Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 24


__ADS_3

"Mau kemana.? Kenapa serapi dan secantik ini.?" Tanya Andreas sembari menahan senyum. Memperhatikan Nisa yang berdandan rapi dengan rambut curly dan riasan tipis di wajahnya.


Mendapat pertanyaan seperti itu, kepercayaan diri Nisa langsung menciut. Dia bingung sendiri karna Andreas menatapnya heran hanya karena berdandan rapi. Harusnya Andreas senang jika Nisa berdandan cantik karna akan bertemu dengan Mama kandungnya.


"Aku harus tampil rapi dan cantik kan di depan calon Mama mertua.?" Ujar Nisa.


"Takut kejadian waktu itu terulang lagi, Papa kamu sampai melihatku dari ujung kaki sampai kepala." Nisa memasang wajah sendu. Ingat bagaimana tatapan Tuan Chandra yang seolah mengatakan penampilannya tak masuk dalam circle keluarganya.


Andreas tersenyum teduh, merangkul pundak Nisa dan memberikan usapan di sana.


"Jangan khawatir, Mama tak akan memberikan komentar apapun pada mu. Dia tak seperti Papa," Jawab Andreas meyakinkan Nisa.


Keduanya lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman kontrakan Nisa untuk pergi bertemu dengan Mama Andreas yang entah saat ini tinggal di mana. Nisa bahkan belum sempat menanyakan hal itu.


"Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau Mama Zoya bukan Mama kandung kamu."


"Mama kamu pasti akan marah karna aku baru akan menemuinya sekarang. Sedangkan pernikahan kita 2 hari lagi."


Sejak semalam Nisa terus bertanya-tanya sendiri tentang hal itu. Sepertinya memang sejak awal Andreas tak punya niatan untuk mengenalkan Mama kandungnya. Terbukti saat Andreas mengajak Nisa bertemu dengan Nyonya Zoya, Andreas tidak bilang kalau Nyonya Zoya hanya ibu tirinya.


"Santai saja, nggak usah cemas."


"Sekalipun kamu tak menemuinya, dia nggak akan marah." Sahut Andreas. Laki-laki itu hanya mengukir senyum tipis.


20 menit berlalu, Nisa dibuat kebingungan saat Andreas membelokkan mobilnya ke sebuah rumah sakit.

__ADS_1


"Ndre,, kenapa kita kesini.?" Nisa menatap khawatir.


Bagaimana mungkin dia tidak khawatir karna Andreas membawanya ke rumah sakit jiwa.


Sekalipun Nisa sangat benci pada Andreas, tapi dia juga tak akan tega kalau menerima kenyataan bahwa Mama kandung Andreas mengalami gangguan jiwa.


"Lalu harus kemana.?" Andreas balik bertanya dengan gaya santai dan seulas senyum.


"Tempat tinggal Mama memang disini sejak 15 tahun yang lalu." Tuturnya.


Nisa tak bisa berkata apapun. Dia hanya bengong menatap Andreas dengan tatapan iba. Yang ada di pikiran Nisa saat ini adalah tentang bagaimana perasaan Andreas menjalani hari-harinya dengan harus menerima kenyataan bahwa wanita yang telah melahirkannya mengalami gangguan jiwa selama belasan tahun.


"Jangan menatapku seperti itu, aku tak suka dikasihani." Ujar Andreas tegas.


...***...


Langkah Nisa terhenti kalau melihat wanita paruh baya dengan rambut panjang yang tengah duduk di sisi ranjang. Dengan kepala tertunduk, wanita itu memainkan rambut panjangnya yang lurus dan rapi. Begitu juga dengan bajunya yang terlihat bagus, tak seperti kebanyakan pasien di rumah sakit jiwa ini.


Mama Andreas terlihat sangat terawat, bahkan Nisa tak merasa penampilan Mama kandung Andreas seperti orang yang sakit mentalnya.


"Mah,,," Panggil Andreas. Laki-laki itu memang berjalan mendekat, tak seperti Nisa yang ragu untuk melihat dari jarak dekat karna takut tak bisa menahan air matanya. Jika sudah menyangkut tentang orang tua, hatinya sudah pasti akan tercabik-cabik. Apalagi Nisa sudah tak memiliki orang tua.


Wanita paruh baya itu menoleh. Wajah sendunya perlahan pudar seiring dengan senyum tipis yang mengembang di bibirnya.


Sangat cantik, Nisa bisa melihat betapa cantiknya Mama kandung Andreas di usianya yang tak lagi muda.

__ADS_1


"Chandra,, aku minta maaf,," Mama Andreas tiba-tiba histeris. Berlari menghampiri Andreas dan memeluknya erat.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menjebakmu."


"Kamu tau aku sangat mencintai kamu, tapi kenapa kamu menikah dengan Zoya,,," Tangisnya semakin pecah. Andreas yang awalannya diam saja, kini membalas pelukan sang Mama dan mengusap punggungnya.


"Tolong jangan ceraikan aku, jangan tinggalkan aku,," Racaunya lagi.


Nafas Nisa tercekat. Matanya berkaca-kaca mendengar semua penuturan Mama kandung Andreas. Nisa bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi antara Nyonya Zoya, Tuan Chandra dan Mama kandung Andreas.


Mama kandung Andreas sepertinya sangat mencintai Tuan Chandra, tapi sayangnya Tuan Chandra lebih dulu menikah dengan Nyonya Zoya.


Nisa memang tidak bisa menyimpulkan secara pasti, apalagi perkataan Mama kandung Andreas soal penjebakan. Entah penjebakan seperti apa yang sudah dia lakukan pada Tuan Chandra sampai terlihat begitu menyesalinya.


"Kemari,,," Ucap Andreas pada Nisa sembari menggerakkan tangannya, memberikan isyarat pada Nisa untuk mendekat.


Nisa melangkah dengan keraguan. Antara tidak kuat menahan kesedihan dan takut. Dia lalu berdiri di samping Andreas dan tak berani berbicara apapun. Hanya memperhatikan Mama Andreas yang sedang menangis terisak dalam pelukan putranya itu.


"Kamu sudah melihatnya. Itu sebabnya aku tak mengatakan apapun tentangnya. Sekalipun aku membawamu menemuinya, dia tak akan mengerti. Bahkan dia lupa dengan putranya sendiri dan selalu menganggap ku sebagai Papa." Terang Andreas. Gaya bicaranya santai dan tentang. Mungkin karna Andreas sudah biasa menghadapi situasi seperti ini selama belasan tahun.


Nisa mengangguk paham. Dia mengalihkan pandangan ke arah lain karna tak sanggup menahan air matanya lagi. Dan saat itu juga air matanya tumpah.


Dia tak bisa membayangkan berada di posisi Andreas. Terlahir dari rahim seorang wanita yang tak di cintai oleh ayah kandungnya. Belum lagi harus menjalani hidup dengan kondisi Mama kandungnya yang tak mengenalinya lagi.


Pikiran Nisa seketika kalut. Mulai goyah untuk melanjutkan balas dendamnya terhadap Andreas.

__ADS_1


Penderitaan Andreas cukup berat, lalu apa jadinya jika dia menambah penderitaan yang lebih pada laki-laki itu.


__ADS_2