
Di antara oleh Pak Dito, Nisa beserta Andreas dan juga Kenzie pergi ke hotel tempat pernikahan Tiara berlangsung.
Mereka sampai 1 jam sebelum acara di mulai. Masuk ke ruang makeup pengantin untuk melihat Tiara serta menyapa keluarga Tiara dan keluarga Aditya yang sudah tiba di Batam kemarin.
Andreas menggendong Kenzie dan membiarkan Nisa berbaur dengan semua orang di ruang make up. Dia mengukir senyum tipis melihat Nisa yang sudah full senyum sejak masih di rumah. Rasanya lega karna kemarahan Nisa tidak berlanjut lagi.
Entah sudah lupa dengan pesan itu, atau mungkin sadar kalau itu hanya sekedar pesan dari seorang teman yang tak memiliki hubungan apapun.
"Wah,, pengantinnya cantik sekali." Puji Nisa begitu melihat Tiara yang masih di rias oleh MUA ternama di kota Batam.
"Makasih banyak Bu,," Tiara tampak mengukir senyum pada Nisa lewat pantulan cermin lantaran tidak bisa menatap Nisa secara langsung.
"Semoga pernikahannya lancar Ara. Dan kalian selalu di limpahi kebahagiaan setelahnya,," Ucap Nisa penuh ketulusan dan haru.
Tiara mengaminkan dengan penuh harapan besar. Meski dia sadar bahwa cinta belum sepenuhnya hadir di antara dia dan Aditya, namun dia akan menjalani pernikahan ini dengan sepenuh hati dan menjadikannya pernikahan yang pertama untuk terakhir kalinya. Jadi Tiara berharap kehidupan pernikahannya dengan Aditya akan selalu bahagia hingga maut memisahkan.
Setelah mengucapkan selamat pada Tiara, Nisa langsung menyodorkan hadiah yang kemarin sempat tertunda untuk di berikan pada Tiara.
Sebuah kalung dengan liontin berlian yang di ukir inisial A dan T di belakangnya.
Hadiah itu sempat di tolak oleh Tiara karna menurutnya terlalu mewah, namun Nisa memaksa Tiara untuk menerimanya sebagai kado pernikahannya.
"Terimakasih banyak Bu,, ini sangat indah,," Ucap Tiara haru.
"Aku yang harusnya berterimakasih karna selama ini kamu sudah membantu dan mau merawat Kenzie."
"Hiduplah bahagia dengan Aditya dan anak-anak kalian kelak. Jangan sungkan untuk meminta bantuan ataupun bercerita padaku jika suatu saat ada kesulitan." Ucap Nisa seraya menggenggam tangan Tiara. Dia sudah menganggap Tiara seperti adiknya, jadi kapanpun Tiara membutuhkannya, dia akan selalu ada untuk membantu.
...****...
"Apa Devan akan datang.?" Bisik Andreas.
__ADS_1
"Saya kurang tau Tuan. Tapi yang pasti undangannya sudah sampai." Jawab Aditya.
Andreas hanya menganggukkan kepala. Dia tau kalau Aditya mengundang Devan, karna asisten pribadinya itu meminta ijin padanya lebih dulu saat akan mengundang Devan.
Bagaimanapun, dulu hubungan Aditya dan Devan cukup baik sebagai atasan dan bawahan dari keluarga Chandratama.
Bukan tanpa alasan Andreas terlihat berharap Devan akan menghadiri pernikahan Aditya. Pria itu ingin menunjukkan pada Devan jika saat ini Nisa telah kembali dalam dekapannya dan menjadi keluarga kecil yang bahagia.
Dia ingin membuat Devan berhenti mengharapkan Nisa.
"Zie mau sama Momi,," Rengek Kenzie seraya menunjuk ke arah Nisa yang tengah mengobrol dengan keluarga Tiara dan Aditya.
"Oke sayang, kita ke Momi sekarang." Andreas pamit pada Aditya, menepuk pelan bahunya kemudian menghampiri istrinya yang tampak tersenyum bahagia di hadapan banyak orang.
...****...
1 jam berlalu, kini suasana ballroom mulai ramai. Tiara dan Aditya juga sudah duduk di pelaminan setelah sah menjadi suami istri beberapa menit yang lalu.
Sepertinya mereka mulai menyadari ada cinta yang besar di hati mereka setelah melalui proses pernikahan yang sakral itu.
"Masih memikirkan Elena.?" Aditya berbisik dengan suara maskulinnya.
