Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 177


__ADS_3

Senyum tipis di bibir Nisa tampak merekah. Ada kebahagiaan tersendiri ketika menginjakkan kakinya lagi di rumah miliknya setelah di tinggalkan selama 1 bulan. Meski rumah itu tak ada apa-apanya di banding tempat tinggal milik Andreas di Amerika, namun kenangan indah bersama Kenzie di rumah sederhana itu sangat membekas. Apalagi rumah dan semua isinya di dapatkan oleh Nisa dari kerja kerasnya sendiri.


"Aku bawa Kenzie ke kamar dulu." Andreas sempat mengecup pipi Nisa sebelum berlalu ke lantai atas untuk membaringkan Kenzie yang tengah terlelap.


Nisa lantas masuk ke ruang kerjanya. Agaknya dia merindukan rutinitasnya yang selalu di lakukan setiap malam sebelum tidur. Menyelesaikan pekerjaan di ruangan berukuran 6 x 4 meter itu, ataupun mencari ide untuk mengembangkan usahanya agar lebih besar lagi.


"Sejujurnya sangat berat meninggalkan semua ini." Nisa bergumam sendu seraya mengusap kursi empuk di ruang kerjanya itu. Dia menyayangkan untuk meninggalkan semua hasil dari kerja kerasnya selama ini. Tapi mengingat perusahaan Andreas yang sangat besar bahkan masuk dalam daftar 10 perusahaan terbesar di Amerika, Nisa yakin kalau Andreas sudah bekerja keras lebih dari dirinya. Jadi sangat di sayangkan kalau Andreas yang harus mengorbankan perusahaannya.


"Kamu sedang apa.?" Andreas tiba-tiba masuk ke ruang itu setelah mencari Nisa di beberapa ruangan dan tidak menemukannya.


Nisa menoleh seraya mengukir senyum. Dia menutup berkas yang terakhir kali dia tinggalkan di meja itu.


"Tidak ada. Hanya rindu duduk di sini." Jawabnya kemudian beranjak dari kursi.


"Besok aku akan ke kantor. Posisiku harus segera di gantikan oleh orang lain agar usahanya tetap jalan." Tutur Nisa. Agaknya dia mendengarkan saran Andreas untuk menyerahkan tugas dan tanggungjawabnya pada orang kepercayaan. Jadi usahanya masih tetap berjalan meskipun Nisa menetap di Amerika.


"Maaf, karna aku, kamu harus meninggalkan semua ini." Andreas meraih tangan Nisa. Dia memang bahagia karna Nisa bersedia ikut dengan untuk tinggal di Amerika, tapi dalam hati kecilnya ada perasaan bersalah pada istrinya itu.


"Tidak masalah, sepertinya aku sudah nyaman dengan panggilan Nyonya Andreas di sana." Nisa menjawab dan terkekeh kecil. Dia berusaha mencairkan suasana lantaran Andreas memasang wajah bersalah.


"Kamu ini bisa saja." Sahut Andreas yang kemungkinan mengecup gemas bibir Nisa.


"Ayo tidur. Kalian pasti lelah,," Dengan tatapan mata berbinar, Andreas mengusap lembut perut Nisa.


Kehadiran twins di perut Nisa semakin melengkapi kebahagiaan pria berusia 31 tahun itu.


Andreas bahkan mulai merasakan akhir-akhir ini kondisinya jauh lebih baik. Dia bisa mengontrol perasaan dan pikirannya dengan lebih baik.


Sepertinya dengan hidup kembali bersama Nisa. serta adanya Kenzie, telah memberikan dampak positif yang signifikan pada kondisi Andreas.


Karna mungkin kondisi kesehatan mental Andreas yang terganggu di sebabkan perang batin dan penyesalan akibat keputusannya untuk meninggalkan Nisa. Itu sebabnya dengan kembalinya Nisa di sampingnya, perlahan bisa membuat Andreas sembuh.


...*****...


Siang itu setelah pulang dari kantor, Nisa mengajak Andreas pergi ke rumah Tiara.


Sebagai majikan Tiara selama hampir 3 tahun, Nisa ingin memberikan hadiah pada Tiara menjelang hari pernikahan Tiara yang akan di langsungkan besok malam.


Di antar oleh Pak Dito, Nisa mengajak serta Andreas dan Kenzie.

__ADS_1


"Sepertinya ada Aditya,," Ujar Nisa saat melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumah Tiara.


Aditya belum tau kalau Nisa dan Andreas sudah sampai di Batam. Karna mereka bilang akan datang saat hari pernikahannya.


"Mungkin sedang memastikan kalau Tiara tidak kabur menjelang hari pernikahannya." Jawab Andreas asal.


"Mau di taruh di mana muka Aditya. Dia sudah mengundang semua teman-temannya yang di Amerika dan di Jakarta." Sambungnya seraya membuka pintu mobil.


