
Mella terduduk lemas. Dia baru saja mendengar fakta yang menyakitkan untuk Nisa, tapi entah kenapa hatinya juga ikut merasakan sakit. Ada perasaan marah dan tidak terima sahabatnya akan di perlakukan buruk oleh Andreas.
Semua ini adalah jawaban dari kekhawatiran Mella saat Nisa memutuskan untuk mengakhiri balas dendamnya terhadap Andreas.
Sejak awal Mella sudah berulang kali meningkatkan Nisa untuk berfikir ulang, tapi Nisa tetap bersikeras dan sekarang malah menaruh hati pada Andreas. Bahkan saat ini Nisa tengah mengandung darah daging Andreas.
"Tidak hanya sekali Andreas bicara seperti ini padaku." Tutur Devan seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
Ponsel yang baru saja dia gunakan untuk menunjukkan bukti pada Mella tentang rekaman suara milik Andreas beberapa jam yang lalu.
"Aku menyadari kesalahanku karna sudah meninggalkannya dulu."
"Sekarang aku tidak akan mengulangi kesalahan dengan membiarkan Nisa jatuh ke tangan Andreas yang hanya menikahi Nisa untuk balas dendam padaku."
Mella masih bungkam sampai saat ini. Dia menatap Devan, perlahan mulai menaruh harapan pada laki-laki di depannya itu. Karna saat ini tidak ada yang bisa membantu Nisa untuk keluar dari permasalahan itu selain Devan.
Sedangkan Mella merasa tidak punya power untuk membantu dan melindungi Nisa serta bayi dalam kandungan sahabatnya itu.
Dia juga tidak tua bagaimana caranya menghadapi Andreas. Jalan satu-satunya yang bisa dia ambil adalah mempercayakan semuanya pada Devan demi keamanan dan kebaikan Nisa.
"Sebenarnya saat ini Nisa,,,"
Mella terpaksa memberi tau keberadaan Nisa, dia juga mengatakan yang sebenarnya tentang keadaan Nisa saat ini yang tengah mengandung darah daging Andreas.
"Aku mohon selamatkan Nisa,," Suara bergetar. Dia benar-benar takut terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.
Terlalu banyak penderitaan telah di lewati oleh Nisa. Mella tidak mau Nisa kembali merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan.
Dia ingin melihat Nisa bahagia dengan calon anaknya.
"Lindungi Nisa. Sudah cukup luka yang dia rasakan selama ini. Tolong biarkan dia bahagia,," Mella memohon. Wanita itu sampai mengatupkan kedua tangannya pada Devan, menangis di hadapan laki-laki yang dia percayai untuk membantu Nisa.
...*****...
"Jadi kamu pulang malam.?" Tanya Nisa begitu sambungan telfonnya terhubung.
Dia langsung menelfon Andreas setelah membaca pesan dari suaminya itu.
Nisa hanya ingin memastikan kalah Andreas benar-benar pulang malam.
Di seberang sana, Andreas sedang mengecek laporan perusahaan. Setelah itu dia akan pergi ke luar kota untuk meninjau proyek barunya.
"Hmmm. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Jawabnya. Andreas berusaha fokus mengecek laporan sembari berbicara dengan istrinya lewat telfon.
__ADS_1
"Kamu masih di tempat Mella.?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, Nisa terdiam beberapa saat sampai akhirnya dia berbohong pada Andreas dengan mengatakan masih berada di ruko.
"Mungkin nanti sore aku baru pulang,," Tambahnya.
"Tidak masalah, asalkan minta supir untuk menjemputmu." Lagi-lagi Andreas tidak mau membiarkan Nisa pulang sendiri menggunakan taksi.
"Aku bisa pakai taksi Andreas, tidak apa." Nisa tentu saja menolak. Karna kalau dia menyuruh supir untuk menjemputnya, maka Andreas akan tau kalau dia sedang berada di rumah sakit.
"Lagipula,,,
Suara pintu yang terbuka membuat Nisa menghentikan ucapannya. Manik matanya membulat sempurna kala melihat Devan yang muncul dari balik pintu.
"Lagipula apa.?" Suara Andreas di seberang sana menyadarkan Nisa kalau saat ini dia sedang menelfon dengan Andreas.
"Maaf sayang,, Mella memanggilku."
"Aku akan telfon lagi nanti. Byee,,," Nisa buru-buru mematikan sambungan telfonnya tanpa memberikan kesempatan pada Andreas untuk berbicara sebelum panggilan telfonnya berakhir.
