
Nisa menghampiri Kenzie di ruang bermainnya, di sana Tiara sedang menemani Kenzie sembari memegang ponsel di tangan. Kedatangan majikannya itu membuat gadis berusia 20 tahun itu tampan gelagapan dan langsung mematikan ponselnya. Menyimpan ponsel di meja tak jauh dari tempatnya duduk.
Berbalas pesan dengan laki-laki yang dia ketahui bernama Aditya, tentu Tiara takut ketahuan bahwa dirinya sedang membahas sebuah rencana.
Seandainya bukan karna Aditya, mungkin Tiara tak akan berani menyetujui rencana untuk membohongi majikannya sendiri.
Wajah Aditya sangat mirip dengan seseorang yang dia cintai dalam diam. Meski ada sedikit perbedaan dan Aditya lebih unggul karna lebih tampan. Tiara sengaja menerima kerjasama itu agar bisa dekat dengan Aditya.
Cinta dalam diamnya tak bisa ia miliki karna telah menikahi wanita lain.
Kini hadirnya Aditya seolah menjadi pengobat luka atas hancurnya hati melihat orang yang dia cintai menikah dengan orang lain.
"Kamu kenapa Ra.?" Duduk di samping Tiara sembari mengerutkan kening, Nisa merasa aneh melihat Tiara yang seolah ketakutan karna ketahuan memainkan ponsel saat sedang menjaga Kenzie.
Padahal Nisa tak pernah melarang Tiara memainkan ponsel saat menjaga Kenzie, selama Kenzie bermain di dalam ruangan bermainnya.
Karna di ruangan itu sangat safety, jadi tidak terlalu membutuhkan penjagaan yang ekstra untuk mengawasi Kenzie bermain.
Menggeleng cepat, Tiara melempar senyum untuk menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.
"Tidak Bu, cuma kaget saja tiba-tiba Ibu masuk." Sahutnya bohong.
Namun Nisa langsung percaya begitu saja, karna dia tau kalau Tiara tak pernah menyembunyikan sesuatu ataupun berbohong padanya.
"Tolong siapin air buat mandi Kenzie. Sekalian sama bajunya ya Ra,," Pinta Nisa dengan gayanya yang ramah.
Ara mengangguk sembari mengiyakan, dia lalu mengambil ponselnya lebih dulu sebelum keluar dari ruangan itu.
"Momi,, cini main,," Kenzie melambangkan tangan mungilnya pada Nisa. Mengajak sang Momi untuk ikut bermain mobil-mobilan dengannya.
Dengan senang hati Nisa mendekat, dia selalu mengukir senyum lebar di depan putranya agar putranya selalu merasa bahwa sang Momi bahagia dan baik-baik saja selama hidupnya.
Sembari mengajak Kenzie bicara, Nisa terus menatap lekat wajah putranya itu.
Sejak kemarin dia merasa terusik dan tertekan dengan kedatangan Andreas. Kini ditambah lagi dengan Devan yang tiba-tiba muncul di rumahnya juga.
Rasanya menyesal karna dulu sering meminta untuk di pertemukan kembali dengan Andreas.
Menyesal karna telah membuang banyak air matanya hanya untuk menangisi laki-laki seperti itu.
Di saat takdir mempertemukan mereka, Nisa harus menelan pil pahit atas sikap Andreas yang bahkan berniat melewatinya begitu saja seolah tak mengenalinya.
Bukankah menyakitkan.? Selama 3 tahun menaruh harapan besar padanya, tapi seketika harapan itu di patahkan oleh Andreas di hari pertama mereka di pertemukan kembali.
Rasanya seperti di jatuhkan dari atas ketinggian.
__ADS_1
...*****...
"Ya ampun, kenapa tiba-tiba deman." Nisa tampak panik saat menyentuh wajah putranya yang baru saja tertidur setelah makan malam.
Dia bergegas mengambil obat penurun panas serta nempelkan plester kompres di kening putranya.
Tak lupa mengukur suhu badan Kenzie dengan termometer.
"39.?" Ucap Nisa sendu. Suhu badan putranya sangat tinggi.
"Zie,, bangun sayang,," Bisik Nisa lembut. Dia terpaksa membangunkan Kenzie untuk memberikan obat penurun panas.
Namun Kenzie justru menangis histeris dengan mata yang terpejam. Membuat Nisa semakin panik dan akhirnya menggendong Kenzie keluar kamar untuk meminta bantuan Tiara meminumkan obat pada Kenzie.
"Kenzie kenapa Bu.?" Di saat baru selesai menuruni tangga, Tiara sudah lebih dulu menghampiri Nisa lantaran mendengar suara tangisan Kenzie.
"Kenzie demam, tolong bantu aku meminumkan obatnya." Nisa memberiksn botol obat di tangannya pada Tiara. Dia bergegas duduk sofa, sementara Tiara pamit ke dapur untuk mengambil air minum.
