Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 108


__ADS_3

"Aku titip Maura Mah, besok aku akan berangkat ke Batam." Devan melirik sekilas putrinya yang sedang bermain bersama baby sitternya.


Dia sengaja pulang cepat untuk memberitahukan hal ini pada Mama Zoya.


"Tapi kamu tidak tau dimana alamat rumah Nisa. Bagaimana kamu bisa menemukan keberadaan mereka nanti.?" Mama Zoya tampak khawatir.


Pasalnya Batam cukup luas, hanya dengan bermodalkan keyakinan saja tidak cukup untuk menemukan keberadaan menantu dan cucunya itu.


Ya, Mama Zoya tak melarang niat baik putranya yang ingin mencari keberadaan Nisa dan anaknya. Dia justru senang seandainya bisa membawa mereka untuk menemuinya.


Jujur saja, meski apa yang telah di perbuat oleh Andreas pada keluarganya hingga menyebabkankan sang suami meninggal dunia karna serangan jantung, Mama Zoya tak lantas membenci Nisa, apalagi saat tau bahwa Nisa juga menjadi korban dari kejahatan Andreas.


Mama Zoya malah ingin melindungi Nisa dan memastikan Nisa serta anaknya menjalani hidup yang layak.


"Mama tidak usah khawatir, aku pastikan akan menemukan mereka." Devan begitu yakin bahwa takdir akan mempertemukannya kembali dengan Nisa. Wanita yang selama bertahun-tahun dia cari keberadaannya.


Sejak meninggalnya Irene pasca melahirkan putrinya, Devan sempat terpuruk. Dia belum lama di tinggalkan oleh Papa Chandra dan perusahaannya juga hancur. Penderitaan itu seolah belum cukup menyiksa hidupnya, Devan kembali merasakan kepahitan karna di tinggalkan oleh Irene untuk selama-lamanya.


Meski saat itu hatinya belum sepenuhnya milik Irene, tapi Maura ada berkat Irene. Wanita baik yang begitu tulus mencintainya meski tau dia mencintai wanita lain.

__ADS_1


Devan dan Mama Zoya mebgalam begitu kesulitan. Hidupnya berubah 180 derajat akibat perasaan dendam yang dimiliki oleh Andreas pada keluarganya sendiri.


3 tahun Devan berjuang untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Dia berjuang keras, menghabiskan waktunya untuk membangun kembali sebuah perusahaan yang sudah tak bernilai di mata para pebisnis.


Dia sampai kehilangan waktu berharganya dengan sang putri, karna putri semata wayangnya itu rawat penuh 24 jam oleh Mama Zoya.


Tidur 2 jam dalam sehari sudah biasa bagi Devan dalam 1 tahun pertama. Tekatnya untuk mendirikan perusahaan itu lagi cukup kuat.


Ambisinya begitu besar, dia tak mau Andreas semakin tertawa puas di atas penderitanya.


Pada kenyataannya usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil. Meski perusahaannya tak sebesar sebelumnya, tapi setidaknya sudah membuat dia dan sang Mama bangkit dari kesulitan.


...****...


"Anda belum makan sejak tadi siang," Aditya memberanikan diri mengingatkan Andreas.


Dia melirik box makanan milik Andreas yang dia pesan saat di restoran tadi siang.


Sampai pukul 5 sore, Andreas tak melirik makanan itu sedikitpun.

__ADS_1


Dia hanya duduk termenung di jok belakang, tatapan matanya tak pernah lepas dari gedung berlantai 4 di seberang jalan sana.


Setelah di usir oleh satpam, Andreas meminta Aditya untuk tidak pergi dari sana, melainkan memintanya menunggu di seberang jalan agar bisa membuntuti Nisa ketika wanita itu meninggalkan kantor.


Andreas seolah tak menggubris ucapan Aditya. Jangankan untuk menelan makanan, meneguk air putih saja terasa sulit dia lakukan.


"Jangan menyiksa diri sendiri, Anda akan sangat rugi jika mendatangi putra Anda dalam keadaan sakit-sakitan." Tak peduli dengan reaksi Andreas setelah ini, Aditya tampak cuek saja. Yang terpenting dia bisa membujuk bosnya itu untuk menyantap makanannya.


Karna jika Andreas sampai sakit dan di rawat, maka dia juga yang semakin kerepotan meng-handle semua pekerjaan Andreas.


Kali ini Andreas merespon ucapan Aditya dengan meliriknya. Aditya berfiki kalau Andreas mau mendengarkan ucapannya.


Tapi alih-alih membuka box dan menyantap makanan itu, Andreas justru mengeluarkan botol berisi obat antidepresan yang sudah 3 tahun terakhir dia konsumsi.


Aditya menghela nafas, sejujurnya melelahkan bekerja dengan Andreas. Dia merasa statusnya seperti asisten pribadi yang merangkap sebagai baby sitter.


Mulutnya terkadang lelah karna terus berbicara untuk mengingatkan laki-laki dewasa itu.


"Fokus saja mengawasi, jangan sampai kita tidak tau saat Nisa meninggalkan kantor." Andreas bicara datar, namun terdengar seperti teguran yang penuh penekanan.

__ADS_1


Setelah meminum obat itu, Andreas kembali memfokuskan pandangan ke kantor Nisa.


__ADS_2