Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 176


__ADS_3

Sudah hampir 20 menit yang lalu Andreas memandang lekat wajah cantik Nisa yang tengah terlelap. Nisa ketiduran setelah hampir 2 jam menonton film romantis.


Andreas yang menyadari hal itu, sengaja tidak membangunkan Nisa dan membiarkannya tidur di kursi.


"Maaf,," Lirih Andreas dengan suara tercekat. Selama 20 menit memandangi wajah Nisa, Andreas membayangkan kehidupan sulit Nisa selama mengandung Kenzie.


Dia sangat menyesal tidak bisa berada di samping Nisa saat kehamilan anak pertama mereka.


"Aku janji akan mengganti semua yang dulu tidak pernah aku lakukan saat kamu sedang mengandung Kenzie." Ujarnya.


Satu tangan Andreas mengusap perut Nisa dengan penuh kelembutan dan rasa bahagia yang sulit untuk di ungkapkan. Segala perasaan berkecambuk dalam benaknya. Ada perasaan haru karna telah diberi kesempatan untuk memiliki anak lagi dari Nisa, dan yang terpenting bisa ikut andil di samping Nisa selama masa kehamilannya hingga melahirkan nanti.


"Aku akan membuat kamu selalu tersenyum bahagia, sampai kamu lupa rasanya menangis karna terluka." Andreas berucap penuh kesungguhan. Dia punya tekat yang besar untuk menghadirkan kebahagiaan pada Nisa selama hidupnya.


Sebuah kecupan penuh cinta mendarat di kening dan perut Nisa. Andreas kemudian menggendong Nisa untuk di pindahkan ke kamar.


Pria itu membaringkan Nisa dengan hati-hati. Sepertinya istrinya itu sangat mengantuk sampai tidak bangun saat di pindahkan dari ruang bioskop mini ke kamar mereka.


Ikut berbaring di samping Nisa, Andreas memeluknya hingga ikut tertidur.


...*****...


"Jagoan Papi sudah rapi dan wangi." Ucap Andreas begitu selesai memakaikan baju pada Kenzie. Pria bertubuh atletis dan tinggi itu baru saja mandi bersama Kenzie.


Sejak Nisa di nyatakan hamil, memandikan Kenzie setiap pagi dan sore adalah tugas Andreas.


Dia sendiri yang menyuruh Nisa untuk tidak lagi memandikan Kenzie lantaran khawatir Nisa akan kelelahan.


"Sekarang giliran Papinya yang pakai baju." Nisa menyodorkan setelan jas pada Andreas, lengkap dengan celana dlmnya.


"Kamu tidak berniat memakaikan baju untukku.?" Goda Andreas seraya mengambil setelan jas itu dari tangan Nisa.


"Jangan bercanda,, ada Zie di sini." Tegur Nisa lirih.


"Sudah cepat pakai bajunya, nanti terlambat." Ujarnya seraya menggandeng Kenzie untuk di bawa keluar dari walk in closet.

__ADS_1


"Sekalipun terlambat, aku tidak akan kehilangan pekerjaan." Jawab Andreas dnegan kekehan kecil. Istrinya itu mungkin lupa kalau suaminya adalah pemilik perusahaan, jadi tak akan memberikan dampak apapun kalau sekedar datang terlambat ke kantor. Kecuali jika datang terlambat pada rapat penting.


"Aku tau, tapi kamu juga harus memberi contoh yang baik untuk karyawanmu." Sahut Nisa.


"Aku ke bawah dulu,," Pamitnya sebelum menghilang di balik pintu.


Andreas menyusul ke bawah selesai memakai setelan jas lengkap. Dia menghampiri istri dan Anaknya yang tangah bermain di ruang keluarga.


"Sayang,, aku berangkat dulu." Pamitnya begitu masuk.


Namun bukannya Nisa yang menjawab, tapi malah teriakan putranya yang meminta ikut.


"Papiiii,,, Zie mau ikut Papi,," Seru Kenzie sembari berlari menghampiri Andreas.


Andreas menggendong dan mencium pipi putranya.


"Oke Tuan Muda,," Jawab Andreas. Dia sama sekali tidak melarang Kenzie untuk tidak ikut dengannya. Karna menuruti semua permintaan Kenzie adalah salah satu cara agar bisa mengurangi rasa bersalahnya terhadap putranya itu. Dan salah keinginan Andreas setelah mengetahui dirinya sudah menjadi seorang ayah adalah dengan menjadi orang tua yang akan memberikan kesan mendalam di hati anak-anaknya.


"Andreas,," Tegur Nisa lirih. Dia tampak tidak setuju Andreas akan membawa Kenzie ke kantor. Selain khawatir Kenzie akan rewel di sana, Nisa juga tidak mau pekerjaan Andreas terganggu karna harus menjaga dan mengawasi Kenzie nantinya.


