
"Devan,," Lirih Nisa dengan suara bergetar. Dari jarak cukup dekat dia bisa melihat Devan sedang menggendong anak perempuan.
Nisa segera mengangkat Kenzie dari kursi, dia bergegas menggendongnya untuk bersembunyi dari Devan.
Meski Devan tak memliki pengaruh apapun dalam kehidupannya saat ini, namun Nisa sudah bertekad untuk tidak berinteraksi dengan siapapun yang berhubungan dengan keluarga Andreas.
"Momi es krim Zi,," Kenzie menangis lantaran Nida menggendongnya dan membawanya pergi dengan meninggalkan es krim milik Kenzie.
"Sssttt,,, diam ya sayang, nanti Momi belikan lagi es krimnya." Bisik Nisa cemas. Dia buru-buru keluar dari kedai es krim itu, berusaha menyelinap agar Devan tak melihat keberadaannya.
Tapi sepertinya takdir memang berkehendak untuk mempertemukan mereka berdua. Karna terburu-buru dan tidak melihat keadaan sekitar, Nisa jadi menabrak seseorang yang mengakibatkan orang itu marah hingga menimbulkan keributan.
"Maaf Bu,, saya tidak sengaja." Nisa yang sejak tadi diam di marahi oleh ibu-ibu itu, kini baru bersuara lantaran ibu-ibu tersebut tak mau berhenti memarahinya.
Devan menoleh ke belakang. Awalnya dia bersikap acuh dengan keributan yang terjadi di belakangnya, namun setelah mendengar suara wanita yang dia kenali, tanpa pikir panjang Devan langsung berbalik badan dan menghampirinya.
"Makanya kalau jalan lihat-lihat.!" Wanita paruh baya itu kembali membentak Nisa.
Devan berdiri tepat di belakang Nisa, tapi agaknya Nisa tidak menyadarinya.
Setelah mendengarkan apa yang terjadi, Devan berjalan maju dan berdiri di samping Nisa.
"Istri saya sudah meminta maaf, dia tidak sengaja."
"Kenapa masih memarahinya.?" Ucap Devan lembut.
Wanita paruh baya itu tampak segan saat melihat Devan. Apalagi melihat setelah jas yang di pakai oleh Devan.
Mereka kalau Devan bukan orang biasa, wanita itu pergi begitu saja meski sempat melirik sinis ke arah Nisa.
Sementara itu, Nisa sudah bergeser menjauh sejak melihat Devan berdiri di sampingnya.
Ada rasa marah saat Devan menyebut dirinya sebagai istri.
"Terimakasih," Ucap Nisa. Dia bicara seolah tidak pernah menganal Devan. Nisa bahkan sampai membungkukkan badannya untuk berterimakasih pada Devan.
Melihat Nisa yang akan pergi, Devan buru-buru menahan tangannya.
__ADS_1
"3 tahun aku mencarimu,," Suara Devan tercekat. Kedua matanya tampak berkaca-kaca. Dia menatap dalam wajah cantik Nisa. Wanita yang selama ini dia cari keberadaannya tapi tak pernah bisa mendapatkan informasi apapun.
Mella yang dia tau sebagai sahabat Nisa, bahkan tidak bisa memberikan informasi apapun tentang Nisa.
Beberapa detik manatap Nisa. Devan beralih pada sosok anak laki-laki dalam gendongan Nisa. Anak kecil itu sangat mirip dengan adiknya.
Tentu Devan sudah tau anak siapa yang di gendong oleh Nisa.
"Bagaimana keadaan kalian.? Apa kalian baik-baik saja.?" Ada kecemasan dalam sorot mata Devan. Selama ini dia memikirkan bagaimana Nisa bisa bertahan hidup seorang diri dalam keadaan hamil saat memutuskan untuk menghilang.
"Siapa nama keponakanku.?" Devan mengukir senyum pada Kenzie, menyentuh pucuk kepala Kenzie dan mengusapnya.
