Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 106


__ADS_3

"Kamu yakin tidak mau aku antar.?" Sudah ketiga kalinya Brian menawarkan tumpangan pada Nisa. Namun wanita cantik itu bersikeras untuk menunggu supir pribadinya datang menjemputnya.


1 jam yang lalu si supir pamit pergi ke bengkel lantaran mobil milik Nisa perlu sedikit di service.


"Terimakasih Brian. Pak Dito sedang menuju ke sini, sebentar lagi mungkin sampai."


"Sudah kamu pulang duluan saja, bukankah kamu bilang ada rapat jam 2.?" Nisa menatap arloji di tangannya.


"30 menit lagi Bri, jangan sampai kamu terlambat." Dia mengingatkan Brian setelah melihat jam.


"Baiklah, aku duluan." Brian mengusap pucuk kepala Nisa. Gerakan lembut itu di sertai dengan seulas senyum tipis.


"Titip salam untuk Kenzie, aku akan berkunjung lagi kalau tidak sibuk."


Nisa mengangguk. Brian memang sering datang ke rumah untuk sekedar memastikan keadaannya dan Kenzie, serta mengajak putranya bermain.


Tidak ada larangan, Nisa memberikan kebebasan pada Brian untuk berkunjung ke rumahnya. Selama di rumahnya ada orang lain selain mereka bertiga.


Brian sudah cukup membantunya 1 tahun terakhir, jadi tidak ada salahnya dia berhubungan baik dengan Brian. Tapi meski begitu, Nisa selalu menegaskan pada Brian jika dia tidak bisa memberikan harapan apapun padanya.


Karna Nisa tidak mau Brian salah sangka dan akhirnya berharap banyak padanya.


"Hati-hati di jalan Bri,," Nisa melempar senyum.


Brian mengiyakan seraya mengangguk dan bergegas menuju ke mobilnya yang terparkir di depan restoran.


Saat mobil itu melaju, Nisa melambaikan tangan dengan senyum lebar.


Sementara itu pandangan laki-laki yang tengah memperhatikan dari dalam mobil tampak nanar.


Dia memperhatikan keduanya sejak mereka keluar dari restoran.


Melihat senyum yang merekah di bibir Nisa, hatinya terasa tercabik.


Dia menyesal pernah menghancurkan senyum itu. Senyum yang kini bisa terbit karna laki-laki lain.


Andreas hampir saja membuka pintu mobil untuk menghampiri Nisa, namun dia mengurungkan niat saat sebuah mobil berhenti di depan Nisa dan wanita itu bergegas masuk ke dalam mobil.


"Aditya cepat ikuti mobil itu.!" Titah Andreas yang tergesa-gesa. Dia takut kehilangan jejak Nisa.


Kesempatan ini tidak boleh dia sia-siakan agar bisa mengetahui tempat tinggal Nisa dan putra mereka.

__ADS_1


"Baik Tuan." Aditya buru-buru menyalakan mesin dan mengejar mobil yang sudah keluar dari area restoran.


"Jangan sampai kita kehilangan jejak.!" Ucap Andreas cemas.


Tiba-tiba sebuah ide mucul di kepalanya. Dia mengeluarkan ponselnya dan memotret plat mobil yang di tumpangi Nisa. Jadi seandainya mobil itu menghilang dan dia kehilangan jejak, maka plat mobil itu bisa dia gunakan untuk mencari tau siapa pemilik mobil itu.


Mobil yang di tumpangi Nisa memasuki gedung perkantoran. Gedung yang tidak terlalu besar dan hanya memiliki 4 lantai saja.


Aditya tetap melajukan mobilnya, ikut memasuki area gedung tersebut dan berhenti setelah mobil itu juga berhenti tepat di depan pintu utama gedung tersebut.


Nisa turun dari mobilnya, dia tidak menyadari kalau sejak tadi mobilnya di ikuti oleh Andreas.


Dia melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam gedung perkantoran yang sudah dia sewa sejak 2 tahun yang lalu.


"Anissa,,"


Suara lirih dan tercekat itu seketika menghentikan langkah Nisa. Jantungnya bergemuruh, dia sangat mengenali pemilik suara yang telah membuat harapan serta hatinya hancur berkeping-keping.


Dengan perasaan takut, Nisa memberanikan diri untuk berbalik badan.


Dia berharap suara itu bukan milik Andreas. Lagipula dia juga berfikir bahwa Andreas tidak akan datang ke Batam, apalagi sampai berada di sekitarnya saat ini.


Kedua manik mata Nisa membulat sempurna. Dia tidak percaya melihat sosok yang tengah berdiri di hadapannya.


