Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 92


__ADS_3

"Keluar Devan.!!" Bentak Nisa seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah pintu. Dia mengusir Devan setelah rekaman suara itu selesai di putar.


"Andreas mau mencampakkan ku atau tidak, itu bukan urusan kamu.!" Tegasnya.


Bohong kalau Nisa baik-baik saja setelah mendengarkan percakapan Andreas dan Devan yang di rekam melalui ponsel. Sedangkan setiap kata yang keluar dari mulut Andreas sangat menyakiti hatinya.


Kecewa dan marah sudah pasti, Nisa tak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut Andreas. Laki-laki yang selama ini begitu lembut dan baik di hadapannya, ternyata menyembunyikan sikap yang berbanding terbalik di belakangnya.


"Jadi kamu memilih pasrah dengan perlakuan keji Andreas padamu.?!" Nada bicara Devan meninggi. Dia tak bermaksud mencampuri kehidupan pribadi Nisa lebih jauh, tapi hati kecilnya tak bisa melihat Nisa diperlakukan buruk oleh Andreas.


Berulang kali Andreas mengucapkan kata-kata yang sangat merendahkan harga diri Nisa.


"Ini bukan kali pertama aku mendapatkan perlakuan yang menyakitkan, jadi kamu tidak perlu mencemaskanku." Nisa menekankan kalimatnya. Dia menatap tajam pada Devan.


Luka lama yang hampir tertutup, kini menganga lagi.


Nyatanya memang Nisa pernah di campakkan, terlepas bagaimana dulu Devan meninggalkannya tanpa kabar. Jadi apa bedanya dengan rencana Andreas yang akan mencampakkannya.


Devan menarik nafas dalam. Sesak di dadanya sulit untuk dia ungkapkan.


Nisa mungkin tidak bisa melihat bagaimana penyesalan yang Devan rasakan sampai detik ini karna telah meninggalkan wanita sebaik Nisa.


“Seperti ucapan terakhirku pada Andreas dalam rekaman ini, aku sudah merasakannya sendiri." Devan menunduk lesu. Dia selalu menyalahkan diri sendiri dan menganggap dirinya bodoh tanpa bisa berbuat apapun.


"Aku selalu di hantui penyesalan karna telah menyakiti seorang wanita sebaik dirimu."


Buliran bening keluar dari pelupuk matanya. Sejujurnya dia sangat rapuh. Rapuh setiap kali mengingat kembali bagaimana Nisa harus terluka karnanya.


“Kamu boleh pergi sekarang.! Aku tidak mau bicara apapun lagi denganmu." Nisa berbaring menyamping. Dia membelakangi Devan yang masih terduduk lesu di samping ranjang.


Devan berjalan lesu saat keluar dari ruangan Nisa.


Seandainya hari itu tiba, dimana Andreas benar-benar akan mencampakkan Nisa dan mengambil anak mereka, maka dia yang akan merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Nisa.


"Sayang,, kenapa baru datang.? Papa mencari kamu sejak tadi,,"


Devan menghentikan langkah begitu mendengar suara Irene dari arah belakang.

__ADS_1


Irene menghampiri Devan, berdiri di samping suaminya yang terlihat sangat sedih.


Irene bisa memahami bagaimana perasaan Devan. Keadaan Papa Chandra yang harus menjalani operasi, sudah pasti sangat menguras pikiran Devan.


"Aku ada sedikit urusan tadi." Devan mengukir senyum yang di paksakan. Dia ingin terlihat baik-baik saja di depan Irene.


...*****...


Hampir menjelang malam Nisa baru di perbolehkan pulang. Itupun karna desakan dari Nisa yang memaksa untuk meninggalkan rumah sakit dengan alasan tak mau berlama-lama karna terkendala biaya.


Hanya alasan itu yang bisa Nisa gunakan agar dia di perbolehkan pulang.


Saat ini Nisa dalam perjalanan pulang ke apartemen. Dia membuang pandangan ke luar jendela dengan tatapan mata yang menerawang.


Buliran bening semakin mengucur dari sudut matanya. Rasanya tidak mau percaya dengan semua perkataan Andreas, mengingat bagaimana sikap Andreas padanya selama ini yang tak pernah mengecewakannya sekalipun sejak menikah.


Tapi rekaman suara itu asli. Tidak mungkin hasil rekayasa Devan karna jelas-jelas suara Andreas.


Sampai di apartemen, Nisa bergegas masuk ke dalam kamar. Dia menarik koper kecil dari dalam lemari. Wanita yang tengah hamil itu memasukkan data-data penting miliknya dan beberapa baju ke dalam koper, kemudian menyimpan kembali koper itu ke dalam lemari.


Sementara itu, Nisa menyimpan hasil laporan kehamilan di salah satu laci yang terletak di sisi tempat tidur.


Nisa tampak lesu, tak ada semangat sama sekali dari sorot matanya.


Jika semua istri akan bahagia saat mengetahui kehamilannya, perasaan yang berbeda justru di alami oleh Nisa.


Dia hanya di beri kesempatan sesaat untuk merasakan bahagia sebelum akhirnya mengetahui kenyataan menyakitkan.


“Apa yang harus Mama lakukan sayang,,," Nisa mengusap lembut perutnya yang masih rata.


Bergulat dengan pikirannya sendiri hanya membuat Nisa terlihat semakin rapuh dan tak berdaya.


...*****...


"Tuan,, sudah sampai,," Supir pribadi Andreas dengan hati-hati menggoyangkan lengan majikannya itu.


Sepanjang perjalanan kembali ke Jakarta, Andreas memang tertidur lelap. Laki-laki berperawakan gagah itu tampak kelelahan.

__ADS_1


"Hemm,," Andreas sempat menggeliat sebelum benar-benar membuka mata.


Dia mengambil tas miliknya dari bergegas turun dari mobil.


"Terimakasih, Bapak boleh pulang. Besok tidak perlu ke kantor." Ujar Andreas.


Karna pulang sudah terlalu larut, Andreas juga tidak tega menyuruh supirnya untuk bekerja besok.


"Baik Tuan. Kalau begitu saya pamit pulang." Supir itu masuk kembali ke dalam mobil dan meninggalkan apartemen.


Andreas sempat melirik arloji di tangannya yang menunjukkan pukul 1 dini hari.


Dia buru-buru naik ke apartemennya.


Seharian tidak melihat Nisa rupanya cukup mengganggu konsentrasinya.


Andreas mengukir senyum tipis. Di tatapannya wajah cantik Nisa yang tengah terlelap.


Dia berdiri di samping ranjang, tepat di depan Nisa.


"Maaf,,," Lirih Andreas dengan suara berat.


Andreas terlihat ingin menyentuh wajah Nisa dengan jemarinya, tapi terlihat ragu untuk melakukannya.


Cukup lama berdiri di depan Nisa, Andreas hanya diam saja sambil memandangi wajah cantik itu.


Sampai Andreas terlihat menarik nafas dalam sebelum akhirnya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Maaf.?? Untuk apa Andreas.?" Gumam Nisa lirih.


Suaranya bergetar. Dia jadi yakin kalau Andreas memang punya niat buruk padanya.


Kalau tidak, untuk apa Andreas harus meminta maaf padanya secara diam-diam.


Lagipula sejauh ini Andreas juga tidak melakukan kesalahan apapun padanya.


Ya, Nisa mendengar jelas saat Andreas mengungkapkan permintaan maaf padanya. Karna dia sudah terbangun sejak mendengar suara pintu kamar yang terbuka, namun memilih untuk pura-pura tidur.

__ADS_1


__ADS_2