
Setelah bagutan bibir dan pertukaran saliva terjadi, Andreas menggandeng Nisa masuk ke kamarnya. Keduanya duduk di tepi ranjang, saling mentap dengan perasaan yang bergejolak.
Debaran itu datang bersamaan dengan rasa yang menggebu. Tak hanya hasrat, tapi juga rindu yang telah lama membelenggu.
Meski tau semua ini salah, namun tak bisa di cegah.
"Aku mencintaimu Anissa, sangat mencintaimu." Ungkapan cinta Andreas begitu tulus. Hanya Nisa, satu-satunya wanita yang namanya terpatri dalam hati selama 3 tahun terakhir. Hanya wanita berparas cantik itu yang mampu memenuhi hati dan pikirannya. Bahkan kehadiran wanita-wanita cantik disana tak mampu membuat hatinya berpaling. Hanya ada Nisa yang ada di hatinya.
Andreas menangkup Pipi Nisa dengan sebelah tangannya, perlahan bergerak lembut meyusuri wajah cantik itu tanpa mengalihkan pandangannya dari maja Nisa.
Hasrat sudah menggebu, Nisa mulai kehilangan akal sehatnya. Yang ada dalam pikirannya hanya sebuah sentuhan dan sentuhan.
Minuman yang hampir dia habiska itu telah mberikan efek yang luar biasa besar hingga tak mampu untuk di kendalikan.
Melihat bagaimana kondisi Nisa saat ini, pasti dosis yang dicampurkan dalam minuman itu sangat tinggi.
Sejak tadi tangan Nisa bahkan mulai nakal, dia menyentuh dada bidang Andreas dan merabanya.
"Ini tidak benar Andreas,," Lirih Nisa di tengah-tengah kesadarannya yang mulai menurun.
Dia sadar bahwa semua itu tidak benar, namun dia juga gak bisa berbuat apa-apa.
"Anggap saja sebagai hadiah perpisahan kita, meski aku tak berharap perpisahan itu terjadi." Bisikan Andreas seraya memberikan sentuhan di sekitar area telinga dan leher Nisa dengan sapuan li dah.
Dalam keadaan di kuasai gairah, tubuh Nisa langsung menegang hebat. Des Sa han tertahan bahkan keluar dari bibirnya. Sentuhan itu membuatnya gila dan melayang entah kemana, membuatnya ingin menuntut lebih.
"Andreas,," De Sahnya lirih. Kedua tangan Nisa meremas kuat rambut Andreas. Re-mas an di salah satu buktinya membuat Nisa semakin tak terkendali.
3 tahun tak merasakan sentuhan itu, dia di buat melayang hanya dengan sentuhan kecil.
Andreas menghentikan aktifitasnya, sejujurnya dia ragu untuk berbuat lebih jauh. Meski hasratnya juga kian menggebu seperti Nisa, namun akal sehatnya masih bisa berfikir jernih. Dia hanya takut dengan reaksi Nisa jika pengaruh obat itu sudah hilang. Nisa bisa saja semakin kecewa padanya kalau dia melakukan hal yang lebih.
Saling menatap penuh gairah, mereka terjebak dalam gejolak yang tak tertahan. Tatapan Nisa seolah kecewa saat Andreas menghentikan aktifitasnya. Wanita itu berharap Andreas akan memberikan sentuhan-sentuhan lagi padanya.
"Ndree,," Panggilnya dengan suara berat. Nisa ingin melakukan lebih, namun dia tidak berani untuk memulai. Tapi di sisi lain, dianjuga tidak bisa menahan hasratnya. Sedangkan Andreas kini diam saja dan tak menyentuhnya lagi.
"Jangan lakukan ini, aku tidak mau kamu semakin kecewa padaku." Andreas merapikan baju Nisa yang tadi ia buat berantakan. Lebih baik dia menahan hasrat daripada harus di benci oleh Nisa nantinya.
Nisa menggelengkan kepala, dia menyangkal perkataan Andreas. Karna dalam keadaan seperti ini, dia hanya membutuhkan sebuah sentuhan.
"Tapi aku menginginkannya." Ucap Nisa pada akhirnya. Dia tak lagi memikirkan gengsi ataupun malu di saat sedang tersiksa seperti ini. Tak peduli bagaimana anggapan Andreas, asal dia bisa melepaskan hasrat yang kian menyislksanya.
__ADS_1
Setelah Nisa mengatakan keinginannya, hanya dalam hitungan detik bibir keduanya sudah menyatu. Ciuman lembut berubah menuntut. Nisa bahkan sangat agresif, tak seperti 3 tahun yang lalu.
Kedua tangannya juga lebih aktif dari Andreas.
Nisa meraba perut dan dada Andreas dari balik baju.
Keduanya hanyut dalam gairah yang tertahan selama bertahun-tahun. Mereka saling menyentuh untuk berbagi kenikmatan.
Perlahan Andreas menanggalkan baju milik Nisa, menyisakan kain berwarna hitam yang menutupi dua bukitnya indahnya. Andreas menelan saliva, menatap penuh naf su dua bukit yang jauh lebih besar dari 3 tahun lalu.
Dengan cepat Andreas melepaskan penutup itu dan melemparnya begitu saja. Tangan dan mulutnya langsung bekerja, menjelajahi keindahan itu dengan kelembutan.
