
Berada di ruang keluarga, suasana di sana tampak biasa saja seolah tak ada permasalahan di antara Andreas dan Nisa. Belum lagi tingkah menggemaskan Kenzie yang mengundang gelak tawa Papi dan Mominya. Bahkan Aditya dan Tiara yang sejak tadi hanya diam saja, kini mulai bersuara dan ikut bergabung bermain dengan Kenzie.
"Astaga,, Kenzie ceria sekali, tidak seperti Papinya." Komentar Aditya tanpa sadar. Sikap Kenzie memang berbanding terbalik dengan Andreas. Walaupun wajahnya 80 persen mirip Andreas, namun sikapnya lebih seperti Nisa.
Bocah laki-laki tampan itu murah senyum, ceria dan aktif.
Andreas menatap tajam ke arah asisten pribadinya. Dia tidak terima lantaran Aditya berani mencibirnya.
"Apa maksudmu.?" Tegur Andreas ketus.
Aditya langsung tak bisa berkutik, dia diam seribu bahasa dan hanya tersenyum kikuk sembari bergeser untuk menjauh dari Andreas karna takut.
"Tidak, saya salah bicara." Sangkal Aditya. Setelah menjaga jarak aman dengan Andreas, dia baru berani bicara.
"Beraninya kamu,, awas saja nanti bonusmu bulan ini akan aku potong." Ujar Andreas kesal.
"Ya ampun Tuan,, tega sekali memotong bonusku yang tidak seberapa itu." Keluh Aditya. Bukanya merasa iba, Andreas terlihat semakin tidak terima dengan ucapan Aditya yang mengatakan jika bonusnya tidak seberapa. Padahal bonusnya bulan ini setara dengan 3 kali lipat gajinya. Dan jika di total dengan gajinya, Aditya akan mengantongi gaji dan bonus yang totalnya menyentuh angka 3 digit.
"Tidak seberapa kau bilang.?!" Geram Andreas namun masih bisa mengendalikan nada bicaranya agar tidak terdengar membentak di depan Kenzie.
"Apa perlu tanganmu saja yang aku potong.?!" Ancamnya. Meski hanya sekedar ancaman belakang, tapi tetap saja membuat Aditya bergidik ngeri.
"Andreas,, kamu itu bicara apa."
"Ada Kenzie disini, dia bisa menangkap ucapan burukmu itu." Teguran pelan Nisa seakan menjadi penyelamat bagi Aditya. Pria berusia 27 tahun itu tampak bernafas lega, apalagi ketika melihat raut wajah Andreas yang langsung berubah.
Dari raut wajah yang seperti singa mengamuk, berubah menjadi seperti seekor anak kucing yang gemas-gemas menyebalkan di mata Aditya.
"Maaf,, aku akan lebih berhati-hati lain kali." Ujar Andreas. Dia menyadari kesalahannya, terlebih melihat wajah Kenzie yang tampak bengong menatapnya. Seolah Kenzie sedang memikirkan apa yang baru saja dia katakan untuk mengancam Aditya.
"Sudah malam,, apa kamu tidak pulang.?" Nisa tidak bermaksud menyudahi kebersamaan Andreas dan Kenzie yang tampak sedang bahagia-bahagianya bermain bersama. Namun dia juga harus tetap menjaga batasan dengan Andreas. Rasanya tidak mungkin membiarkan Andreas masih tetap di rumahnya hingga semalam ini.
Apa yang akan pekerja rumahnya pikirkan jika dia membiarkan seorang laki-laki berlama-lama di rumahnya. Meski laki-laki itu adalah Papi kandung Kenzie.
__ADS_1
Walaupun Nisa menanyakan dengan hati-hati seolah tak mau menyinggung perasaan Andreas, tapi seketika raut wajah Andreas berubah. Laki-laki itu merasa bahwa Nisa sedang mengusirnya dan tidak memberikan dia waktu lebih lama lagi untuk berada di dekat putranya.
Perubahan di wajah Andreas sedikit membuat Nisa mengerti. Dia tau Andreas pasti sedih karna malam ini harus berpisah dengan Kenzie, walaupun dia masih bisa datang untuk bertemu lagi.
"Kamu bisa datang lagi besok. Aku tidak akan melarangmu asal kamu tau batasan waktu untuk pulang." Ujar Nisa lagi. Kali ini Andreas tampak mengerti. Dia sadar akan posisinya. Dan hubungan dia dan Nisa memang sedang berada di ujung tanduk.
