
"Sampai kapan kamu akan sibuk dengan pekerjaan kantor.?" Irene menegur pelan. Dia duduk begitu saja di samping Devan yang kini menatap ke arahnya.
Sekilas Devan menatap lekat wajah cantik Irene. Wajah yang terlihat semakin cantik dengan riasan make up dan tatanan rambut yang di sesuaikan dengan riasan dan gaunnya.
"Maaf. Ada sedikit kendala di perusahaan." Jawabnya dengan nada bicara berat. Devan kemudian mematikan laptop dan menyimpannya ke dalam tas. Dia tak punya pilihan lain membawa pekerjaan kantor di hari bahagianya malam ini, di karenakan perusahaannya terancam hancur.
"Acaranya sudah mau di mulai.?" Tanya Devan. Tapi setelah itu Devan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan make up itu dan mendapati semua keluarganya masih duduk santai. Yang artinya menandakan jika acara baby shower itu belum akan di mulai dalam waktu dekat.
"Acaranya tidak akan aku mulai sebelum kamu menjawab pertanyaanku." Ucap Irene tegas. Raut wajahnya semakin serius menatap Devan, begitu juga sebaliknya.
"Aku sudah mengetahui semuanya, kamu juga tidak perlu menyangkal." Irene menatap sendu. "Tentang kamu, Andreas dan Nisa." Ucapnya berat.
Bukan hal yang mudah untuk mengungkapkan apa yang selama ini dia ketahui. Berusaha menyembunyikan dari ketiga orang itu dan pura-pura seperti orang bodoh yang tidak tau apapun.
Nisa yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri bahkan menyembunyikan hal besar itu darinya.
"Apa yang kamu ketahui.?" Devan menatap intens. Dia mulai menaruh kecurigaan pada Irene. Dari tatapan dan nada bicaranya, Devan meyakini jika Irene mengetahui hal besar yang selama ini dia tutupi darinya.
Devan juga merasa jika seseorang yang beberapa bulan lalu mendengar percakapannya dengan Andreas adalah Irene.
Meski malam itu dia mendapati Irene sedang tertidur pulas di kamar mereka, Devan yakin istrinya hanya sedang pura-pura tidur malam itu.
Namun hari itu Devan tidak yakin kalau Irene yang menguping pembicaraannya. Apalagi keesokan harinya sikap Irene juga tidak berubah sama sekali. Wanita itu seolah tidak pernah mendengar apapun.
"Semuanya.!" Tegas Irene pelan.
"Annisa yang sering kamu sebut dalam tidurmu adalah Nisa.! Dia orang yang sama." Suara Irene tercekat. Rasa sesak di dadanya begitu menghimpit. Membayangkan saat Devan menyebut nama Nisa yang selalu hadir dalam mimpinya.
Dia tak pernah menyangka bahwa selama ini wanita yang di cintai oleh suaminya telah menjadi bagian dari keluarga mereka.
Nisa hadir di tengah-tengah kepedihan Irene yang belum menemukan titik kebahagiaannya bersama Devan.
Kini kepedihan itu semakin bertambah besar setelah mengetahui semuanya dan diam-diam selalu memergoki keduanya membicarakan hal yang sama.
__ADS_1
Sekalipun Nisa tak mau mendengarkan ucapan Devan dan terkesan menghindarinya, tapi Irene tetap bisa melihat ada cita di mata Nisa saat menatap Devan. Keduanya masih saling mencintai. Membuat Irene semakin menyadari bahwa dirinya tak berarti sedikitpun untuk Devan.
"Jadi kamu sudah tau. Kalau begitu aku tidak akan menutupi apapun lagi darimu." Devan menatap sendu. Tatapan sendunya menunjukkan kepedihan yang selama ini dia pendam karna telah meninggalkan Nisa begitu saja tanpa kejelasan.
Dia menghancurkan harapan dan kebahagiaan Nisa hanya untuk menikahi Irene yang sudah memaksakan kehendaknya.
"Dua tahun aku dan Annisa bersama. Aku bahkan sudah melamarnya dan berjanji akan menikahinya."
"Tapi seseorang begitu egois, dia hanya memikirkan dirinya dan perasaannya sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang lain."
"Aku terpaksa meninggalkan Nisa hingga membuatnya menunggu selama 2 tahun tanpa kabar dan kepastian."
