Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 147


__ADS_3

"Kamu sudah setuju hanya mandi saja." Sahut Nisa. Secara tidak langsung dia menolak permintaan Andreas. Memang tidak ada salahnya untuk ber cinta, tapi sepertinya Nisa sengaja menguji Andreas. Ingin memastikan sejauh mana Andreas mau mendengarkan semua perkataannya tanpa ada bantahan.


Perlahan tangan Andreas mulai menyingkir dari perut rata Nisa. Mana mungkin dia akan melanjutkannya kalau Nisa sudah menolak. Dia takut mengecewakan wanita itu.


"Kalau begitu biar aku bantu menggosok punggungmu saja." Tangan Andreas mengulur, mengambil spons mandi dan sabun yang terletak di sisi bathtub.


Nisa mengangguk tanda mengijinkan. Andreas dengan semangat mengguyur punggung Nisa sebelum akhirnya menggosoknya dengan spons mandi yang sudah di tuangkan sabun.


Tangan besar dan kekarnya itu mulai menggosok dengan lembut dan gerakan teratur. Walaupun tali di belakang punggung itu cukup mengganggu, tapi Andreas tak berani meminta Nisa untuk melepasnya.


"Kamu masih butuh investor untuk produksi skincare.?" Andreas membuka obrolan di tengah keheningan.


Nisa mengangguk. Dia belum mendapatkan investor lagi setelah kejadian buruk beberapa hari yang lalu.


Padahal hanya Pak Surya yang berani berinvestasi sebesar itu, tapi malah berani berbuat gila dengan melecehkannya.


Nisa sampai harus menundanya dan belum membicarakan lagi dengan tim di kantor.


"Setelah kembali ke Batam, berikan proposalnya pada Aditya."


Seketika Nisa menoleh kebelakang setelah mendengar ucapan Andreas.


"Kamu,,"


"Hemm,, aku ingin bekerjasama dengan istriku." Potong Andreas lantaran sudah bisa menebak apa yang akan di katakan oleh Nisa.


Tentu saja Nisa tidak menolak penawaran Andreas. Dia butuh banyak dana untuk memenuhi permintaan konsumennya yang sudah menggunung. Sedangkan dana untuk produksi besar-besaran itu baru sekitar 60 persen.


"Makasih banyak Ndre." Nisa berucap tulus. Dia lalu mengambil alih spons mandi dari tangan Andreas.


"Sini biar aku gosok punggungmu juga." Nisa minta untuk bertukar posisi.


Dengan senang hati Andreas pindah ke depan Nisa. Duduk tegap di dalam bathtub dengan kaki yang di silangkan.


"Berapa banyak dana yang kamu butuhkan untuk memproduksi skincare itu.?" Tanya Andreas. Dia berniat untuk membantu semua kekurangan biaya produksi Nisa.


Walaupun Aditya sudah menjelaskan projek yang sedang di kerjakan oleh Nisa, tapi Aditya tidak mendapatkan informasi tentang berapa dana yang di butuhkan oleh Nisa untuk produksi.

__ADS_1


"Dana sudah masuk sebesar 60 persen." Jawab Nisa. Obrolan serius itu tak membuat Nisa berhenti menggosok punggung Andreas. Dia juga fokus pada punggung lebar di depannya yang sangat berotot itu.


"Masih butuh pemasukan 4,5 lagi." Nisa terang-terangan menjawab nominalnya. Lagipula memang Andreas sendiri yang ingin mengetahuinya.


Andreas tampak menganggukkan kepala dua kali.


"Aku pikir tembus di atas angka 10." Ujar Andreas. Karna jika harus mengeluarkan uang perusahaan dia tas 10 milyar, maka harus disetai dengan proposal dan beberapa dokumen yang bersangkutan.


"Untuk sementara pakai dulu uang milik Kenzie supaya bisa segera di produksi." Mengingat Nisa sedang buru-buru untuk mengerjakan pesanan, jadi Andreas menyarankan untuk menggunakan uang milik Kenzie pada kartu atm yang beberapa hari lalu dia berikan pada Nisa.


Karna uang itu bisa di ambil tanpa harus menunggu waktu yang lama. Di banding harus dengan melalui kerja sama yang resmi.


"Uang Kenzie yang mana.?" Nisa menautkan kedua alisnya. Jangankan ingat dengan kartu atm milik Kenzie, Nisa bahkan lupa kalau dia pernah menerima kartu atm dari Andreas.


"Ada di kartu atm yang aku berikan padamu tempo hari. Uang itu untuk biaya hidup Kenzie sampai dia kuliah nanti." Tutur Andreas yang mencoba mengingatkan Nisa.