Nisa bersikeras untuk tetap bercerai darinya. Bahkan saat Aditya datang, dia memberikan laporan yang di dapat dari pengacara dan kuasa hukum Andreas bahwa pengacara dan kuasa hukum dari pihak Nisa sudah memberikan bukti-bukti yang memberatkan Andreas. Dan kemungkinan gugatan perceraian itu akan di menangkan oleh Nisa.
3 tahun meninggalkan Nisa tanpa kabar, akan menjadi pertimbangan yang kuat bagi pengadilan untuk mengabulkan permohonan Nisa.
Belum lagi bukti rekaman percakapan Andreas yang di sertakan oleh Nisa untuk membuatnya memenangkan gugatan perceraian itu.
Kini tak ada yang bisa Andreas lakukan selain pasrah menunggu keputusan dari pengadilan. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menghentikan perceraian itu, kecuali Nisa berubah pikiran dan mau membatalkan gugatannya.
Menarik nafas dalam, Andreas mencoba untuk mengerti dan memahaminya situasi saat ini. Dia juga tak bisa memaksakan kehendak untuk tinggal bersama putranya meski hanya semalam saja.
"Zie sayang,, Papi pulang dulu ya,," Pamit Andreas dengan berat hati. Dia memangku Kenzie dan memeluknya erat.
"No.! Papi jangan pulang," Zie balas memeluk Andreas. Bocah itu memeluk erat, membenamkan wajahnya di dada bidang Andreas.
"Zie mau sama Papi, tidul sama Papi." Rengeknya dengan suara yang menahan tangis.
"Tapi Papi harus pulang sayang. Lain kali Papi akan tidur sama Zie, oke.??" Bujuk Andreas lembut. Zie tak menjawab, namun dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Zie,, tidak boleh seperti itu nak." Nisa terpaksa harus turun tangan membujuk putranya.
Dia ingin mengambil Kenzie dari pangkuan Andreas, namun Kenzie menolaknya.
"Biarkan Papi pulang dulu, besok Zie boleh tidur sama Papi." Nisa mengusap punggung putranya dengan lembut.
"Papi tidak boleh pulang." Ucap Zie bersamaan dengan tangisnya yang pecah. Terdengar pilu, membuat Nisa tampak pasrah dan terpaksa mengabulkan permintaan putranya.
"Zie mau tidur sama kamu. Bawa saja ke kamarnya." Lirih Nisa pada Andreas. Jelas sekali dia menahan sesuatu yang tak bisa dia ungkapan pada siapapun dan hanya bisa dia pendam sendiri.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis nak, Zie boleh tidur sama Papi." Kata Nisa seraya mengusap pucuk kepala Kenzie dan bergegas untuk beranjak.
"Terimakasih,," Ucap Andreas yang kini sedang menahan pergelangan tangan Nisa.
Tak ada jawaban, Nisa hanya mengangguk pelan dengan ekspresi datar kemudian pergi dari hadapan Andreas.
Andreas menatap kepergian Nisa yang masuk ke salah satu ruangan di dekat ruang bermain Kenzie. Dia tau Nisa sulit menerimanya, meski hanya sekedar untuk menemani Kenzie tidur malam ini.
"Kamu boleh pulang Ditya. Besok pagi-pagi bawakan baju ganti milikku." Perintah Andreas.
"Baik Tuan. Kalau begitu saya pulang dulu." Aditya beranjak dari duduknya.
Tak berselang lama, Tiara juga beranjak dan menyusul langkah Aditya.
"Biar aku antar ke depan, sekalian mengunci pintu." Ujar Tiara setelah mensejajarkan langkah di samping Aditya.
Sementara itu, Andreas juga beranjak dari ruang keluarga. Dia menggendong Kenzie yang tampak masih sesegukan dalam dekapannya.
"Jangan sedih, Papi tidak akan pulang sayang."
Andreas memberikan usapan penuh cinta di punggung Kenzie.
"Papi akan tidur di kamar Zie. Apa Zie senang.?" Tanyanya.
"Ii,,iya Paa ppi,," Jawab Zie tersenggal.
Zie kesulitan bicara karna baru saja menangis sampai sesegukan.
"Maafkan Papi sayang,," Lirih Andreas dengan rasa sakit yang menghujam hatinya.
Andai dulu tak egois mencampakkan Nisa, pasti Kenzie tak akan mengalami kepedihan seperti ini.
Merasakan sulitnya untuk sekedar tidur bersama dengan ayah kandungnya sendiri.
__ADS_1