Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 184


__ADS_3

"Aku mohon jangan pergi,,,!!!"


"Sayang,,, kamu kenapa.?" Seketika Andreas terjaga karna mendengar teriakan Nisa.


Di seutuhnya lembut wajah cantik Nisa yang tampak mengeluarkan cairan bening dari sudut matanya dalam keadaan tertidur.


Perlahan Nisa membuka matanya saat merasakan sentuhan di pipi. Buliran bening masih menetes. Nisa terlihat sangat kacau dan ketakutan, namun dia menatap lekat wajah Andreas dalam kebingungan. Setelah melihat Andreas terkapar tak berdaya di halaman rumah karna loncat dari balkon, kini dengan jelas dia bisa melihat pria itu baik-baik saja.


"Are you okey.? Kamu pasti mimpi buruk." Andreas mendekap Nisa, mengecup kening istrinya untuk memberikan ketenangan lantaran Nisa terlihat sangat ketakutan.


Tangis Nisa langsung pecah. Dia balas memeluk erat tubuh Andreas seolah tak mau melepaskannya. Meski masih merasa takut, tapi ada perasaan lega saat mengetahui semua itu hanya mimpi buruk.


Entah apa jadinya jika semua itu adalah kenyataan, mungkin dia tak akan sanggup lagi untuk berjuang sendiri bersama Kenzie dan twins tanpa ada Andreas disampingnya.


"Aku mohon jangan pergi lagi,," Ucap Nisa di sela isak tangisnya. Mimpi itu begitu nyata, bahkan ketakutan dan tangisnya terbawa di alam nyata.


Mimpi itu mengingatkan Nisa pada kematian kedua orang tuanya. Karna dia melihat langsung bagaimana mereka meregang nyawa. Sama halnya dalam mimpi tadi, dia benar-benar melihat Andreas tak bernyawa dengan darah mengalir deras dari kepalanya.


"Tidak akan, aku tidak akan pergi kemana-mana sayang,," Dalam keadaan bingung dan cemas, Andreas hanya bisa mendekap dan mengusap kepala Nisa. Entah apa yang baru saja terjadi dalam mimpi istrinya itu sampai air matanya ikut mentes dalam keadaan tertidur, lalu bangun dengan raut wajah ketakutan dan menangis histeris.


"Aku akan tetap di sini bersama kamu dan anak-anak. Kita akan merawat dan membesarkan mereka sampai menua bersama." Andreas kembali berucap untuk menenangkan Nisa.


Mimpi buruk Nisa tentang kehilangannya tak akan pernah terjadi, dia akan selalu bersama Nisa dan anak-anak, kecuali ajal yang memisahkan.


"Kamu harus berjanji padaku, jangan pernah berfikir untuk pergi apapun alasannya." Pinta Nisa seraya menatap memohon pada Andreas.


Mengingat mental illness yang di derita oleh Andreas, Nisa khawatir Andreas akan melakukan hal mengerikan yang baru saja muncul dalam mimpinya.


"Aku tidak punya alasan untuk meninggalkan kalian. Justru aku punya seribu alasan untuk tetap bersama kalian. Percayalah,, aku tidak akan meninggalkan kamu lagi. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu berjuang dan mengalami kesulitan seorang diri." Ucap Andreas meyakinkan.


Sudah cukup dia menabur luka di hati Nisa, kini sudah saatnya dia menghapus luka itu dengan beribu kebahagiaan hingga Nisa lupa bahwa dia pernah terluka.


...****...


2 hari berlalu,,,


Pagi itu setelah sarapan, Nisa dan Andreas bersiap untuk melakukan penerbangan ke Jakarta.


Meski Nisa sempat berkata tak akan menginjakkan kakinya lagi di kota tersebut, tapi demi mengantar Andreas bertemu Mama Zoya dan datang ke makam Papa Chandra, Nisa memberanikan diri untuk datang lagi ke kota itu.


Dia melakukan semua ini juga demi menyatukan keluarga yang sudah terpecah belah akibat kesalahan paham dan ulah Andreas.

__ADS_1


Nisa menaruh harapan besar dengan kedatangannya bersama Andreas untuk meminta maaf pada Mama Zoya. Dia ingin hubungan mereka kembali seperti dulu, layaknya seorang anak dan ibu. Meski Andreas tak terlahir dari rahim Mama Zoya.


"Andreas,, minum dulu obatnya." Nisa menghampiri suaminya yang tengah memakaikan jaket pada Kenzie. Dia menyodorkan 2 buah pil dan air minum padanya.


"Makasih sayang,," Andreas langsung menelan 2 pil itu sekaligus. Meski dia merasa kalau kondisinya sudah jauh lebih baik, tapi dia masih membutuhkan obat itu agar bisa pulih. Walaupun tidak akan kembali seperti dulu, tapi setidaknya tak akan semakin parah.


"Ayo, Pak Dito sudah menunggu di mobil." Ajak Nisa yang kemudian menggendong Kenzie. Tapi baru saja menggendongnya, Andreas langsung meminta Nisa untuk memberikan Kenzie padanya.


"Biar aku saja yang gendong Zie. Aku takut terjadi sesuatu pada twis kalau kamu menggendong Zie." Ucap Andreas penuh perhatian dan bercampur cemas.


Nisa menurut, dia membiarkan Andreas yang menggendong Kenzie. Suaminya itu memang over protektif sejak tau ada twins didalam rahimnya. Dia jadi di larangan melakukan segala aktifitas yang menguras tenaga.


...*****...


