikir Andreas akan menyuruh orang untuk mengurus pernikahannya, tapi ternyata Andreas sendiri yang mem booking hotel dan WO.

__ADS_1


Bukan masalah biaya yang sudah di tanggung sepenuhnya oleh Andreas, tapi lebih pada ketulusan Andreas mengurus semua itu padahal tidak ada untungnya sama sekali bagi seorang CEO besar seperti Andreas.


"Itu tidak seberapa. Banyak hal yang sudah kamu lakukan untuk ku. Anggap saja aku sedang membalas budi." Sahut Andreas santai. Jemarinya menarik berkas lain untuk di baca.


"Terimakasih banyak." Ucap Aditya tulus. Andreas hanya menganggukan kepala.


"Aku sudah menyuruh tim WO untuk menemui Tiara di rumah Nisa. Biar dia yang menentukan temanya. Kamu konfirmasi saja padanya supaya dia tidak bingung saat tim WO datang." Tutur Andreas lagi. Pernikahan Aditya dan Tiara yang akan di gelar 1 bulan lagi sudah di siapkan matang oleh Andreas.


Aditya berulang kali mengucapkan terimakasih atas kebaikan Andreas padanya.


"Sudah aku tanda tangani semua. Kamu boleh pulang." Andreas menyerahkan berkas-berkas itu pada Aditya.


"Apa Anda mau minum kopi di bawah.?" Ajak Aditya. Sudah lama dia dan Andreas tidak minum kopi bersama di cafe. Biasanya setiap 2 minggu sekali mereka akan pergi untuk sekedar minum kopi berdua dan membahas soal perusahaan.


"Lain kali saja. Ada yang harus aku kerjakan malam ini."


"Aku sudah tidak tinggal sendiri, kamu pasti tau apa yang akan aku kerjakan." Tambah Andreas untuk memperjelas kalimat sebelumnya. Aditya yang awalnya tidak paham, kini tampak menelan ludah dengan susah payah.


Bosnya sama sekali tidak pengertian. Untuk apa juga mengatakan hal itu pada laki-laki lajang. Hanya membuat pikiran jadi menerawang kemana-mana.


...*****...


Nisa menatap dirinya dalam pantulan cermin. Dia baru saja menyatok rambutnya dengan model curly, serta mengganti pakaian dengan lingerie tipis nan menerawang berwarna merah menyala yang di minta oleh Andreas.


Tak lupa lipstik berwarna merah juga di oleskan pada bibirnya. Wanita cantik itu sampai mengukir senyum geli melihat dirinya sendiri yang berdandan layaknya wanita malam untuk menyambut pelanggan. Tapi bedanya dia akan menyambut sang suami. Suami tampannya yang hangat dan kaya raya.


Nisa keluar dari walk in closet. Dia duduk di tepi ranjang untuk menunggu Andreas.


Sedangkan Kenzie sudah dia pindahkan ke kamar sebelah karna tidak mau kalau sampai kegiatan panasnya di lihat oleh sang anak.


Bahaya kalau nanti Kenzie tiba-tiba bangun dan melihat Mominya sedang di tindih sang Papi.


Apa yang akan di katakan Kenzie nanti.


Bunyi suara pintu yang terbuka seketika mendebarkan jantung Nisa. Detak jantungnya bergemuruh dan seketika menjadi gugup.

__ADS_1


Padahal bukan kali pertama dia akan melakukan percintaan dengan Andreas, hanya saja kali ini terasa berbeda hingga tidak bisa mengontrol detak jantungnya.


Suara derap langkah Andreas semakin dekat. Nisa mencoba menepis kegugupannya dan memberanikan diri mengangkat wajah untuk menatap pria berbadan gagah yang sedang menghampirinya dengan sorot mata penuh gairah.


"Lingerie yang seksi dan cantik, seperti orangnya." Ucap Andreas penuh pujian. Senyumnya yang merekah begitu menawan. Nisa ikut melempar senyum padanya.


"Dimana Kenzie.?" Tanya Andreas saat menyadari di atas ranjang tidak ada putranya.


"Aku memindahkan Zie di kamar sebelah." Nisa menjawab seraya berdiri di hadapan Andreas. Dia meletakkan kedua tangan di atas dada bidang Andreas untuk membuka kancing kemeja suaminya.


Tidak masalah kalau dia agresif di depan suaminya sendiri bukan.?


Meski sebenarnya malu, tapi demi menyenangkan hati Andreas, Nisa mencoba untuk mendominasi permainan agar tidak terlihat pasif dan terkesan pasrah.


"Sepertinya malam ini akan jauh lebih panas." Ucap Andreas. Kedua tangannya mulai berpegangan pada pinggul Nisa. Dia membiarkan istrinya melepaskan satu persatu kancing kemeja yang melekat di tubuh atletisnya.


Nisa hanya mengukir senyum menggoda. Jemari lentiknya perlahan mengusap dada bidang Andreas yang berotot. Mengusap dengan gerakan memutar, Nisa tampak sengaja memancing gairah Andreas.


"Apa kamu ingin aku pasrah saja.?" Tanya Andreas. Dia masih diam, belum mulai memberikan sentuhan apapun meski sebenarnya sangat ingin melempar tubuh Nisa ke ranjang dan menerkamnya bulat-bulat.


Bahkan dia sudah tergiur dengan dua bukit besar di balik lingerie yang menerawang. Rasanya menangkup salah satunya dan menye sapnya.


Apalagi melihat bibir merah merona di depan matanya. Pasti sangat manis jika memagut bibir itu.


"Ide bagus. Biar aku saja yang bekerja." Sahut Nisa setuju. Jika Andreas sudah biasa memuaskannya, kini giliran dia yang ingin memuaskan Andreas.


"Tapi aku tidak yakin kamu bisa pasrah." Ujarnya sembari memainkan pucuk dada Andreas.


Sontak pegangan tangan Andreas di pinggul Nisa semakin erat. Pria itu menahan gelayar yang mulai mengalir di tubuhnya akibat ulah Nisa.


Nisa mengukir senyum tipis melihat raut wajah Andreas yang tampak sedang menahan sesuatu. Jelas sekali hasrat pria itu sudah berada di ujung kepala.


...***...


Ninuninunya di skip aja ya 🤭 bab besok langsung loncat ke hari berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2