"Sebaiknya aku bawa Kwnzie ke rumah sakit saja." Ujar Nisa setelah Tiara selesai menyiapkan obat pada Kenzie.
"Mau saya suruh Pak Dito siapkan mobil Bu.?" Tiara dengan sigap menawarkan bantuan.
Meski sebenarnya dia sedang bingung karna rencananya harus di batalkan mengingat Kenzie sedang sakit. Sudah pasti majikannya itu tak akan menggubris seandainya mendengar kabar jika Andreas koma.
"Biar saya temani Bu,," Tiara ikut menyusul langkah Nisa dan masuk ke dalam mobil.
Begitu Pak Dito melajukan mobil, Tiara bergegas menghubungi Aditya untuk memberitahunya jika tidak bisa menjalankan rencana malam ini karna Kenzie sedang sakit.
Duduk di tepi ranjang, Nisa memegangi tangan putranya yang tengah terlelap setelah di pasang infus. Nisa menatap sendu, baru kali ini putranya harus di rawat di rumah sakit.
Kondisi Kenzie semakin menambah rasa sesak di dadanya. Ketenangan yang dulu dia rasakan, akhir-akhir ini lenyap setelah dia menginjakkan kakinya di Jakarta.
"Aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama putraku." Lirihnya dengan air mata yang mulai membasahi pipi.
Suara ketukan pintu membuat Nisa buru-buru mengusap air matanya dan berjalan ke arah pintu.
Dia tidak bisa menyuruh orang lain masuk karna dokter menyarankan agar Kenzie istirahat.
Nisa tertegun, menatap seseorang yang berdiri di balik pintu dengan selang infus ditangannya.
Kondisinya tampak kacau serta terlihat panik.
"Bagaimana keadaan Kenzie.?"
Nisa hampir saja menutup pintu karna tak mau melihat keberadaan Andreas. Namun Andreas dengan cepat menahan pintu itu.
__ADS_1
"Aku mohon ijinkan aku bertemu dengannya." Pintanya dengan wajah memelas.
"Aku tidak akan melarangmu bertemu dengan putraku, tapi tidak sekarang.!" Tegas Nisa namun pelan karna takut suaranya membuat Kenzie terbangun.
"Aku butuh waktu untuk memahami keadaan yang menyakitkan ini." Tuturnya. Suara Nisa tercekat, menahan sesak di dada karna harus mengambil keputusan yang terbaik untuk putranya meski harus melukai hatinya sendiri.
"Putraku harus istirahat. Kamu bisa menemuinya nanti." Nisa melepaskan tangan Andreas dari pintu.
Sementara itu, Andreas seolah terhipnotis saat jemari tangan Nisa memegang tangannya. Hingga dia dengan mudah membiarkan Nisa menyingkirkan tangannya dari pintu.
"Momi,,, Huuaaaaaa,,,, cakit momi,, cakit,,," Tiba-tiba Kenzie menangis histeris sembari berteriak.
Nisa bergegas menghampiri putranya meski belum sempat menutup pintu.
"Ya ampun sayang, jangan di tarik nak." Nisa panik lantaran Kenzie sedang berusaha menarik selang infus di tangannya.
"Sini Momi gendong,," Dia langsung menggendong putranya agar perhatian Kenzie teralihkan dari selang insuf itu.
"Cakit Momi,, lepas,,," Rengeknya dan kembali menangis.
Kenzie masih fokus pada tangan kirinya dan menggoyang-goyangkannya seolah agar benda asing itu terlepas dari tangannya.
"Iya sayang, kita tunggu dokter dulu ya. Nanti biar Om dokter yang lepas." Nisa mencoba untuk menenangkan putranya. Tapi Kenzie masih terus menangis dan memintanya untuk melepaskan selang infus itu.
"Kemari, biar aku yang gendong Kenzie." Andreas sejak tadi sudah berdiri di dekat mereka tanpa Nisa sadari.
Wanita itu reflek menoleh, dia handak mengusir Andreas namun keadaan tidak memungkinkan karna tak mau Kenzie melihatnya berdebat dengan seseorang.
"Tidak usah,," Nisa menolak datar.
Sementara itu Kenzie langsung terdiam setelah melihat Andreas. Bocah 2 tahun itu tampak menatap lekat wajah Andreas.
Melihat putranya yang langsung berhenti menangis karna melihat Andreas, seketika membuatnya tersentuh.
Apalagi tatapan polos Kenzie seolah sudah lama merindukan sosoknya.
"Mau gendong sama Papi.?" Tanya Andreas seraya mengulurkan kedua tangannya.
Mata laki-laki itu berkaca-kaca, suaranya bahkan tercekat. Namun bibirnya mengembang sempurna.
...****...
Cerita Davina dan Om Dave ganti judul jadi "Lahirnya Sang Pewaris". Ada di akun Ratna Wullandarrie. Jangan lupa mampir yah, 🙏🏻
__ADS_1