Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 38


__ADS_3

Semua orang sudah berkumpul di ruang makan. Andreas dan Nisa duduk bersebelahan serta Nyonya Zoya di dekat. Di depan mereka ada Devan dan Irene. Sementara itu, Tuan Chandra duduk sendiri di paling ujung. Berapa di antara mereka.


"Sini biar aku ambilkan,," Suara lirih Irene terdengar sangat lembut. Dia mengulas senyum tulus pada Devan sembari mengambil piring milik Devan untuk di isi dengan makanan.


Nisa yang sejak tadi enggan melirik ke arah suami istri itu, kini mulai terlihat mengarahkan pandangan pada mereka.


Dilihatnya Irene yang sedang mengambilkan makanan untuk suaminya dengan wajah yang terlihat sangat bahagia. Di sisi lain, Nisa menatap Devan yang hanya diam saja sembari memasang wajah datar. Tidak ada senyum, tidak ada tatapan bahagia melihat sang istri menyiapkan makanan untuknya dengan senyum tulus.


"Ini,," Ucap Irene. Dia menyodorkan kembali piring milik Devan dalam keadaan sudah terisi makanan. Tentu saja dengan makanan kesukaan laki-laki itu.


Nisa mengulas senyum miris, dia merutuki dirinya sendiri yang masih ingat dengan makanan kesukaan Devan.


Devan hanya menganggukan kepalanya.


Laki-laki itu tanpa sengaja menatap lurus ke depan, seketika membuatnya beradu pandang dengan Nisa. Tatapan teduh dan tatapan tajam itu beradu. Di sisi lain ada amarah dan kekecewaan yang besar, dan di satu sisi ada penyesalan dan rasa bersalah yang sejak dulu bersarang dalam hati.


"Anisa,," Panggil Andreas. Dia berisik sangat dekat di telinga Nisa. Membuat keduanya tanpa jarak dan terlihat seakan Andreas sedang mencium pipi istrinya itu.


Devan mengalihkan pandangan, kedua tangannya terlihat mengepal di bawah meja.


"Ayo makan, jangan berlama-lama disini." Bisik Andreas lagi. Dia menyentuh tangan Nisa dan mengusapnya pelan.


Paham dengan permintaan Andreas, Nisa langsung mengangguk patuh.


Nisa tau, Andreas pasti tidak nyaman berada di rumah ini. Seperti dirinya yang juga tidak yaman sekaligus merasakan sesak di dada karna keberadaan Devan.

__ADS_1


"Kalian tidak usah pulang, menginap saja di sini." Nyonya Zoya bicara pada kedua anak dan menantunya. Meminta mereka untuk bermalam bersamanya.


"Kalian berdua belum pernah menginap di rumah sejak menikah. Kamu tidak keberatan kan menginap disini.?" Tanya Nyonya pada Nisa.


Wanita cantik itu terlihat bingung untuk mengiyakan, dia lalu menoleh pada Andreas.


"Aku terserah Andreas saja Mah,," Jawab Nisa. Dia tak mau menyetujui ajakan Mama mertuanya lantaran Andreas sendiri meminta untuk tidak berlama-lama di rumah itu.


"Andreas sudah pasti setuju, iya kan Nak.?" Nyonya Zoya tersenyum tulus pada Andreas. Senyum tulus sebagai seorang ibu kenapa anaknya. Nisa bahkan bisa merasakan hal itu.


Sejak pertama kali bertemu dengan Nyonya Zoya, Nisa memang sudah bisa menilai kalau wanita paruh baya itu benar-benar baik dam tulus pada Andreas. Dia juga memperlakukan Andreas layaknya memperlakukan Devan. Tidak ada perbedaan dalam menatap keduanya.


"Ya, kami akan menginap disini." Jawab Andreas tanpa pikir panjang. Hal itu membuat Nisa menatap heran. Tiba-tiba saja Andreas setuju untuk menginap, padahal tadi menyuruhnya untuk buru-buru makan agar segera meninggalkan rumah Tuan Chandra.


"Mama akan senang kalau kalian berempat sering berkunjung dan menginap disini."


Sejak Devan menikah dan sempat menetap di luar negeri, dia merasa sangat kesepian. Belum lagi Andreas yang sangat jarang berkunjung ke rumah. Mungkin hanya 1 bulan sekali datang ke rumah. Itupun jika ada hal penting yang harus di bicarakan mengenai perusahaan.l


"Mama bicara apa, tentu saja Devan dan Andreas tidak akan seperti itu,," Ujar Irene.


"Aku dan Nisa bisa datang kesini atau menginap berdua kalau Devan dan Andreas sibuk. Iya kan Nisa.?" Serunya. Nisa langsung menganggukkan kepala untuk mengiyakan usaha Irene yang sedang menyenangkan dan menenangkan hati Nyonya Zoya.


"Ide yang bagus, kita bisa yoga bersama atau perawatan bersama." Nyonya Zoya mengulas senyum lebar. Mendapati kedua menantunya sama-sama baik dan mau berbaur, tentu membuatnya sangat bersyukur dan bahagia. Dia berharap dengan kehadiran satu anggota keluarga lagi, bisa memperbaiki hubungan keluarga yang semakin renggang ini.


...*****...

__ADS_1


"Aku.? Kenapa harus aku.?!" Andreas berucap sinis.


"Saham terbesar perusahaan itu atas nama Devan, dia juga yang memimpin perusahaan itu. Jadi untuk apa aku harus ikut ke luar negeri.?" Andreas mengukir senyum geli pada sang Papa.


Tiba-tiba saja Tuan Chandra memintanya untuk ikut andil dalam pengembangan perusahaan Devan yang mulai merambah ke kanca internasional.


"Devan pasti bisa mengurusnya sendiri. Bukan begitu.?" Tanyanya sembari menatap sinis ke arah Devan yang duduk di seberangnya.


"Andreas benar, aku bisa mengatasinya sendiri. Papa tidak perlu khawatir." Devan meyakinkan sang Papa. Meski terlihat tidak suka dengan penolakan Andreas.


"Lagipula minggu depan aku dan Anisa akan pergi ke swiss."


"Kami belum sempat bulan madu." Ucapnya, Andreas lalu mengukir senyum lebar pada Devan dan sang Papa.


Devan melempar tatapan curiga. Entah kenapa tiba-tiba ingat dengan cerita awal mula pertemuan Andreas dan Nisa.


Meski cerita pertemuan mereka terlihat tanpa rekayasa dan murni sebuah musibah yang tak di harapkan, Devan tetap tak bisa mempercayainya begitu saja.


Hatinya tetap mengatakan jika ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh Andreas.


...****...


"Sayang,, ayo tidur,," Panggil Andreas. Dia menghampiri Nisa yang tengah duduk bersama Irene di ruang keluarga.


"Kita lanjut lagi besok. Aku ke kamar duluan." Ujar Nisa sembari beranjak dari duduknya dan pamit pada Irene.

__ADS_1


"Iya, aku juga sudah mengantuk." Irene ikut beranjak. Dia dan Nisa sama-sama berjalan meninggalkan area tempat duduk itu. Nisa menghentikan langkah di samping Andreas, sedangkan Irene berjalan melewati mereka untuk menghampiri Devan yang tengah berdiri tak jauh dari sana.


Devan sudah ada di sana sejak Andreas menghampiri Nisa dan berbicara pada Nisa.


__ADS_2