Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 135


__ADS_3

Pagi itu pukul 8, Andreas beserta istri dan anaknya sudah sampai di bandara setelah di antar oleh Aditya.


Andreas mendorong 2 koper milik mereka, sementara itu Kenzie berada dalam gendongan Nisa.


"Kita mau pelgi kemana Papi.?" Tanya Kenzie. Bocah itu hanya tau kalau mereka akan berlibur, tanpa tau akan berlibur kemana.


"Ke Bali sayang. Kita akan main di pantai nanti."


"Apa zie suka main di pantai.?" Andreas menatap wajah putranya sembari mendorong 2 tumpuk koper dan tas yang berisi perlengkapan Kenzie.


Kenzie menggelengkan kepala dengan ekspresi wajah yang tampak bingung.


"Kenzie belum pernah pergi ke pantai." Ucapan Nisa membuat Andreas mengerti kenapa putranya itu terlihat bingung setelah di tanya tentang pantai.


"Maaf,," Lirih Andreas. Entah kenapa dia selalu merasa bersalah jika ada hal yang di lewatkan oleh putranya. Lagi-lagi dia merasa bahwa dirinya jahat sebagai seorang ayah. Dan itu membuat Andreas berfikir bahwa dia tak jauh berbeda dengan Papa Chandra. Karna perannya sebagai seorang ayah sama sekali tidak ada dan tak membekas di hatinya. Dan sepertinya Zie juga akan menganggap dirinya seperti itu.


"Untuk apa.?" Nisa menautkan kening. Sejujurnya dia agak bingung karna Andreas selalu mengatakan maaf padanya. Entah berapa kali Andreas mengatakan maaf padanya dalam sehari.


"Aku banyak salah pada Kenzie." Suara Andreas tercekat. Sungguh dia tak bermaksud mengulang sejarah, bahkan tak mau putranya mengalami hal serupa seperti dirinya. Tapi kesalahan yang di perbuat di masa lalu, membuat Kenzie harus merasakan semua ini. Dia baru mengenal sosok seorang ayah di usianya sekarang.


"It's okay Ndre, yang terpenting kamu ada di samping Zie saat ini." Tutur Nisa yang bermaksud untuk menenangkan Andreas.


Beberapa hari tinggal dengan Andreas, Nisa mulai bisa mengerti dengan sakit yang di derita oleh pria itu. Yang membuat Andreas mudah sedih, cemas, dan terus meminta maaf karna merasa bersalah.


Andreas yang sekarang sangat rapuh, tak seperti Andreas 3 tahun yang lalu.


"Jangan menunjukkan kesedihan di depan putramu kalau kamu ingin membuat Zie bahagia." Pinta Nisa. Sembari mengukir senyum tipis, Andreas mengangguk paham.


"Aku mengerti." Andreas mengukir senyum. Perkataan Nisa mampu memberikan ketenangan, menghilangkan kerisauan dalam hatinya.


Entah bagaimana lagi dia akan mendefinisikan sosok Nisa yang selalu berperan penting dalam hidupnya sejak dulu hingga saat ini.


...****...


Setelah menempuh perjalanan udara kurang lebih 2 setengah jam, mereka sampai di Bali.


Sepanjang perjalanan, Kenzie terus mengajak kedua orang tuanya berbicara. Dia membuat Andreas dan Nisa akhirnya berinteraksi, bahkan terkadang kompak saat memberikan pengertian pada putra mereka.


"Kita ke hotel dulu." Ucap Andreas yang sudah memesan taksi.


"Kamu pesan dua kamar.?" Tanya Nisa.


"1 kamar VIP. Jangan khawatir, ada 2 kamar tidur di dalam." Jawab Andreas. Dia sengaja memesan 1 ruangan yang memiliki 2 tempat tidur dalam ruangan berbeda, karna tidak mau membuat Nisa kewalahan seandainya Kenzie meminta mereka untuk tidur bertiga.


Nisa hanya mengangguk, sepertinya dia tidak keberatan berada dalam 1 kamar bersama Andreas.

__ADS_1


Mungkin karna selain yakin jika tak akan terjadi apapun di antara mereka, Nisa juga ingin membuat Kenzie merasakan liburan bersama yang sesungguhnya.


"Zie tidur.?" Tanya Andreas lirih. Nisa mengangguk.


Putranya itu tertidur saat mereka hampir sampai di hotel.


Turun dari taksi, mereka lalu bergegas masuk ke hotel. Andreas meminta tolong pada petugas hotel untuk membawakan koper miliknya ke dalam kamar.


Dia lalu beralih pada Nisa yang tengah duduk sembari mendekap Kenzie dalam pangkuannya.


"Sini biar aku yang gendong." Andreas mengambil Kenzie dari dekapan Nisa.


Putranya itu masih terlelap. Mungkin lelah dalam perjalanan, belum lagi dia tidak bisa diam dan terus berbicara.


Nisa mengekori Andreas di belakang, menatap punggung lebar Andreas yang tengah menggendong putra mereka.


Nisa mengakui bahwa sebenarnya Andreas laki-laki yang baik. Bahkan dulu setelah mereka menikah, Andreas tak pernah berbuat kasar dan selalu memperlakukannya dengan romantis.