"Tidak apa sayang,," Jawab Andreas yang langsung mengerti maksud dari teguran Nisa.


Setelah melakukan perdebatan singkat, akhirnya Nisa menyerah dan memutuskan untuk ikut. Apa lagi Kenzie memaksa mau ikut sampai merengek.


...****...


Pagi itu keluarga kecil Andreas sudah siap meninggalkan Amerika untuk terbang ke Batam.


Saat ini mereka sudah berada di dalam pesawat kelas bisnis. Di dampingi 2 pengawal, mereka akan berada di Batam selama 1 minggu.


Sedangkan Aditya sudah berada di batam sejak 5 hari yang lalu untuk feeting baju dan memastikan semua kelengkapan acara pernikahannya dengan Tiara.


"Jadi Aditya harus menetap di Amerika juga.?" Tanya Nisa setelah Andreas menceritakan tentang salah satu anak perusahaan yang dia berikan pada Aditya untuk di pimpin dan di kelola oleh asisten pribadinya itu.


Andreas menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


"Semoga saja Tiara setuju untuk ikut menetap di sini, karna memimpin perusahaan adalah salah satu impian Aditya." Tuturnya. Selama ini Aditya setia dsn bekerja keras agar suatu saat bisa membangun dan memili5 perusahaan sendiri. Selama ini laki-laki itu hidup lurus tanpa menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak penting, karna bertekad mencapai impiannya.


Andreas yang mengetahui hal itu, tanpa pikir panjang langsung menyerahkan perusahaan untuk Aditya, sekaligus sebegai bentuk ucapan terimakasih atas pengorbanan dan kebaikan Aditya padanya selama ini.


"Semoga saja begitu,," Sahut Nisa menanggapi. Dia tidak yakin akan mudah membujuk Tiara untuk meninggalkan Batam. Karna bagaimana pun, Tiara tak bisa meninggalkan keluarganya. Terutama sang Ayah yang mungkin paling berarti dalam hidup Tiara hingga detik ini.


"Baik-baik di dalam twins," Ucap Andreas seraya mengusap lembut perut Nisa. Meski bibirnya mengukir senyum, tapi sejujurnya Andreas mengkhawatirkan keselamatan calon anak-anaknya yang ada di dalam rahim Nisa.


Menurut sumber yang beberapa hari lalu dia baca, melakukan penerbangan di usia kehamilan muda sangat beresiko. Andreas tentu saja tak mau hal buruk terjadi pada twins dan juga Nisa.


Sekalipun dia sudah melakukan pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter, tapi tetap saja masih di bayang-bayangi rasa cemas.


"Jangan khawatir Ndre,, mereka pasti kuat seperti Kenzie saat di dalam kandungan dulu." Nisa mencoba menepis kekhawatiran yang di rasakan oleh Andreas.


Lagipula dokter sudah mengatakan kalau kandungnya sangat sehat dan tidak masalah jika ingin melakukan penerbangan.


"Adik bayi tidul ya Papi.?" Tanya Kenzie yang melihat Andreas masih mengusap - usap perut Nisa.


Andreas dan Nisa sontak mengukir senyum seraya menatap Kenzie.


Walaupun Kenzie mungkin belum mengerti dengan sosok adik, tapi sejak Nisa di nyatakan hamil, mereka berdua sering berbicara pada Kenzie tentang calon adiknya yang masih ada di dalam perut.


"Iya sayang, adik twins sedang tidur."


"Apa Zie mau tidur juga.?" Tanya Andreas penuh kelembutan.


Putranya itu menggelengkan kepala. Dia malah meraih makanan di depannya dan melahapnya.


"Ya ampun,, Zie akan punya 2 adik sekaligus di usinya ke 3 tahun nanti." Gumam Nisa. Antaran bahagia dan bercampur sedih. Dia takut tidak bisa membagi waktunya untuk Kenzie dan takut membuat Kenzie merasa kehilangan kasih sayang serta perhatian darinya.


"Aku takut membuat Zie cemburu dan merasa tidak di perhatikan." Tuturnya sendi.


"Jangan khawatir, kita akan sama-sama merawat mereka." Andreas menggenggam tangan Nisa untuk mengurangi kekhawatiran yang di rasakan oleh Nisa.


"Lagipula aku akan mendatangkan 2 baby sitter untuk membantu kamu merawat twins. Jadi kamu masih punya banyak waktu untuk bersama Kenzie agar dia tidak merasa di abaikan."

__ADS_1


Nisa mengangguk paham. Meski begitu, kecemasan dalam hatinya masih tetap ada.


Karna anak seusia Kenzie pasti sangat membutuhkan orang tuanya selama 24 jam.


__ADS_2