Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 71


__ADS_3

Irene bersimpuh di lantai, tepat di samping ranjang yang berisi tubuh Nyonya Ambar yang sudah tak bernyawa.


Dokter sudah berupaya semaksimal mungkin, namun Nyawa Nyonya Ambar tak bisa tertolong.


Rupanya sakit jantung yang di alami oleh Nyonya Ambar sudah lebih dari 1 tahun yang lalu, dan selama itu dia rutin mengkonsumsi obat.


Kabar tentang kebenaran pembunuhan berencana yang di lakukan oleh suaminya, membuatnya syok dan stress hingga mengakibatkan serangan jantung.


Tangis Irene pecah memenuhi ruang ICU. Dunianya seketika terasa gelap dan hancur. Di waktu yang bersamaan, dia harus kehilangan sang Mama untuk selama-lamanya dan harus menyaksikan sang Papa di bawa oleh pihak kepolisian dengan kasus pembunuhan berencana.


"Jangan tinggalkan Irene Mah,, siapa yang akan menyayangi Irene jika Mama pergi."


"Papa sudah di bawa pihak kepolisian untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kenapa Mama tega membiarkan Irene sendiri." Irene histeris. Tak ada yang lebih menyakitkan dan hancur selain kehilangan orang tua untuk selama-lamanya.


Sementara itu, Devan bergegas meninggalkan perusahan setelah mendapatkan kabar duka dari salah satu pekerja di rumah Tuan Frans.


Padahal 3 jam yang lalu saat dia mengantarkan Irene ke rumah mertuanya itu, keadaan masih baik-baik saja.


Tapi rupanya musibah besar telah terjadi hanya dalam waktu 3 jam.


Devan bahkan tidak tau saat Mama mertuanya di larikan ke rumah sakit. Tapi sekarang mendapati fakta jika Mama mertuanya pergi untuk selama-lamanya.


Begitu juga dengan Papa mertuanya yang kini sudah di bawa oleh polisi.


Devan terlihat sangat cemas, dia mengkhawatirkan kondisi Irene yang sedang mengandung buah cinta mereka.


Saat ini Irene pasti dalam keadaan hancur, Devan tentu tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada kehamilan istrinya.


Sampainya di rumah sakit, Devan setengah berlari menuju ke ruang ICU.

__ADS_1


Dia menghampiri Irene yang sedang bersimpuh di lantai sambil terus menangis. Wanita yang selalu menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja, kini terlihat sangat hancur dan rapuh.


Beberapa perawat dan dokter, bahkan pekerja rumah Tuan Frans yang menemani Irene tak menangani Irene. Wanita itu tak mau berhenti menangis, juga tidak mau beranjak dari sana dan menahan ranjang itu.


Devan membungkuk, dia merangkul kedua bahu Irene untuk mengajaknya berdiri tanpa mengatakan apapun. Irene menolah, kehadiran Devan seolah menjadi penerang dalam kegelapan. Devan adalah cahaya di tengah-tengah kegelapan yang di rasakan oleh Irene.


Irene menuruti ajakan Devan. Perlahan wanita hamil itu berdiri dan langsung memeluk Devan.


Tangisnya kembali pecah. Tangis yang begitu menyayat hati untuk siapapun yang mendengarnya. Bahkan Devan sekalipun dibuat hanyut dalam kehancuran yang dirasakan oleh istrinya itu.


Walaupun dia belum pernah merasakan kehilangan orang tua untuk selama-lamanya, namun Devan bisa merasakan seperti apa hancurnya seorang anak yang di tinggal pergi oleh orang tuanya untuk selamanya.


Karna dulu dia sering mendapat cerita dari Nisa. Cerita bagaimana sakit dan hancurnya kehilangan kedua orang tua disaat dirinya masih sangat membutuhkan sosok mereka.


"Tenanglah,, kamu harus ingat dengan anak kita."


"Aku tau ini berat untuk kamu, tapi semua sudah terjadi."


"Percayalah, Mama akan bahagia dan mendapatkan tempat terbaik di sisiNya."


Devan terus berusaha untuk menenangkan Irene. Dia juga menyuruh orang untuk mengurus pemakaman Mama mertuanya.


...****...


"Terimakasih Tuan Andreas,, senang bekerjasama dengan Anda." Seorang CEO perusahaan di kota Bandung mengulurkan tangannya pada Andreas setelah 2 jam membahas masalah kerja sama yang akan mereka lakukan beberapa bulan mendatang.


"Sama-sama Tuan Williams. Semoga kerja sama kita terus berlanjut." Andreas menyambut ukuran tangan Tuan Williams.


Dari meja lain, Nisa masih saja memperhatikan suaminya yang terlihat sangat gagah dan berkharisma sebagai seorang pemimpin perusahaan.

__ADS_1


"Tentu saja. Bekerja sama dengan perusahaan Chandra's Group adalah impian saya sejak dulu."


"Anda benar-benar hebat. Di usia yang masih sangat muda, mampu menjalankan perubahan dengan baik." Pujinya dengan sorot mata penuh kekaguman pada sosok pemimpin muda itu.


“Sebenarnya saya ingin mengajak putri saya hari ini, tapi dia harus terbang ke Paris untuk urusan bisnis."


"Putri saya terlalu sibuk dengan bisnisnya sampai lupa kalau usianya sudah cukup untuk menikah." Tuturnya.


Tuan Williams sengaja membahas tentang putrinya di depan Andreas lantaran dia sangat berharap putrinya bisa menikah dengan Andreas. Meski Tuan Williams sudah tau bahwa Andreas sudah menikah.


Nisa tampak menajamkan tatapannya pada sosok laki-laki paruh baya yang jelas-jelas sedang berupaya untuk mendapatkan Andreas sebagai menantunya.


Padahal Andreas sudah mengenalkan dirinya di Tuan Williams sebagai istrinya, tepat saat Tuan Williams baru sampai di restoran itu.


Andreas melirik Nisa, dia yakin Nisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Tuan Williams. Karna meja dia dan meja Nisa hanya berjarak 3 meter saja dalam ruangan yang sama tanpa pembatas.


Melihat Andreas yang menatap cemas ke arahnya, Nisa mengukir senyum tipis. Dia kemudian pura-pura menyantap makan siangnya lagi.


"Kalau anda tidak keberatan, saya bisa mengenalkan salah satu teman saya pada putri anda." Jawab Andreas.


Mendengar jawaban yang tidak diinginkan, Tuan Williams hanya mengukir senyum tipis. Dia kemudian pamit pergi dari sana.


"Mau kemana lagi kita.? Apa masih ada pertemuan di tempat lain.?" Tanya Nisa saat Andreas menghampiri dan duduk di depannya.


"Kenapa jadi kamu yang semangat.?"


Andreas mengulum senyum. Dia mengambil minuman milik Nisa dan meneguknya tanpa permisi.


"Hari hanya 1 kali pertemuan, jadi kita punya banyak waktu untuk bersenang-senang." Andreas menggoda dengan mengedipkan matanya. Hal itu membuat Nisa mencebik kesal. Dia tau kemana arah pembicaraan Andreas.

__ADS_1


__ADS_2