
Sejak di perintahkan Nisa untuk istirahat di kamar, Tiara belum bisa memejamkan mata sampai saat ini. Jam hampir menunjukkan pukul setengah 12, tapi matanya masih terjaga.
Bukan tanpa alasan Tiara tidak bisa memejamkan matanya. Dalam keadaan malu dan pikiran kacau, mana mungkin dia bisa tidur dengan mudah.
Tertangkap basah berduaan di dalam kamar bersama Aditya, Tiara merasa sudah kehilangan muka di depan majikannya.
Walaupun tidak sampai melakukan penyatuan, tetap saja hal itu sangat memalukan dan tak seharusnya terjadi.
Belum lagi dia telah membuat Nisa kecewa.
Tiara mengakui bahwa semua itu adalah karna kesalahannya. Dia yang sudah menahan Aditya di kamarnya dan lebih dulu mencium bibir laki-laki itu sampai akhirnya terjadi hal yang lebih intim lagi. Hal yang membuatnya mengeluarkan de Sa han dan lenguhan panjang, lalu berakhir tertangkap basah oleh Nisa lantaran mendengar suaranya.
Yang membuat Tiara tak habis pikir adalah pengakuan Aditya pada Nisa. Padahal Nisa sangat marah dan kecewa hingga menuduh Aditya yang bukan-bukan. Tapi alih-alih membela diri dengan mengatakan yang sebenarnya, Aditya justus membuat Nisa semakin yakin kalau mereka sudah melakukan hubungan suami istri.
"Bertanggungjawab.? Menikahi ku.?" Gumam Tiara yang mengulangi ucapan Aditya beberapa jam yang lalu.
"Dia tidak mencintai ku, tapi kenapa sampai harus mengatakan kalau dia akan menikahiku." Gumamnya tak habis pikir.
Selain tak bisa tidur karna sangat malu, Tiara juga di buat gelisah dengan keputusan Aditya yang ingin menyelesaikan masalah ini dengan sebuah pernikahan.
...***...
Masih di halaman belakang, Andreas tak henti-hentinya memberikan nasehat pada Aditya. Andreas sadar bahwa dirinya sangat jauh dari kata sempurna, namun dia tak ingin Aditya merasakan kehancuran dan penyesalan yang pernah dia rasakan akibat perbuatannya di masa lalu. Cukup dia saja yang bodoh, bodoh karna mementingkan ego sendiri hingga menyia-nyiakan wanita sebaik Nisa. Dan jangan sampai Aditya menyia-nyiakan Tiara walaupun mungkin saat ini cinta belum hadir di hati Aditya.
"Cinta akan hadir seiring berjalannya waktu, Aditya." Ucap Andreas yang mengarahkan pandangan lurus kedepan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya, seakan menariknya ke dalam masa lalu.
"Jika pernikahan itu terjadi, percayalah bahwa Tuhan memang menakdirkan kalian untuk hidup bersama." Tuturnya.
"Saya mengerti Tuan." Aditya mengangguk paham. Semua yang dikatakan Andreas memang benar.
Lagipula pernikahan suatu hal yang sakral dan tidak untuk di permainan.
Tidak masalah walaupun pada awalnya tak ada cinta di antara mereka, jika memang Tuhan sudah menggariskan untuk bersama, cinta pasti akan datang di waktu yang tepat.
__ADS_1
"Katakan saja kapan kamu akan melangsungkan pernikahannya, aku yang akan mengurus semuanya untukmu." Ucap Andreas seraya menepuk pundak Aditya.
Asisten pribadinya itu sudah mengabdikan hidupnya selama ini, bahkan selalu ada di sampingnya dalam keadaan apapun.
Membiayai dan mempersiapkan pernikahan Aditya merupakan salah satu bentuk terimakasih atas kebaikan Aditya padanya selama ini.
"Anda serius.?" Aditya menatap tak percaya karna seorang Andreas mau mempersiapkan pernikahannya. Sedangkan selama ini Andreas semua keperluan Andreas saja di siapkan olehnya.
"Apa aku pernah bercanda.?" Sahut Andreas datar.
Aditya malah mengangguk dan itu membuat Andreas menatap heran.
"Kapan aku bercanda." Ujarnya menyangkal.