Mungkin keadaan yang membuat Andreas terpaksa untuk melakukan semua ini. Dia melawan kata hatinya sendiri hanya demi ambisi untuk balas dendam.


Dan pada kenyataannya bukan kebahagiaan yang di rasakan oleh Andreas setelah berhasil membalaskan dendamnya. Pria itu justru terlihat hancur dan kini menderita dengan sakit yang diderita selama ini.


Ada perasaan iba dan berharap Andreas tidak ketergantungan obat itu lagi. Dia ingin Andreas kembali menjalani hidupnya jauh lebih baik dari saat ini.


Tapi sayangnya perasaan iba itu tak lantas membuat Nisa berubah pikiran untuk kembali pada Andreas.


...****...


“Mau makan siang di sini atau diluar nunggu Kenzie bangun.?" Tawar Andreas setelah membaringkan putranya.


"Di luar saja, pasti Zie tidak akan lama tidurnya." Nisa menjawab seraya menarik 1 koper miliknya dan meletakkannya di dekat kamar mandi.


Kamar hotel yang di pesan Andreas cukup besar dengan 2 ruang tidur yang dan kamar mandi masing-masing. Bahkan ada privat pool.


"Ya sudah, kalau begitu aku mau berenang dulu. Panggil saja kalau Zie sudah bangun." Pinta Andreas, pria itu lalu bergegas keluar dari ruang tidur Nisa untuk berenang di dalam kamar hotel tersebut.


Selang 20 menit setelah Andreas keluar, Kenzie terbangun dan langsung mencari keberadaan Papinya itu.


"Papii,,, huaaaa,,,," Kenzie sampai menangis, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan untuk mencari Andreas.


Nisa yang sedang berada di kamar mandi buru-buru menghampiri putranya.


"Papi jangan pelgi,,," Teriak Zie lagi sembari menangis.


"Zie,,, jangan menangis sayang. Papi tidak pergi,"

__ADS_1


Nisa meraih Kenzie dan menggendongnya. Hatinya tiba-tiba teriris melihat tangis pilu Kenzie yang terlihat ketakutan karna berfikir Andreas pergi.


"Papi sedang berenang sayang. Ayo kita ke Papi,," Nisa mencoba menenangkan putranya. Dia membawa Zie keluar untuk di bawa ke Andreas agar putranya itu berhenti menangis.


Dari balik pembatas kaca, Andreas tampak sedang menenggelamkan diri di dalam kolam renang.


Kenzie yang melihat keberadaan Papainya seketika tangisnya reda, kini dia menunjuk ke arah Andreas dan meminta untuk ikut berenang.


Nisa membawa Kenzie ke area kolam. Melihat kedatangan mereka, Andreas tampak mengukir senyum dan berenang menepi.


"Zie mau berenang.? Sini sama Papi." Andreas mengulurkan kedua tangannya pada sangat putra yang masih berada dalam gendongan Nisa.


"Mau Papi,, Zie mau belenang,," Kenzie bergerak meminta turun.


"Sebentar sayang, lepas dulu celananya." Nisa menurunkan Kenzie dan melepaskan celana jeans putranya.


Andreas lalu menggendong Kenzie dan memasukkan Kenzie ke kolam.


"Hati-hati Ndre," Ujar Nisa yang tampak cemas. Padahal putranya sangat antusias bahkan ingin lepas dari pegangan Andreas.


Andreas mengangguk paham.


"Kamu tidak mau berenang juga.?" Tanyanya.


"Tidak, aku tunggu disini saja." Jawab Nisa yang memilih duduk di tepi kolam dengan kedua kaki di masukkan ke dalam air.


"Lebih seru kalau berenang bertiga, ayo,,," Tiba-tiba Andreas menarik tangan Nisa hingga membuat Nisa tercebur ke dalam kolam.


Andreas tampak terkekeh kecil, sementara itu Nisa tampak cemberut setelah muncul ke permukaan.


"Andreas kau,,,!" Nisa memukul kencang lengan besar Andreas karna ulah jahilnya.


"Momi,, jangan nakal.!" Zie langsung menegur Nisa dengan menggerakkan telunjuknya.


Nisa sontak kaget lantaran memukul Andreas di depan Kenzie. Dia benar-benar reflek dan tidak berfikir jauh.


"Maaf Zie, Momi janji tidak akan nakal lagi." Ujarnya yang tampak merasa bersalah dan takut Kenzie akan menirunya.


"Tidak sayang, Momi tidak nakal. Momi sedang menepuk nyamuk di tangan Papi." Berbeda dengan Nisa yang langsung mengakui kesalahannya, Andreas justru ingin membuat Kenzie tidak berfikir kalau Nisa telah memukulnya.


"Mana nyamuknya.?" Tanya Kenzie dengan wajah polosnya, dia sampai mencari keberadaan nyamuk itu di tangan Andreas yang tadi di pukul oleh Nisa.


Andreas dan Nisa sontak saling pandang. Keduanya hampir saja tertawa karna tingkah lucu Kenzie.


"Nyamuknya sudah terbang." Jawab Andreas.

__ADS_1


"Sekarang kita berenang saja. Sini Papi ajarin Zie berenang."


Andreas dan Zie jadi sibuk berdua. Sementara itu Nisa memilih menepi, memperhatikan keduanya yang tampak bahagia.


__ADS_2