"Apa yang kamu,,,


Nisa tak meneruskan ucapannya saat melihat Andreas tiba-tiba berlutut dengan kepala yang tertunduk.


"Maaf,," Suara Andreas tercekat dan penuh penyesalan. Sungguh penyesalan itu sudah ada sejak 3 tahun yang lalu, tepat saat dia memutuskan untuk meninggalkan Nisa.


Berperang dengan dendam dan penyesalan, membuat Andreas mengalami banyak tekakan selama 3 tahun terakhir.


"Aku tau kata maaf tidak akan bisa mengembalikan semua kebagian yang sudah aku hancurkan." Andreas menitikkan air mata.


Nyatanya hatinya juga terluka saat meninggalkan Nisa.


"Aku menyesalinya. Sangat,," Suara Andreas melemah. Dia tak berdaya berhadapan dengan Nisa. Tak ada keberanian karna sadar bahwa dia sudah menorehkan luka di hatinya.


"Apa yang perlu kamu sesali.?! Semua tujuanmu sudah tercapai, bukankah seharusnya kamu bahagia.!" Sekuat tenaga Nisa berusaha tegar. Dia tak mau terlihat lemah di depan Andreas.


Sorot matanya begitu tajam, menatap penuh amarah dan kekecewaan.

__ADS_1


Tidak ada luka yang lebih menyakitkan selain luka yang telah Andreas berikan padanya.


Sudah cukup 3 tahun dia menjadi wanita bodoh yang masih mengharapkan manusia keji seperti Andreas.


"Kebahagiaanku tidak sebanding dengan rasa sakit karna telah meninggalkanmu."


"Aku benar-benar menyesalinya." Andreas bersimpuh. Pundak kokohnya tampak bergetar. Nisa tau jika laki-laki itu sedang menangis. Tapi siapa yang peduli.?


Karna dulu Andreas juga tidak peduli saat dia menangis dan memohon agar laki-laki itu tidak pergi.


"Omong kosong macam apa.!" Nisa mengukir senyum mengejek.


"Aku rasa laki-laki pengecut sepertimu tidak mengenal penyesalan.!"


"Pergilah.! Aku tidak menginginkan kehadiranmu.!" Serunya penuh penekanan. Tak ada keraguan, Andreas memang tak di inginkan lagi olehnya. Dia sudah membuang jauh-jauh harapannya untuk bisa hidup bersama Andreas lagi.


“Aku akan pergi, tapi sebelumnya ijinkan aku untuk bertemu dengan putraku. Aku ingin memeluknya,," Nada bicara Andreas terdengar memohon. Dia sampai mendongakkan wajahnya untuk menatap Nisa.


Pernyataan Andreas sedikit membuat Nisa tercengang. Selain Andreas bisa menemukan keberadaannya, laki-laki itu juga sudah tau tentang kehadiran Kenzie.


"Apa aku tidak salah dengar.?" Nisa tersenyum sinis.


"Putramu.?! Putramu yang mana Andreas, hah.?!!" Nisa berteriak penuh amarah. Dia tidak terima Andreas mengakui Kenzie sebagai putranya.


Meski dulu di sangat berharap bisa mempertemukan Kenzie dengan Andreas, tapi kini dia tidak sudi Andreas mengakui Kenzie sebagai putranya.


"3 tahun Andreas.! Aku berjuang sendiri mengandung dan membesarkan putraku.!"


"Apa kamu tau berapa banyak air mata yang aku keluarkan dalam berjuang selama ini.?!"


"Kamu tidak tau sakitnya melahirkan tanpa ada seorang suami di sampingku.!"


"Jadi berhenti menyebutnya sebagai putramu. Dia hanya putraku.! Putraku.!!" Nisa berteriak semakin kencang, membuat beberapa karyawan dan security menghampiri mereka.


Sementara itu supir pribadi Nisa sudah di tahan sejak tadi oleh Aditya. Aditya menjelaskan tentang hubungan Nisa dan bosnya itu hingga menyuruh supir pribadi Nisa tidak ikut campur dengan perdebatan mereka berdua.


Andreas semakin dirundung rasa bersalah. Dia bisa mengerti kenapa Nisa bereaksi seperti ini padanya.


Nisa telah melewati banyak kesulitan seorang diri dalam menghadirkan putra mereka ke dunia.


"Pergilah.! Jangan pernah muncul di hadapanku lagi." Tegas Nisa.

__ADS_1


Dia memberikan isyarat pada security untuk mengusir Andreas.


Tanpa menoleh sedikitpun pada Andreas, Nisa bergegas masuk ke dalam kantor. Tak peduli meski Andreas terus memanggilnya dan berteriak minta maaf.


__ADS_2