"Apa Anda lupa soal obat perangsang yang akan diberikan pada kucing peliharan Kenzie. Bukahkan itu bercanda." Aditya mengingatkan Andreas dengan ucapan Andreas beberapa jam yang lalu saat bosnya itu memintanya untuk membeli obat perangsang.
"Ah sialan gara-gara obat itu.!" Umpat Andreas yang seolah tak menghiraukan ucapan Aditya. Andreas malah ingat dengan obat perangsang yang membawa masalah besar di rumah ini.
Untung saja Aditya tidak mengatakan yang sebenarnya pada Nisa. Kalau sampai itu terjadi, Nisa pasti akan sangat marah padanya.
"Apa.?! Di buang Tuan.?" Aditya tampak kaget mendengar Andreas akan membuang obat yang sudah dia beli dengan susah payah itu.
"Tentu saja. Aku tidak mau obat itu menimbulkan masalah lagi.!" Tegas Andreas. Lagipula obat itu sudah tidak di butuhkan lagi olehnya. Tanpa obat itu pun, Nisa mau melakukan kewajibannya dengan baik.
"Berikan saja pada saya. Sepertinya saya akan membutuhkannya setelah menikah nanti." Seringai tipis terukir di bibir Aditya. Mengingat Tiara yang sangat pemalu dan bahkan takut untuk di sentuh, Aditya berfikir kalau dia akan kesulitan melakukan malam pertama tanpa obat itu.
"Jangan gila, apa kamu tidak takut terjadi masalah nantinya.!" Tegur Andreas. Dia sudah kapok berurusan dengan obat itu.
"Aku akan membuangnya."
Setelah mengatakan itu, Andreas bergegas meninggalkan Aditya dan membuang obat yang dia sembunyikan di suatu tempat.
Selesai membuang obat pembuat masalah itu, Andreas bergegas pergi ke kamar Nisa. Dia membuka pintu perlahan karna tak mau menganggu istirahat anak dan istrinya. Dia kemudian menutup kembali dan menguncinya.
__ADS_1
Berjalan mendekati ranjang dengan senyum yang semakin merekah. Andreas tampak sangat bahagia mentapa wajah Nisa dan Kenzie dalam keadaan sedang terlelap.
Mereka adalah dunia dan kebahagiaannya saat ini. Hidupnya hanya akan dia curahkan untuk mereka berdua.
Andreas ikut berbaring di samping Nisa selesai membersihkan diri. Dia lantas memeluk tubuh wanita cantik itu dengan hati-hati agar tak membangunkannya.
Rasa hangat dan tenang mulai menyelimuti hatinya. Berada di dekat Nisa memang memberikan dampak positif untuk kondisinya hatinya yang tak menentu.
"Dari mana saja.?" Tanya Nisa lirih. Andreas sontak reflek melepaskan dekapannya di perut Nisa.
"Apa aku membangunkanmu.?" Ucap Andreas tak enak hati.
Nisa menggelengkan kepala. Sebenarnya dia memang belum tidur sejak tadi. Walaupun sudah memejamkan mata, tapi tak membuatnya tertidur.
Entah kenapa dia merasa gelisah karna Andreas tak kunjung kembali. Hatinya tidak tenang karna tak melihat pria itu di dalam kamar.
Mungkin karna beberapa hari terakhir sudah terbiasa tidur satu ranjang dengan Andreas, hal itu membuat Nisa tak bisa tidur tanpa ada Andreas di sampingnya.
"Jadi kamu belum tidur.?" Tanya Andreas.
Nisa kembali menganggukkan kepala.
"Kenapa.? Apa ingin mengulanginya lagi.?" Goda Andreas. Kini tangannya kembali mendekap tubuh wanitanya dengan penuh cinta.
"Tidak Andreas, terimakasih." Jawab Nisa penuh penekan.
"Aku sudah lelah." Sambungnya.
Andreas justru terkekeh kecil mendengar jawaban Nisa.
"Kamu bekerja sangat keras tadi." Andreas mengatakan hal yang membuat Nisa merasa malu lantaran mengingat percintaan panas mereka beberapa jam yang lalu.
"Jangan menggodaku.!" Tegur Nisa malu. Dia menyikut perut Andreas yang menempel di punggungnya.
__ADS_1
"Tidak sayang, aku mengatakan apa adanya." Jawab Andreas yang kembali menahan senyum.
Dia gemas sendiri sudah menggoda Nisa hingga wanita itu menjadi malu.