Suara de sah an Nisa semakin sering terdengar, membuat Andreas makin bersemangat memberikan sentuhan di saja. Dia membaringkan Nisa di ranjang tanpa menghentikan aktifitasnya. Tubuh yang setengah tela_njang itu sudah berada di bawah kungkungan Andreas.
Tubuh Nisa menegang saat tangan Andreas menyusup di bawah sana. Menyentuh dan memberikan usapan yang mampu membuat pikirannya melayang. Belum lagi sensasi pada pucuk bukitnya yang sedang di lahap.
Nisa kehilangan akal sehat, tanpa malu dia mengeluarkan suara seksinya hingga menggema di kamar itu.
Andreas juga semakin menggila, dia menghentikan aktifitasnya untuk melepaskan kain yang melekat di badannya sendiri hingga tanpa sisa.
Dua manusia yang sedang di mabuk gairah itu sampai tidak memikirkan putranya yang ada di ruangan sebelah.
Keduanya sedang melakukan proses pembuatan calon kehidupan baru.
Kini Andreas sudah bersiap untuk melakukan penyatuan. Tanpa diminta, Nisa membuka lebar kakinya untuk memberikan ruang pada Andreas.
"Maaf,," Lirih Andreas seraya mengarahkan benda yang sudah siap untuk bertempur.
Nisa tampak menggigit bibir bawahnya saat merasakan benda itu akan menyeruak masuk ke dalam tempat yang semestinya.
Andreas sedikit mengalami kesulitan, entah kenapa sangkarnya terasa lebih kecil hingga membuatnya sulit untuk masuk.
Hal itu membuat pikiran Andreas semakin tidak karuan, dia justru ingin buru-buru menerobos masuk dan melakukan percintaan yang sudah 3 tahun tidak dia rasakan.
"Tahan sayang,,," Ucap Andreas dan mengecup singkat bibir Nisa.
Andreas terpaksa harus mendorong kasar untuk membenamkan benda itu.
suara jeritan Nisa yang bernama de sah an itu menggema di semua sudut ruangan.
Nisa merasakan miliknya sangat penuh dan sesak, namun ada sensasi menggelitik yang membuatnya ingin bergerak meski dibawah kungkungan Andreas.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, Andreas mulai bergerak teratur. Dia menghentakkan dalam-dalam hingga membuat Nisa terus mengeluarkan erang-an.
Beberapa menit berlalu, Andreas mempercepat gerakannya. Keduanya hanyut dalam gelombang kenikmatan yang memabukkan. Tak peduli dengan hubungan yang sudah berada di ujung tanduk, mereka melakukan percintaan panas itu tanpa beban. Saling memberi kepuasan satu sama lain dengan penuh kelembutan.
"Andreas,,, aku,,, aaghh,," Tubuh Nisa menegang, cengkraman di bawah sana semakin tarasa menj pit. Andreas reflek mempercepat gerakannya hingga tubuh di bawah kungkungannya bergerak tak karuan.
"Keluarkan sayang,," Ucap Andreas dengan suara seraknya.
Tak berselang lama, erangan panjang keluar dari bibir Nisa. Andreas mendekap erat tubuh wanita yang sangat dis cintai itu. Dia membiarkan Nisa menikmati pele-pasannya.
Deru nafas Nisa terdengar memburu. Dia baru saja dibuat melayang tinggi oleh Andreas.
Andreas melepaskan dekapannya, dia lantas berbaring di samping Nisa. Wanita itu tampak memalingkan wajahnya yang merona.
"Kamu belum selesai.?" Tanyanya yang hanya melirik Andreas sekilas.
Andreas menggeleng.
Tidak mau egois lantaran baru dirinya saja yang mendapat pelepasan, Nisa membuang rasa malunya untuk memberikan hak yang sama pada Andreas. Dengan sigap bangun dan langsung memposisikan diri di atas tubuh kekar itu.
Andreas tampak kaget, dia baru akan meminta Nisa untuk turun tapi bibirnya lebih dulu di bungkam oleh wanita cantik itu.
Melihat tingkah agresif Nisa, seketika gairah kembali menyelimuti Andreas. Dia membalas pagutan bibir itu.
Beberapa menit kemudian, Nisa sudah bergerak teratur. Kini giliran dia membuat Andreas mengerang tak karuan.
Seberapa kali Andreas mengumpat, tak jarang dia juga memberi pujian atas apa yang dilakukan oleh Nisa.
Wanita itu sudah banyak berubah, dia tau betul bagaimana cara membuat lawannya takluk dan merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Tubuh Nisa ambruk, bersamaan dengan lenguhan panjang keduanya.
Senyum di bibir Andreas mengembang sempurna, Dia memeluk Nisa yang berada di atasnya.
"Aku harap ada keajaiban untuk hubungan kita.,”
Gumam Andreas dalam hati.
"Aku mencintaimu,," Andreas berbisik lembut di telinga Nisa. Sedangkan wanita itu hanya bisa menahan malu dengan membenamkan wajah di dada bidang Andreas.
Perasaan dan pikirannya mulai berkecambuk. Dia bahkan bingung kenapa semua ini terjadi tanpa bisa di cegah.
__ADS_1