Beberapa jam melakukan perjalanan udara dan di lanjut perjalanan darat dari bandara menuju kediaman Devan dan Mama Zoya, akhirnya mereka sampai di rumah yang tak sebesar rumah utama Papa Chandra dulu. Namun kesan mewah begitu terasa saat memasuki halaman yang luas itu.


Tidak sulit bagi Andreas dan Nisa untuk masuk ke rumah Devan, karna mereka sudah membuat janji dengan Devan kalau mereka akan datang.


Di antar oleh pekerja rumah, mereka di persilahkan untuk masuk dan menunggu di ruang tamu.


Sebuah figura foto keluarga jaman dulu terpajang di salah satu sudut ruang tamu. Foto Mama Zoya, Papa Chandra dan Devan saat wisuda.


Andreas mengukir senyum. Harusnya keluarga kecil itu bahagia tanpa ada dirinya di dunia ini.


"Kita di mana Momi.?" Tanya Kenzie yang tengah duduk di pangkuan Nisa.


"Dirumah Oma." Jawab Nisa seraya tersenyum. Ada kebahagiaan tersendiri saat akan mengenalkan Kenzie pada Oma nya.


"Om siapa.?" Dengan polosnya Kenzie kembali bertanya. Bocah itu salah tanggap karna memang sejak lahir tak pernah mengenal sosok Oma ataupun Opa.


"Bukan Om, tapi Oma sayang,," Terang Nisa lembut.


Bersamaan dengan itu, Mama Zoya dan Devan berjalan menghampiri mereka. Sontak Andreas serta Nisa langsung berdiri dan menunduk sopan.


Mama Zoya terpaku di tempat, matanya berkaca-kaca melihat Andreas dan Nisa datang bersama putra mereka. Tak bisa di pungkiri, ada amarah yang memuncah saat melihat Andreas. Karna pria yang sudah dia anggap sebagai anaknya itu telah menyebabkan kekacauan dan kehancuran dalam keluarganya. Tapi bagaimanapun, hati kecilnya masih menyayangi Andreas. Terlebih sejak remaja Andreas sudah hidup bersamanya.


Andreas berjalan mendekat, tanpa ragu dia berlutut di hadapan Mama Zoya dengan kepala tertunduk.


Sebelum Andreas berlutut, Nisa lebih dulu mengharapkan Kenzie ke arah lain agar tidak melihat apa yang sedang di lakukan oleh Papinya.


"Maafkan aku Mah,," Ucap Andreas dengan suara tercekat. Buliran bening lolos dari pelupuk matanya.

__ADS_1


"Aku tidak tau diri, aku membalas kebaikan Mama dengan menghancurkan keluarga kita dan membuat Papa meninggal." Andreas menyentuh kaki Mama Zoya.


"Aku sadar orang sepertiku tak pantas mendapatkan maaf. Aku siap mempertanggung jawabkan perbuatanku jika itu bisa membuat kalian memaafkanku." Ucapnya penuh penyesalan.


Seandainya waktu bisa di putar kembali, dia ingin kembali pada 3 tahun yang lalu.


"Bangun nak,," Mama Zoya menarik tangan Andreas untuk membantunya berdiri.


"Semuanya sudah terjadi, tidak ada yang bisa merubah apapun meski kamu mempertanggung jawabkan perbuatanmu."


"Mama sudah mengikhlaskan apa yang terjadi dan yang sudah pergi." Tuturnya dengan berlinang air mata.


Andreas sontak memeluk Mama Zoya. Dia terisak dan berulang kali meminta maaf.


Suana haru menyelimuti. Nisa bahkan sudah menangis sejak tadi. Begitu juga dengan Devan yang terlihat menahan air matanya.


"Kita lupakan yang sudah lalu, mari kembali seperti dulu dengan menjadi keluarga yang lebih baik lagi dan saling mengasihi satu sama lain." Ucapan Mama Zoya membuat Andreas terharu dan berterimakasih karna bersedia memaafkannya.


Pada akhrinya mereka semua berdamai dengan keadaan. Baik Mama Zoya dan Devan, keduanya berlapang dada untuk memaafkan Andreas yang kini terlihat sudah berubah dan mau mengakui serta meminta maaf atas perbuatannya.


Nisa menghampiri mereka dan ikut memeluk Mama Zoya serta meminta maaf padanya.


"Ini cucu Oma kan.? Siapa namanya" Tanya Mama Zoya begitu melepaskan pelukannya.


Dia langsung menunduk untuk menggendong Kenzie.


Suasana haru dan bahagia menyelimuti. Mereka semua sudah kembali seperti dulu bahkan jauh lebih dekat dari sebelumnya.


"Aku ikut bahagia karna Mama mau memaafkan dan menerima kamu lagi." Ucap Nisa.


Andreas sontak memeluk Nisa. Semua ini berkat Nisa, dia bisa merasakan kebahagiaan lagi dan ketenangan dalam hidupnya setelah 3 tahun hidup dalam penyesalan tanpa bisa tidur dengan tenang.


...*****...


...TAMAT...


Tadinya pengen tambah beberapa bab lagi, tapi keburu males karna gaduh. 🤣


jadi gak mood nulisnya.


Terimakasih banyak sudah setia baca kisah Andreas dan Nisa sampai akhir. Semoga menghibur.

__ADS_1


ingat yah, INI HANYA HIBURAN. Jangan di bawa serius bacanya, apa lagi sampai emosi.


Namanya juga ngarang, suka-suka yang buat.


__ADS_2