"Halo anak tampan, siapa namamu.?" Tanya Devan. Dia terlihat senang melihat Kenzie sekalipun dalam tubuh Kenzie mengalir darah Andreas. Adiknya yang telah menghancurkan perusahaan keluarganya sendiri hingga membuat sang Papa menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengetahui dalang kehancuran perusahaan yang tak lain adalah anak kandungnya.
"Zi,, aku zi,," Jawab Kenzie. Dia ikut tersenyum melihat Devan.
"Zi.?" Devan mengerutkan kening. Seperti jeponakannya itu hanya mengambil potongan huruf dari nama lengkapnya.
Nisa menepis tangan Devan yang tengah menyentuh pipi Kenzie. Kemudian dia bergegas pergi dengan terburu-buru.
Devan menghentikan langkah saat melihat Nisa sudah menghilang dari pandangan matanya. Dia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Cek semua data penerbangan minggu ini atas nama Anissa Salsabila.!" Titahnya tegas.
"Cari sampai dapat dan laporkan padaku.!" Serunya.
"Sayang, kita pulang dulu yah. Besok kita jalan-jalan lagi sama Oma." Devan terpaksa harus membatalkan janjinya pada Maura. Saat ini dia harus mencari keberadaan Nisa dan keponakannya. Dia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang baru datang setelah 3 tahun lamanya.
Selama 3 tahun mencari keberadaan Nisa, Devan tak bisa menemukan petunjuk apapun tentang keberadaannya. Sejak Nisa tak bisa di temui, semua bandara di Jakarta sudah dia datangi untuk mencari data penumpang Nisa. Tapi Devan tak menemukannya.
...*****...
Nisa baru keluar dari restoran cepat saji setelah mengganti es krim milik putranya yang dia tinggalkan begitu saja di pusat perbelanjaan.
Dia mengendarai mobilnya menuju apartemen. Sepertinya dia memang tidak boleh keluar kemanapun selain urusan pekerjaan.
Cukup satu kali saja dia bertemu dengan Devan tanpa sengaja.
__ADS_1
Dan laki-laki itu tidak boleh tau keberadaannya serta tempat tinggalnya di Batam.
Sampainya di apartemen, Nisa mendudukkan Kenzie di ruang tamu. Dia juga ikut duduk di samping putranya dan segera menghubungi Mella.
"Hallo Mel,, seperti besok aku harus kembali ke Batam. Aku baru saja bertemu dengan Devan tanpa sengaja."
"Aku yakin setelah ini Devan akan mencari keberadaanku."
Tutur Nisa cemas.
Dia memutuskan untuk kembali ke Batam sebelum Devan menemukan keberadaannya di Jakarta.
"Tapi Nis, pekerjaan kamu belum selesai."
"Besok ada jadwal peresmian store kita di 3 tempat."
Agaknya Mella kurang setuju dengan keputusan Nisa. Masalahnya Nisa masih punya tanggungjawab di sini.
"Tolong kamu saja yang mewakili. Lagipula bisnis itu bukan hanya milikku saja, tapi milik kamu juga."
"Aku tidak mau Devan tau keberadaanku Mel." Nisa sedikit memohon. Hal itu membuat Mella akhirnya mengijinkan Nisa untuk kembali ke Batam besok pagi.
...*****...
Los Angeles internasional airport,,,
Andreas memasuki pesawat VIP. Dengan memakai setelan jas lengkap dan kacamata hitam, dia di kawal oleh asisten pribadi dan bodyguardnya.
Menarik nafas dalam, agaknya sangat berat bagi Andreas untuk menginjakkan kakinya di Jakarta.
Sejak kemarin dia tidak bisa tidur lantaran memikirkan akan pergi ke Indonesia.
3 tahun yang lalu dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak kembali ke masalalu.
Dia juga tidak mau bertemu ataupun berhubungan dengan seseorang yang menyangkut dengan masalalunya.
Andreas berusaha untuk mengubur semua kenangan itu meski tidak mudah baginya.
__ADS_1