"Andreas,, jangan bicara seperti itu,," Tegur Nisa. Tiba-tiba saja perasaannya tidam enak meski dia tau Kalau Andreas hanya asal menjawab.


"Maaf sayang, aku hanya bercanda. Lagipula Tiara tidak mungkin kabur karna dia dan Aditya sudah melakukannya kan."


"Jadi sudah seharusnya Aditya menjadi suaminya." Ucapnya kemudian turun sembari menggendong Kenzie. Setelah itu membantu Nisa turun dari mobil dengan memegangi tangannya.


Pria itu siap siaga menjaga Nisa dan twins agar mereka selalu aman dan selamat.


"Kamu bikin kami cemas saja."


"Untung ada Kakak kamu di sana." Terdengar suara Heru yang sedang memarahi anaknya.


Nisa yang sudah di depan pintu jadi mengurungkan Niat untuk menyapa. Dia hanya manatap ke dalam rumah dari balik pintu yang terbuka setengahnya.


Mungkin Mama tiri Tiara melihat keberadaan Nisa dari jendela.


Tak berselang lama Amira keluar dan menyuruh mereka untuk masuk.


Di ruang tamu berukuran 4 x 3 meter itu, tampak semua orang berkumpul di sana. Termasuk Kakak tiri Tiara.


"Ternyata Bu Nisa dan Pak Andreas sudah sampai. Aditya bilang kalian masih dalam perjalanan dan baru akan sampai besok pagi." Tutur Heru begitu Nisa dan Andreas masuk.


Nisa menjawab pertanyaan Heru dan menyapa. semua orang yang ada di sana. Begitu juga dengan Andreas.


Tapi sebelumnya, Tiara dan Aditya menyapa mereka lebih dulu dengan sopan.


"Maaf, apa terjadi sesuatu.?" Tanya Nisa. Meski sebenarnya tidak enak menanyakan hal itu, tapi melihat raut wajah mereka, tampaknya keadaan tidak baik-baik saja. Terlebih raut wajah Tiara dan Aditya yang menunjukkan kalau ada sesuatu yang terjadi.


Pak Heru kemudian menjelaskan kalau Tiara baru saja di larikan ke rumah sakit.


Anak perempuannya itu sempat ijin untuk pergi, tapi 2 jam kemudian di kabari oleh Elena kalau Tiara di bawa kerumah sakit lantaran tidak sadarkan diri di salah satu kafe.

__ADS_1


Nisa menatap Tiara, tapi Tiara malah menundukkan kepalanya. Raut wajahnya tampak sendu dan kacau.


"Tapi tidak ada masalah dengan kesehatan kamu kan Ara.?" Tanya Nisa. Dia ingin mendengar jawaban dari mulut Tiara langsung, meskipun Ayah Tiara sudah mengatakan kalau Tiara hhanya kelelahan dan akhirnya pingsan.


"Tidak Bu, saya baik-baik saja." Jawabannya cepat.


"Kamu memang baik-baik saja Tiara. Tapi ingat,,,"


Elena belum sempat menyelesaikan ucapannya namun sudah di potong oleh Aditya.


"Jangan khawatir, Tiata ingat kalau dokter menyuruhnya untuk istirahat begitu sampai di rumah." Potong Aditya dengan dengan raut wajah datar namun suaranya penuh ketegasan.


Laki-laki itu kemudian melirik Tiara yang duduk di sampingnya.


"Sebaiknya kamu istirahat,," Ujarnya.


Tiara langsung menatap Aditya dengan tatapan sendu.


"Nak Adit benar. Sudah sana istirahat dulu. Bu Nisa dan Pak Andreas biar Ayah dan Aditya saja yang menemani.


"Elena, tolong antar Tiara ke kamar." Pinta Pak Heru.


"Maaf, tapi aku harus kembali ke kantor." Elena menolak dan langsung beranjak dari duduknya. Dia pamit pada semua orang dan keluar begitu saja.


"El,, kamu mau kemana.?" Teriak Amira yang baru saja datang setelah membuatkan minum untuk Nisa dan Andreas.


Elena yang sudah berada di luar, hanya menoleh tanpa mengatakan apapun.


"Elena harus kembali ke kantor." Ujar Heru.


"Sudah Ara, kamu istirahat saja kalau memang dokter menyuruh kamu untuk istirahat."


"Biar besok malam kondisi kamu lebih fit." Ucap Nisa penuh perhatian. Meski dia ingin berbicara pada Tiara dan memeberikan sesuatu pada Tiara, tapi dia memikirkan kondisi Tiara yang butuh istirahat.


"Baik Bu. Maaf jadi tidak bisa menemani Bu Nisa disini." Lirih Tiara seraya berdiri dari duduknya.


"Tidak masalah, santai saja." Jawab Nisa.


Tiara kemudian pamit. Dia sempat melempar senyum pada Kenzie dan melambaikan tangan pada balita yang sejak bayi dia asuh itu.

__ADS_1


__ADS_2