
"Sudah Ndre, dia sudah minta maaf. Tidak perlu di pecat,," Pinta Nisa. Dia tidak tega melihat asisten itu yang terus di caci maki oleh Andreas dan terancam di pecat hanya karna tidak berhasil mencegah Devan masuk ke ruangan.
Lagipula asisten itu menuturkan jika dirinya sudah melarang Devan, namun Devan bersikeras ingin tetap masuk. Jadi semua itu bukan sepenuhnya kesalahan si asisten. Terlebih Andreas juga tidak mengunci pintu.
"Kamu beruntung karna istriku membelamu." Tegas Andreas.
"Sekali lagi kamu melakukan kesalahan, jangan harap kamu bisa bekerja lagi disini.!" Andreas menatap tajam. Dia menggandeng tangan Nisa dan mengajaknya pergi dari kantor.
"Kamu senang karna dia tidak jadi di pecat.?" Tanya Andreas setelah jauh dari tempat keributan tadi. Tangannya terus menggenggam pergelangan Nisa, seolah enggan melepaskannya.
"Bukan masalah senang atau tidak Ndre, tapi terlalu kejam kalau kamu langsung memecatnya."
Komentar Nisa.
Menurutnya kesalahan yang di perbuatan oleh asisten itu belum terlalu fatal. Dan bukan menyangkut soal pekerjaan kantor, melainkan urusan pribadi atasannya.
"Lagipula ini di kantor Ndre, bukan di rumah."
"Kita yang salah karna sudah melakukannya di dalam." Nisa menundukkan kepala. Pikirannya langsung teringat pada Devan yang ternyata melihat adegan panasnya bersama Andreas.
Perasaannya kembali cemas memikirkan bagaimana reaksi Devan ketika melihatnya bergerak liar di atas pangkuan Andreas.
Ada perasaan sesak, kasihan pada Devan jika seandainya laki-laki itu merasakan sakit hati atas apa yang dia lihat.
"Baiklah, aku salah." Ujar Andreas pasrah.
"Aku minta maaf. Lain kali aku tidak akan lupa mengunci pintunya." Ucapnya dengan menahan tawa. Sontak Nisa langsung mengangkat wajah menatap Andreas. Kedua matanya melotot sempurna mendengar ucapan Andreas yang artinya laki-laki itu akan kembali mengajaknya ke kantor untuk berbuat gila lagi di dalam ruangan tersebut.
"Jangan harap aku mau di ajak pergi ke kantor lagi.!" Sahut Nisa cepat. Bibirnya mencebik dan membuang pandangan ke arah lain.
"Kenapa.?"
"Padahal aku berniat mengajakmu ke kantor setiap hari. Kamu tau,,," Andreas mendekat untuk berbisik.
"Aku lebih suka melakukannya di kantor karna kamu lebih agresif dan terlihat sangat seksi." Bisiknya. Suara serak dan berat itu membuat pipi Nisa merona. Pujian yang keluar dari bibir sensual Andreas terdengar asli.
"Andreas.!" Nisa reflek mencubit perut Andreas. Pipinya semakin merona mendapat pujian seperti itu. Dia malu karna sudah bertindak terlalu jauh dalam menjalani perannya.
Tapi agaknya apa yang baru saja dia lakukan, sedikit demi sedikit berhasil memikat pikiran Andreas. Berawal dari pikiran yang selalu terbayang-bayang, perlahan akan tertanam di hati.
Andreas hanya terkekeh. Dia terlihat senang membuat Nisa malu.
Terlebih saat ini mereka sedang menjadi pusat perhatian beberapa karyawan yang menatap iri pada keduanya.
Mereka iri melihat hubungan bos dan istrinya sangat menggemaskan kan romantis.
__ADS_1
...*****...
Nisa turun dari taksi. Dia berjalan cepat memasuki ruko. Sudah 1 bulan ini dia rutin datang ke ruko sejak pukul 9 pagi dan pulang pukul 3 siang.
Untuk menjalankan bisnis yang dia kelola bersama Mella.