Tiara menggelengkan kepala. Dia tidak lagi mempersalahkan soal Elena yang pergi di hari pentingnya, karna tau kalau Elena memang sengaja menghindar agar tidak menghadiri acara pernikahannya.
"Kapan kita akan pindah ke Amerika.?" Tanya Tiara lirih. Hal ini yang membuat Tiara tampak melamun sendu di hari pernikahannya. Tiba-tiba teringat kalau dia harus ikut ke Amerika setelah menikah dengan Aditya. Seketika Tiara merasa bimbang. Sulit baginya untuk meninggalkan kedua orang tuanya.
"Satu minggu dari sekarang." Jawaban Aditya cukup membuat Tiara sedikit tenang. Setidaknya dia masih punya waktu 1 minggu untuk berkumpul dengan keluarganya.
"Jangan khawatir, kita bisa sering mengunjungi mereka." Aditya menggenggam tangan Tiara seraya menatap teduh. Dia mencoba memberikan ketenangan pada wanita yang baru saja menjadi istrinya itu.
...*****...
__ADS_1
"Kamu cari siapa.?" Tegur Nisa ketus. Sejak tadi dia diam saja melihat Andreas yang mengedarkan pandangan kemana-mana seolah sedang mencari seseorang. Itu membuat Nisa teringat dengan wanita yang telah mengirimkan pesan pada Andreas. Dan dia berfikir kalau Andreas sedang mencari keberadaan wanita itu.
"Mencari seseorang yang sudah lama tidak aku lihat." Andreas menjawab santai. Pria itu bahkan menoleh dan mengukir senyum tipis pada Nisa. Kemudian kembali fokus mengedarkan pandangan.
"Akhirnya dia datang juga." Ucapnya sembari mempertajam pandangan ke arah pintu masuk.
Namun Andreas tampak bingung melihat seseorang itu datang bersama wanita.
"Maksud kamu siapa.? Jangan bilang wanita yang tadi siang mengirimkan pesan padamu.!" Gerutu Nisa jengkel. Tapi bukannya menjawab, Andreas malah menggandeng tangan Nisa dan meminta Nisa untuk beranjak dari duduknya.
"Kita harus menyambut tamu spesial,," Ucap Andreas. Begitu Nisa berdiri, Andreas mengambil Kenzie dari gendongan asisten rumah tangga Nisa yang mereka ajak untuk ikut menjaga Kenzie.
"Tamu yang mana.?" Tanya Nisa bingung. Dia mengikuti kemana Andreas melangkah lantaran tangannya di gandeng olehnya.
Setelah beberapa langkah, Nisa dibuat terperanjat melihat sosok pria yang tak jauh dari sana.
"Devan,,?" Lirih Nisa penuh kecemasan. Dia lantas melirik Andreas, ingin memastikan tidak ada amarah di wajah suaminya itu pada Devan. Nisa takut pertemuan dua saudara itu akan membuat kegaduhan di acara pernikahan Tiara, mengingat Andreas dan Devan sepertinya masih menyimpan dendam dan kebencian satu sama lain setelah peristiwa beberapa tahun silam.
"Dia yang aku maksud." Kata Andreas dengan senyum smirk ke arah Devan yang saat itu tengah menatap ke arahnya.
Sorot mata Devan tampak tajam melihat Andreas menggandeng tangan Nisa dan menggendong putra mereka. Pemandangan itu cukup membuat Devan menatap tak suka lantaran Andreas dan Nisa kembali bersama.
"Akhirnya kita dipertemukan lagi. Bagaimana kabarmu Devan.?" Tanya Andreas basa-basi. Padahal selama ini dia tau semua tentang kehidupan Devan paska dia menghancurkan perusahaan keluarga mereka.
Devan terlihat malas menanggapi ucapan Andreas. Apalagi dia menyadari kalau Andreas sengaja menghampirinya untuk memamerkan kebersamaannya dengan Nisa.
"Apa dia istrimu.?" Andreas kembali mengajukan pertanyaan sembari melirik wanita yang hanya diam berdiri di samping Devan.
"Aku harap dia memang istrimu." Ujarnya. Dengan begitu Devan tak akan mendekati atupun mengusik kebahagiaannya bersama Nisa.
"Ndre,, aku mohon jangan buat keributan,," Bisik Nisa sepelan mungkin. Dia sudah cemas sejak tadi, takut Andreas tidak bisa mengontrol emosinya.
__ADS_1