
Di tengah hati yang terasa begitu menusuk, Nisa berusaha untuk tetap tenang meski segala pikiran berkecambuk di hati. Membuatnya begitu kacau dan hancur.
Bagaimana tidak, seseorang yang sangat dia kenal itu adalah Devan. Laki-laki yang sudah 2 tahun menghilang tanpa kabar, dan kini Nisa harus menerima kenyataan pahit bahwa laki-laki yang selama ini masih dia harapkan untuk kembali, ternyata sudah menikah dengan wanita lain. Bahkan Nisa tau jika wanita itu sedang mengandung. Karna dia sempat bertemu dengannya beberapa minggu yang lalu di sebuah pusat perbelanjaan.
"Selamat malam,," Sapa Nisa. Dia tidak bisa menyembunyikan kegugupan dan rasa sakit yang menusuk, hingga membuat suaranya terdengar bergetar.
Sama halnya dengan Nisa, Devan juga terkejut saat melihat wanita yang datang bersama saudara tirinya itu adalah wanita di masa lalu yang sempat dia janjikan untuk di ia nikahi.
Pandangan mata Devan tak lepas dari wajah cantik Nisa, wajah yang sudah lama tidak bisa dia lihat dari jarak dekat seperti sekarang. Meskipun beberapa bulan yang lalu dia masih bisa melihat Nisa dari kejauhan, sebelum wanita itu meninggalkan kampung halamannya dan Devan kehilangan jejak.
Melihat Devan yang terus menatap ke arahnya, Nisa segera mengalihkan pandangan. Bagaimana mungkin dia sanggup menatap laki-laki yang sangat dia cintai, disaat laki-laki itu telah bersama wanita lain.
Berulang kali Nisa menarik nafas dalam. Berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Sayang,, ayo duduk,," Suara lembut Andreas membuyarkan segala pikiran buruk Nisa tentang Devan. Apa lagi saat tangan besar Andreas merangkul mesra pinggangnya dan mengajaknya bergabung dengan mereka.
"Ini calon istri Andreas, namanya Anisa." Ucap Nyonya Zoya, memperkenalkan Nisa pada Devan dan menantunya.
"Nisa, kenalkan ini Devan dan Irene." Katanya sembari menunjuk Devan.
"Devan ini Kakaknya Andreas, dan itu istrinya,,"
Nisa terpaksa menatap ke arah mereka, dia berdiri dan mengulurkan tangan pada Irene.
"Nisa,," Ujarnya.
"Irene, senang bertemu denganmu." Ucap Irene. Nisa hanya mengukir senyum tipis.
"Sepertinya kamu tidak asing, apa kita pernah bertemu.?" Tanyanya.
__ADS_1
"Iya, kita pernah bertemu di pusat perbelanjaan dan restoran." Jawab Nisa cepat.
"Apa kabar.? Bagaimana dengan kehamilannya Kak.?" Nisa menekankan ucapannya. Mengukir senyum lebar dan itu membuat Devan diam tertegun dengan tatapan mata yang sulit di artikan.
"Aku baik, baby kami juga sehat," Jawab Irene. Raut wajahnya terlihat sangat bahagia menyebutkan tentang anak yang ada di dalam perutnya, bahkan sampai mengusap perut dengan lembut. Membuat hati Nisa seakan teriris.
"Syukurlah,,"
Nisa lalu mengulurkan tangan pada Andreas.
"Nisa," Ucapnya datar, namun tatapan mata Nisa begitu tajam dan menusuk. Sorot matanya menunjukkan kekecewaan dan kemarahan pada laki-laki yang telah mengingkari janji dan meninggalkannya begitu saja dengan sejuta kenangan indah yang selama 2 tahun terakhir membuatnya tersiksa karna kerinduan yang tak tertahan.
Tapi ternyata laki-laki yang selama ini dia harapkan untuk kembali, telah hidup bahagia dan sebentar lagi akan memiliki seorang anak.
"Devan,," Ucap Devan dengan suara berat yang tercekat.
"Are you oke.?" Bisik Andreas. Dia mengusap keringat yang keluar dari pelipis Nisa.
Nisa menoleh, mengulas senyum lebar sembari menganggukkan kepala. Menunjukkan pada Andreas kalau dia baik-baik saja.
"Nisa ini ternyata anak dari sahabat Mama dan Papa." Ujarnya lagi. Senyum ramah dan teduh Nyonya Zoya, setidaknya mampu menambah kepercayaan diri karna merasa bahwa dia sangat di terima untuk menjadi bagian dari keluarganya.
"Mana senang Andreas bisa mencari pendamping yang baik dan cantik." Ucapan Nyonya Zoya penuh dengan pujian. Dia tau bagaimana kedua orang tua Nisa, mereka berdua memiliki sifat yang baik dan sudah pasti di turunkan pada putri mereka.
"Tidak Tante itu terlalu berlebihan. Aku tidak secantik itu." Sangkal Nisa sopan.
Dia hanya menatap ke samping, karna tepat di depan Nisa ada Devan dan istrinya.
"Kenapa masih panggil Tante, panggil saja Mama." Pinta Nyonya Zoya. Nisa langsung mengangguk.
__ADS_1
"Sebaiknya kita makan dulu.!" Tegas Tuan Chandra. Hanya dia yang sejak tadi memasang wajah tak suka saat Andreas dan Nisa masuk ke dalam ruangan. Padahal sebelumnya terlihat sedang tertawa.
Hening, tak ada obrolan apapun selama makan malam berlangsung. Hanya ada suara garpu dan sendok yang beradu dengan piring, meski sangat pelan.
Nisa terus menundukkan wajah, memilih fokus pada makanannya agar tidak menatap ke arah Devan dan Irene.
"Kamu sudah yakin dengan pernikahanmu.?" Tanya Tuan Chandra pada Andreas begitu semua orang sudah selesai menghabiskan makanannya.
"Memangnya apa yang harus aku ragukan.!" Jawab Andreas ketus.
"Andreas,,!" Tegur Tuan Chandra. Dia langsung menatap tajam karna Andreas berbicara ketus padanya.
"Aku memenuhi undangan makan malam karna ingin membahas pernikahanku yang sebentar lagu akan di laksanakan. Bukan datang untuk berdebat." Tuturnya tegas. Laki-laki itu tak kalah tajam menatap Tuan Chandra. Membuat Nisa kembali bingung dengan hubungan antara Andreas dan Tuan Chandra yang sepertinya tidak baik-baik saja.
"Pah,," Ucap Nyonya Zoya lembut. Dia menggenggam tangan Tuan Chandra, menatapnya memohon sembari menggelengkan kepala.
Nyonya Zoya seperti enggan perdebatan waktu itu terulang lagi.
"Setidaknya turuti permintaanku sekali saja. Bukankah seorang pemimpin perusahaan terbesar di kota ini harusnya bisa bersikap adil." Ucap Andreas penuh penekanan. Dia menatap Tuan Chandra, lalu melirik sekilas pada Devan dengan tatapan penuh amarah.
"Kau.!!" Bentak Tuan Chandra.
Nisa sampai tersentak kaget. seketika menundukkan pandangan dengan kedua tangan yang saling menggenggam.
"Andreas benar Pah."
"Dan sebaiknya hal ini tidak di perdebatkan lagi. Dia berhak menentukan pilihannya sendiri karna Andreas yang akan menjalaninya." Ucap Devan memberikan pembelaan.
Melihat hal itu, Andreas hanya mengukir senyum kecut.
__ADS_1