Untungnya Andreas tak pernah curiga atupun banyak bertanya setiap kali Nisa ijin keluar apartemen untuk pergi menemui Mella.
Nisa memang jujur pada Andreas.
Tapi sekalipun mengatakan kejujuran, tetap ada kebohongan di dalamnya.
Nisa mengatakan jika ruko dan bisnis itu murni milik Mella. Jadi Andreas tak akan menaruh curiga padanya.
"Hai Mel,," Nisa menyapa Mella yang sudah sibuk di depan laptop.
3 karyawan di sana juga sedang sibuk packing orderan yang masuk sejak kemarin sore.
"Akhirnya kamu datang juga." Seru Mella. Dia seolah sudah menunggu kedatangan Nisa sejak tadi.
"Cepetan kesini Nis, kamu harus liat ini." Ujar Mella antusias. Dia menatap layar laptop di depannya, mengisyaratkan Nisa untuk ikut melihat sesuatu di balik laptop itu yang sepertinya sangat membahagiakan bagi Mella.
"Ada apaan nih.? Kita dapat orderan besar-besaran.?" Tanya Nisa asal. Dia hanya asal menebak saja karna melihat ekspresi wajah Mella yang terlihat sangat bahagia.
Meski begitu, Nisa tidak yakin jika tebakannya benar.
Wanita cantik itu terlihat fokus membaca email yang masuk ke akun resmi bisnisnya.
Tak lama Nisa terlihat tercengang dan menatap Mella tak percaya.
"Kamu yakin ini email resmi dari perusahaan mobil ternama itu.?" Tanya Nisa. Dia belum bisa percaya meski bisa melihat dengan jelas semua keaslian yang ada di dalamnya.
"Aku sudah pastikan kebenarannya Nis."
"Nomor ponsel yang mereka cantumkan bahkan asli. Aku baru saja menghubunginya 15 menit yang lalu."
"Mereka meminta kepastian untuk kerjasamanya." Tutur Mella.
Nisa terlihat bengong. Dia tidak bisa berfikir terlalu jauh setelah membaca email pengajuan kerjasama untuk pembuatan seragam karyawan di perusahaan mobil itu. Seragam yang jumlahnya hampir menyentuh angka 1000.
"Bagaimana Nis, apa kita sanggup memenuhi permintaan mereka.?" Tanya Mella.
Dia tidak bisa menentukan keputusan apapun karna Nisa yang paling berhak untuk menentukan tawaran kerjasama yang masuk.
"Bukan masalah sanggup atau tidak sanggup Mel."
__ADS_1
"Kita bisa saja membagi orderan itu pada 3 atau 5 konveksi untuk pembuatan seragam itu."
"Yang membuatku tak habis pikir, kenapa perusahaan sebesar itu bisa tertarik dengan bisnis kecil yang baru berjalan 1 bulan."
"Apa menurutmu itu masuk akal.?" Tanya Nisa.
Dia tidak mempermasalahkan poin kerjasama ataupun omset yang akan dia dapatkan jika menerima tawaran itu. Yang jadi masalah adalah sesuatu yang tidak masuk akal disini.
Mella terdiam, sekarang dia baru sadar dengan kejanggalan itu. Jika di pikir secara logika, rasanya memang tidak mungkin sekelas perusahaan mobil ternama mengajukan kerjasama dengan mereka.
"Ya ampun, aku nggak berfikir sejauh itu Nis."
"Jadi menurut kamu kita harus bagaimana.?" Mella menatap bingung.
"Kamu hubungi lagi nomer ponselnya, kita minta jadwal untuk bertemu secara langsung."
"Dengan begitu kita bisa menanyakan darimana mereka tau tentang bisnis kita."
Mella mengangguk paham. Dia kemudian segera menghubungi kembali nomor ponsel itu untuk mengatur jadwal.
...***...
...Pengumuman Giveaway ke 12...
Masing-masing pemenang mendapatkan pulsa senilai 20k.
Wahyu Muriyanasari
Siti Fatimah
Nurul Ihsan
Diana Ajah
Silahkan DM ke instagram r.wulland1
__ADS_1