"Kamu pakai saja untuk sementara waktu, nanti setelah kembali dari Amerika, aku akan menyuruh Aditya untuk menggantinya lagi."


Nisa terdiam, begitu juga dengan gerakan tangannya di punggung Andreas.


Sepertinya keputusan untuk kembali pada Andreas memang tepat, dengan begitu pendidikan Kenzie akan terjamin hingga dia bisa sukses nantinya seperti sang Papi.


Suara tangis Kenzie yang pecah membuat keduanya saling menatap.


"Huaaa,,, Momiii,, Papi,,, huaaaa,,,"


"Kamu lanjutkan saja mandinya, biar aku yang temani Kenzie." Andreas buru-buru keluar dari bathtub, dia membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa sabun di bawah guyuran shower.


"Tapi kamu juga belum selesai mandinya,," Ujar Nisa yang hendak ikut menyudahi berendamnya.


"Tidak apa, aku bisa mandi lagi nanti." Jawab Andreas yang langsung menyambar handuk lalu bergegas keluar dari kamar mandi.


Nisa mengulum senyum, sikap yang baru saja di tunjukkan oleh Andreas cukup membuktikan bawah Andreas tipe suami yang sangat baik dan pengertian. Padahal Andreas bisa saja membiarkan Nisa yang menghampiri Kenzie, tapi malah menyuruh Nisa untuk melanjutkan mandinya dan Andreas dengan sigap keluar dari kamar mandi walaupun belum selesai membersihkan diri.


...*****...


Di tempat berbeda, Aditya tengah memperhatikan Tiara yang sedang menyiapkan makan malam untuk pekerja rumah.

__ADS_1


Walaupun sudah di usir puluhan kali, tapi Aditya masih bisa duduk santai di meja makan.


Dia tak menghiraukan omelan Tiara ataupun kata-kata ketus dari bibir wanita cantik itu.


Perubahan sikap Tiara dari malu-malu menjadi galak dan ketus justru semakin membuat Aditya betah berada di samping Tiara untuk menganggu gadis lugu dan polos itu.


Rasanya seperti hiburan tersendiri kalau melihat kekesalan di wajah Tiara.


"Kenapa kamu tidak punya pacar.?" Tiba-tiba Aditya kembali bersuara. Padahal Aditya baru saja di tegur oleh Tiara agar tidak bicara sampai Tiara selesai memasak. Tapi baru 10 menit berlalu, Aditya seolah tidak sanggup untuk diam membisu.


Tiara melirik sekilas dengan tatapan cuek.


"Aku tidak tertarik punya pacar. Lagipula siapa yang mau menjadikan asisten rumah tangga sepertiku sebagai pacar." Tiara menekankan setiap kalimatnya.


"Apa yang membuatmu tidak tertarik.?" Merasa penasaran dengan jawaban Tiara, Aditya sampai beranjak dari duduknya dan sengaja mengjampiri Tiara yang masih memasak agar bisa lebih dekat mengobrol dengannya.


"Pengalaman seseorang yang membuatku tidak tertarik." Jawab Tiara acuh.


"Memiliki kekasih tapi akhirnya berpisah dan membuatnya sakit hati karna di khianati."


"Dan bodohnya, dia masih saja memiliki perasaan pada mantan kekasihnya itu." Tiara menekankan ucapannya. Dia menyadari keberadaan Aditya yang berdiri di belakangnya, namun pura-pura tidak tau dan dia sengaja berbicara kencang.


"Kamu sedang menyindirku.?" Tanya Aditya sedikit sewot. Karna apa yang di ucapkan oleh Tiara seperti sedang menceritakan dirinya.


"Untuk apa menyindir Kakak." Sangkal Tiara cepat.


"Aku menceritakan seseorang yang masih mencintai mantan kekasihnya.!" Tegasnya.


"Memangnya Kak Adit masih cinta sama mantan.?" Tiara menoleh untuk menatap laki-laki itu.


Aditya tak langsung menjawab hingga Tiara kembali bersuara.


"Kak Adit sudah tidak mencintai Kak Eveline kan.? Buktinya tidak mau kembali padanya." Ujar Tiara. Dia mengulum senyum kecut setelah meluruskan pandangan.


Sepertinya apa yang baru saja dia katakan pada Aditya, berhasil membuat laki-laki itu menyadari perasaannya terhadap Eveline. Terbukti Aditya langsung bungkam tak menyangkal perkataan Tiara.


"Kalau aku masih mencintainya, tentu saja aku tak perlu susah payah memintamu untuk berpura-pura menjadi pacarku." Jawab Aditya setelah beberapa saat terdiam.

__ADS_1


__ADS_2