Nisa menatap datar ke arah Devan. Mantan tunangannya itu baru saja menutup pintu dan kini berjalan ke arahnya. Tatapan matanya sulit di artikan, namun yang pasti masih ada cinta dia mata Devan. Nisa hapal betul dengan tatapan itu, walaupun terlihat tidak seperti dulu lagi.
"Darimana kamu tau aku disini.?" Nada bicara Nisa terdengar tidak nyaman akan kehadiran Devan.
Jawabannya membuat Nisa paham siapa yang di maksud oleh Devan.
Nisa akan meminta penjelasan pada Mella setelah ini. Kenapa sahabatnya itu sampai memberitahu Devan. Sedangkan dia sudah melarang Mella untuk tidak mengatakan pada siapapun, termasuk Andreas. Tapi Mella malah beritahukan orang lain.
Devan menarik kursi, dia meletakkannya di samping ranjang Nisa dan duduk di sana.
"Bagaimana keadaan kamu.?" Tanya Devan. Suara dan tatapannya masih tetap sama seperti dulu. Teduh dan penuh perhatian.
"Kamu bisa lihat sendiri aku baik-baik saja." Nisa menjawab datar.
Devan tampak mengulas senyum tipis.
"Syukurlah. Aku senang kalian baik-baik saja." Ucapnya lega. Dia akan merasa sakit jika terjadi sesuatu pada Nisa dan kandungannya.
Nisa menajamkan pandangannya. Rupanya selain memberitahukan Devan kalau dia sedang di rawat di rumah sakit ini, Mella juga mengatakan pada Devan tentang kehamilannya.
Nisa bisa menangkap dari ucapan Devan yang menyebutkan kata kalian yang di tujukan untuk lebih dari 1 orang. Karna jika Devan belum tau, pasti hanya akan menyebutkan kamu saja.
"Bagaimana dengan Andreas, apa dia sudah tau tentang kehamilan kamu?"
__ADS_1
Nisa tampak menghela nafas berat. Devan benar-benar sudah tau tentang kehamilannya. Padahal Nisa berharap Andreas yang akan tau lebih dulu tentang kehamilannya.
"Aku belum sempat memberitahukannya. Andreas masih sibuk." Jawab Nisa. Sebenarnya bukan belum sempat, tapi dia ingin membuat kejutan yang tidak akan bisa di lupakan oleh Andreas.
"Bagus kalau begitu. Memang sebaiknya kamu tidak perlu memberitahu Andreas." Sahut Devan cepat. Nada bicaranya sedikit meninggi.
"Karna kalau dia tau tentang kehamilan kamu, dia akan semakin bahagia bisa melancarkan rencananya untuk membuat kamu hidup menderita dengan merebut anak kamu setelah lahir." Tutur Devan. Ada kemarahan yang bercampur iba saat mengatakan semua itu di depan Nisa.
Wanita sebaik Nisa hanya akan di jadikan korban oleh Andreas hanya karna ingin membalas rasa sakit hati padanya.
Nisa tersenyum sinis mendengar penuturan Devan.
"Omong kosong macam apa itu." Ujarnya tak percaya. Dia yakin kalau Devan hanya ingin membuatnya benci pada Andreas.
Karna sejak awal Devan selalu mengatakan kalau Andreas menikahinya hanya untuk balas dendam.
Tapi pada kenyataannya sampai detik ini Andreas justru terlihat semakin mencintainya.
"Kamu bisa mendengarnya sendiri kalau tidak percaya." Devan kemudian mengambil ponselnya dan memutar rekaman suara dari percakapan dia dan Andreas.
"Kemana saja kamu.?!"
"Katakan saja apa yang kalian butuhkan."
"Kau.!!"
"Sesibuk apa kamu sampai tidak bisa di hubungi.?!"
"Aku sibuk meniduri mantan tunanganmu."
"Tutup mulutmu.!!"
"Wanita mu mencintaiku dan tergila-gila pada ku di atas ranjang."
"Setelah aku mencampakkannya, apa yang akan kamu lakukan Devan.?!"
"Siapa yang akan kamu pilih, istrimu atau cinta masa lalu mu."
"Kamu tau sendiri Nisa wanita baik-baik, dia tidak akan mau kembali dengan laki-laki yang sudah beristri."
"Kamu yakin akan mencampakkan Nisa.?!"
"Aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidupmu.!!"
__ADS_1