"Aku tidak tega menemuinya untuk mengatakan yang sebenarnya."
"Aku tidak akan sanggup melihatnya terluka dengan kenyataan bahwa aku telah mengkhianatinya dengan menikahi wanita lain."
Devan menarik nafas dalam. Selama ini dia juga tersiksa dengan rasa bersalahnya terhadap Nisa. Dan tersiksa menjalani pernikahan yang di awali dengan keterpaksaan.
"Seandainya kamu ada di posisi Nisa, apa yang akan kamu lakukan.?"
"Kedua orang tuanya bahkan sudah tiada sejak dia kecil. Aku yakin kamu sudah tau tentang itu."
"Nisa tak memiliki kuasa untuk mengubah takdir agar sesuai dengan kehendaknya."
"Wanita itu hanya bisa pasrah menerima takdir. Pahit ataupun manis, sakit ataupun bahagia, dia jalani dengan sekuat hati meski aku tau hatinya sangat rapuh."
Mata Devan berkaca-kaca. Dia merasa bersalah atas apa yang dialami oleh Nisa sejak dia meninggalkannya sampai detik ini.
Nisa telah melewati banyak kesulitan dan kesedihan. Dan kini Andreas sedang mempermainkan Nisa, berencana untuk menyakiti wanita yang tidak bersalah.
Irene menundukkan wajah. Dia tak bisa berkata apapun sejak Devan berbicara dan mengatakan semua yang belum ia ketahui.
Terlebih saat Devan mengatakan bahwa ada seseorang yang egois, hanya memikirkan dirinya dan perasaannya sendiri, membuat Irene seakan tertampar.
__ADS_1
Dia baru sadar bahwa dirinya sangat egois. Tak pernah peduli bagaimana perasaan Devan padanya, asalkan Devan bisa menjadi miliknya.
Bahkan tidak pernah memikirkan bagaimana nasib wanita di masa lalu Devan setelah tunangannya dia rebut untuk dijadikan sebagai suami.
"Apa yang kamu inginkan sekarang.?" Tanya Irene dengan suara tercekat. Sekarang dia memilih untuk pasrah dan menerima apapun keputusan Devan dalam melanjutkan pernikahan mereka.
"Memangnya apa yang bisa aku lakukan jika aku ingin kembali di masa lalu.?"
"Harusnya kamu membuka mata dan hati, lihat siapa yang benar-benar mencintai kamu.!"
"Aku sudah mengatakannya berulang kali bahwa Andreas mencintaimu. Tapi kamu tidak pernah mau tau dan terus mendekati ku."
"Karna perbuatanmu, Nisa menjadi bahan balas dendam Andreas padaku."
"Andreas akan membuat Nisa menderita, agar aku bisa merasakan penderitaan yang dia alami saat kehilanganmu.!"
Deva mengepalkan kedua tangannya, dia kemudian beranjak dari sofa karna takut tidak bisa menahan amarahnya di depan Irene.
Sementara itu, Irene hanya bisa menangis.
Tidak hanya rasa sakit hatinya yang bertambah, tapi rasa bersalahnya terhadap Devan dan Nisa juga semakin besar. Akibat keegoisan dan keserakahannya, dia telah memisahkan dua orang yang saling mencintai, mengambil kebahagiaan mereka berdua untuk mendapatkan kebahagiaan semu.
Ya, kebahagiaan yang selama ini di rasakan oleh Irene adalah kebahagiaan semu. Karna dia memiliki raga Devan, tapi tidak dengan hati dan cintanya.
...****...
"Andreas,, lepas, aku malu,," Nisa menyikut pinggang Andreas lantaran suaminya itu memeluknya dari belakang. Padahal suasana ballroom sudah mulai ramai dengan kehadiran tamu undangan dan beberapa teman Irene dan Devan.
"Kamu malu di peluk suamimu sendiri di tempat umum.?" Tanya Andreas.
"Bagaimana kalau pindah ke kamar hotel saja.?" Tawarnya. Dia mengedipkan sebelah mata hingga membuat Nisa mencubit perutnya.
"Jangan mulai, kamu selalu mesum di manapun.!" Keluhnya lalu meninggalkan Andreas dan menghampiri Mama mertuanya.
__ADS_1
Andreas hanya mengulas senyum gemas melihat kepergian Nisa dengan bibir yang mencebik kesal.